aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 16372 x

Catatan Refleksi
Jumat, 31 Desember 2021
Yohanes 8: 30-36
PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUN

PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUN

Sahabat-sahabat yang Tuan Yesus kasihi,



Berada diakhir tahun 2021bermakna ganda sebab hal ini berarti ada tahun yang ditinggalkan dan ada tahun yang akan disambut. Berada di akhir tahun 2021 sekaligus memperlihatkan adanya perjalanan waktu yang secara konstan menjadi bagian manusia. Sekalipun batas fisik antar tahun tidak pernah ada namun batas terpetakan dalam pikiran dan perasaan yang jernih dan bening. Kecerdasan dalam memaknai akhir tahun diperlukan agar perubahan angka tahun tidak hanya dalam gerak yang dingin dan tak bermakna tetapi sungguh menghadirkan kualitas manusia beriman yang terus menerus mengalami pertumbuhan.




Dalam perspektif inilah maka pengajaran melalui Yohanes 8: 30-36 yang kita renungkan akan sangat menolong dalam memandang akhir tahun 2021. Pengajaran yang dikemukakan dalam bacaan berkaitan dengan bagaimana seharusnya sikap seorang murid dalam mengolah imannya kepada Tuhan dan mentalitas orang percaya yang juga menentukan kehadiran sebagai budak atau sebagai anak. Hal ini penting sebab kehadiran Yesus dengan pengajaran-Nya memerlukan telaah yang mendalam sehingga tidak terjebak pada perilaku yang merendahkan karya-Nya. Pengajaran tersebut dapat ditempatkan dalam dua kelompok.




Pertama ayat 30- 33. Percaya kepada Yesus adalah satu hal dan tetap dalam firman-Nya adalah hal lain. Percaya saja tidak cukup sebab setan juga percaya (band. Yakobus 2:19) karena itu undangan Tuhan agar berdiam dalam firman-Nya menegaskan kapasitas sebagai murid. Seorang murid yang secara teratur dan terus menerus belajar adalah seorang murid yang semakin dimatangkan oleh proses pembelajaran.

Pembelajaran inilah yang akan membentuk percaya tidak sebagai sebuah konsep saja tetapi sebagai sebuah tindakan. Percaya tidak berhenti pada perasaan tetapi berlanjut pada kehendak, kehendak untuk tetap tinggal dalam firman-Nya. Berawal dari sinilah maka seorang murid dapat memahami kebenaran yang memerdekakan karena hanya dalam pemahaman demikian maka berdiam dalam firman-Nya menjadi nyata. Kebenaran tidak dipertanyakan dengan ‘apakah’ seperti pertanyaan Pilatus di Yohanes 18:38. Dengan pertanyaan apakah maka akan muncul berbagai versi kebenaran. Kebenaran dalam berbagai versi dan kepentingan akan menurunkan derajat kebenarn itu sendiri. Sebaliknya jika ditanyakan ‘SIAPAKAH’ kebenaran? Maka jawabannya hanya satu yakni Yesus Kristus (Yohanes 14:6). Jadi untuk menjadi merdeka haruslah memiliki semangat seorang murid yang dengan tekun terus menerus tinggal dalam Firman-Nya sehingga mengalami kemerdekaan. Hal ini penting sebab dilandasi dengan pemahaman bahwa kuasa dosa demikian mematikan. Dosa yang demikian kuat daya cengkeramnya adalah ketika seseorang tidak lagi merasa berdosa sehingga merdeka untuk melakukan kejahatan (band. Galatia 5: 13). Seseorang yang dimerdekakan adalah seseorang yang cukup kuat untuk berdiri sendiri dan menentukan sikap untuk hidup bersama sang Kebenaran yakni Yesus Kristus.



Dalam konteks akhir tahun maka dapat dikemukakan bahwa setiap warga gereja perlu mewaspadai gerak setan dengan ajarannya yang nampak baik namun menyesatkan. Bahwa yang penting percaya saja sudah cukup merupakan pintu masuk pada kehidupan yang jauh dari kebenaran. Setiap warga gereja perlu terus mempertanyakan apakah ‘aku sudah hadir sebagai murid?’ dan ‘apakah aku sudah merdeka dalam melakukan kebenaran?’.


Hal ini penting sebab dengan sudut pandang demikian maka mengakhiri tahun baru tidak dengan semangat mengagungkan dosa, semangat hidup di luar kebenaran yakni dengan melupakan karya Allah (ayat 33). Pernyataan orang Yahudi menunjukkan bahwa mereka bebal dan tidak mau belajar kebenaran dan hidup dengan kebenaran versi sendiri yang nampak benar namun jauh dari kebenaran.

Dengan menyatakan bahwa mereka tidak pernah menjadi hamba siapapun dengan segera menunjukkan bahwa mereka mengabaikan pembebasan dari Mesir dan kini berada dalam ikatan dosa. Hal ini penting agar setiap keluarga dapat mensyukuri akhir tahun dengan semangat seorang murid sehingga tiba pada pernyataan terpujilah Tuhan. Sebagai seorang murid yang terus hidup bersama sang kebenaran yakni Yesus maka tahun 2021 diyakni sebagai tahun kemerdekaan. Tahun dimana seluruh karya Allah yang demikian kuat tetap dirasakan kehadiran-Nya (band. Mazmur 139:18).

Ketika pengalaman dengan peristiwa buruk dialami tidak membuat keluarga terbenam dalam keputusasaan. Ketika peristiwa sukacita dialami semakin mengokohkan pengakuan keluarga bahwa bersyukur adalah gaya hidup. Hal ini penting agar setiap akhir tahun tidak dimaknai secara seremonial kering dan tanpa arti tetapi menjadi ruang pembelajaran bahwa kehidupan yang dimerdekakan oleh Yesus haruslah dihargai dan ditanggapi dengan tindakan yang penuh syukur.



Kedua ayat 34-36. Harus dipahami oleh setiap orang percaya tentang perbedaan antara hamba dan anak. Istilah hamba dosa atau budak dosa yang dikemukakan Yesus merujuk pada sikap yang setia dan taat kepada kuasa dosa dan hidup dengan norma-norma dosa. Apakah yang perbedaan antara hamba dosa atau budak dosa dengan anak? Hamba dosa atau budak dosa adalah orang-orang yang pasti mengalami maut sebab keterpisahan dari-Nya adalah konsekuensi dari dosa. Sikap yang merendahkan kuasa dosa terwujud dalam kehidupan yang tidak tertib, tidak teratur.

Dosa memang punya sifat seperti itu yakni memantulkan pola hidup yang jauh dari ketertiban (tertib-ataktos (Yun) yang berarti malas, suka urus urusan orang lain, mengerjakan yang sia-sia, tidak disiplin bahkan suka memberontak). Seorang hamba atau budak dosa bisa saja melakukan banyak hal tetapi dilakukan seperti mesin yang bergerak otomatis dan reaktif. Seorang hamba atau budak dosa tidak terlindungi sebab berada di luar rumah artinya tidak menjadi bagian dari rumah atau keluarga.



Berbeda dengan anak yang punya status istimewa di tengah keluarga sebab seorang anak dikasihi oleh sang Bapa. Anak bisa berbuat dosa tetapi tidak kehilangan rasa berdosa sehingga mengambil keputusan untuk bertobat dan memohon ampun kepada Bapa yang setia menunggu (band. Lukas 15 : 21-24). Seorang anak tetap memiliki relasi yang kuat dengan orangtua, seorang anak punya tempat yang istimewa dihati sang Bapa. Maka kehadiran sebagai seorang anak yang berada dalam rumah adalah seorang anak yang terjamin kehidupannya.


Pada titik inilah dapat dijumpai sebuah pengajaran penting bahwa mengakhiri tahun 2021 dengan mentalitas budak dosa memang beda dengan mentalitas anak. Budak dosa tidak pernah mau hidup dalam kebenaran dan terus hidup dala kejahatan dan pasti berujung pada kematian. Berbeda dengan mentalitas anak yang berbalik kepada Bapa yang baik. Ini memperlihatkan bahwa di tahun 2021 kita bisa saja berbuat dosa tetapi apakah kita mau menutup tahun 2021 sebagai budak dosa atau sebagai anak. Jika sebagai budak dosa maka akhir 2021 tidak memiliki pesan apapun untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna. tetapi sebagai anak yang tahu siapakah sang Bapa akan mengakhiri tahun 2021 dengan penuh sukacita sekalipun dihadapkan dengan banyak peristiwa yang dihasilkan dari ketidakbenaran dan ketidaktertiban.


Maka marilah kita mengakhiri 2021 dengan semangat seorang anak yang mengalami pembenaran oleh Sang Bapa. Seorang anak yang tidak pernah canggung dengan kehidupan sebab memahami bahwa Sang Bapa tetap menjamin kehidupannya. Dengan begitu maka akhir tahun 2021 tidak dipahami sebagai tahun bencana tetapi tahun rahmat-Nya yang tidak berubah sekalipun dihadapkan pada bencana.


Selamat mengakhiri tahun 2021, maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin





Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Catatan Refleksi:

Selasa 7 April 2026
RUANG RINDU (Letto)

Jumat, 16 Agustus 2024
MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKA

Selasa, 21 Februari 2023
SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHA

Sabtu, 24 Desember 2022
DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTA

Sabtu, 04 Juni 2022
GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKES

Rabu, 07 Juli 2021
KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA

Rabu, 22 April 2020
NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPAN

Rabu, 13 Nopember 2019
HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIAN

Selasa, 29 Oktober 2019
TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)

Jumat, 06 September 2019
WARISAN UNTUK ANAK-ANAK KITA

Arsip Catatan Refleksi..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2)