Dibaca : 27533 x
Catatan RefleksiJumat, 10 Februari 2017 Yeremia 1: 1-10 MASIH ADA ALLAH
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Narasi tentang pemilihan Yeremia merupakan peristiwa luar biasa jika ditempatkan dalam relasi Allah dan manusia. Relasi Allah-manusia adalah relasi perjanjian yang dibangun berdasarkan inisiatif Allah sendiri. Manusia yang diciptakan Allah adalah manusia dengan kedudukan yang tinggi dibandingkan cipataan yang lain.
Dalam relasi yang demikian maka kehadiran manusia selalu diposisikan sebagai bagian dari karya Allah.
Dengan pemahaman yang demikian maka pemilihan Yeremia bukanlah sesuatu yang bergantung kepada Yeremia sendiri tetapi semata-mata bergantung pada Allah. Jika Yeremia menolak pemilihan tersebut hal ini berhubungan dengan betapa beratnya pekerjaan. Sesuatu yang seharusnya ditempatkan pada posisi istimewa sebagai manusia ciptaan Allah. Bukankah semakin istimewa seseorang semakin besar juga tanggung jawabnya.
Hal ini menunjukkan bahwa keistimewaan dalam kasus ini bukan karena Yeremia istimewa tetapi sebab Allah telah mempercayakan tugas yang istimewa.
Maka melalui kisah pemilihan Yeremia ini hendak diketengahkan dua aspek mendasar:
Allah adalah Allah yang memilih dalam kasih karunia-Nya. Ia yang memilih dan menetukan sebab Ia kenal siapa yang dipilih-Nya. Ia mengenal manusia secara utuh dan menyeluruh.
Ia mengenal manusia yang adalah ciptaan-Nya. Ia mengenal dan karena itu mempercayakan tugas kepada siapa yang dikenal-Nya. Bahwa tugas itu bukanlah tugas sederhana memang benar tetapi keterlibatan-Nya melampaui ketidaksederhanaan tugas tersebut. Dalam konteks inilah panggilan dan pengutusan menjadi begitu penting.
Bahwa Yeremia dikuduskan (ayat 5) merupakan pernyataan bahwa setiap cipataan-Nya diarahkan dan ditujukan secara khusus membelakukan kehendk-Nya. Maka setiap orang yang mengenal-Nya berada dalam tugas dan panggilan tersebut.
Maka menjadi utusan yang kudus bukanlah untuk kehendak manusia tetapi untuk kehendak Allah. bahwa manusia mengalami pergumulan dalam melaksanakan kehendak Allah memang benar tetapi manusia perlu terus mengingangat bahwa Allah mengenalnya.
Ini berarti menjadi seorang pelayan tugas bukanlah tugas yang sederhana karena ia harus menghayati kekudusan panggilan-Nya.
Ia harus menjaga dirinya dari tarikan yang hendak mencemarkan panggilan dan pengutusan tersebut. Ia kudus sebab kehadirannya dalam makna kekudusan kehendak Allah. Paulus sendiri mengemukakan bahwa yang tujuan mengenal Allah merupakan sesuatu yang bermakna (Kolose 1:9). Ia memanggil manusia memasuki relasi yang kudus dengan-Nya berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya (2 Tim. 1:10). Maka tidak ada ruang bagi manusia untuk MERASA TAKUT dengan panggilan-Nya tetapi juga tidak ada ruang bagi manusia untuk MERASA PONGAH dengan panggilan dan pengutusan tersebut.
Di sisi lain kepada Yeremia dikemukakan bahwa tugas besar yang ipercayakan kepadanya secara ideal adalah menghadirkan PEMBARUAN. Sebuah model kehidupan yang bertumpu pada perkataan Allah melalui Yeremia (ayat 9). Yeremia menjadi pemberita Firman Allah yang memperbarui kehidupan manusia. Mereka yang terpuruk dalam pembuangan perlu mendapat dorongan untuk keluar dari keputusasaan. Mereka yang melakukan penindasan perlu menyadari adanya tangan Tuhan yang kuat menundukkan kejahatan.
Seluruh karya manusia dalam hubungan dengan Allah bertumpu pada berita yang disampaikan. Berita bermutu dan bukan "hoax". Berita tipu-tipu yang penuh dengan kebohongan sistematis. Bilangnya melayani Tuhan tapi perilaku dalam keluarga tidak menunjukkan sikap pelayanan tersebut. Maka perlulah seorang pelayan yang akan menjadi pemberita kabar sukacita menjaga mulutnya dari berita yang merendahkan hakikat pelayanan itu sendiri.
Sebaliknya seperti dikatakan pemazmur: Mulut orang benar mengucapkan hikmat, c dan lidahnya mengatakan hukum (Mazmur 37:30) menunjukkan bahwa betapa berkualitasnya perkataan seorang yang dipanggil dan diutus Allah.
Maka hayatilah panggilan dan pengutusan bukan dengan rendah diri tetapi rendah hati bukan dengan lidah yang menipu tetapi penuh hikmat agar pekerjaan-Nya semakin nyata dan Nama Tuhan semakin dimuliakan. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |