Dibaca : 16029 x
Catatan RefleksiSelasa, 21 Februari 2023 Mazmur 62:8 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHA
 Ketika hidup pasangan memasuki usia 32 Th perkawinan maka kenyataan ini semakin memberi pemahaman bahwa Cinta tidak lagi tampil dengan bahasa tapi matang dan semakin mencerdaskan dalam tindakan. Dititik itulah diperlukan kesadaran ojo adiguna semakin memahami bahwa kehidupan menjadi ruang pembelajaran yang semakin menundukkan diri di hadapan-Nya. Maka cinta kita bukan lagi cinta dengan teori tetapi menjadi cinta yang tidak final dalam kesementaraan waktu namun final dalam kekekalan. Semakin mencintai berarti semakin tenggelam dalam kebebasan untuk menyatakan cinta yang memerdekakan yang dicintai. Maka semakin mencintai semakin menyadari cinta menundukkan semua keangkuhan. Aku mencintaimu dengan cinta yang semakin menundukkan aku pada kesadaran bahwa mencintaimu adalah anugerah-Nya. Janganlah lelah mencintaiku sebab dalam cintamu sayap-sayap kebanggaanku tidak lagi berkuasa. Aku mencintaimu dengan cinta yang membebaskan sebab sebagai pasangan dirimu memberi cinta yang memerdekakan. Terimakasih Gusti sang Sumber Cinta sebab hari ini Gusti mengajariku bahwa dalam cinta ada daya hidup yang luar biasa. Daya hidup yang memberi pengertian bahwa hidup untuk-Mu adalah cinta yang tak pernah menguap. Di sisi lain Suami-Istri yang berjanji untuk hidup bersama adalah suami-istri dengan keberanian mengakui keterbatasan diri dan kekuasaan Tuhan. Suami-istri yang berjanji akan meletakkan hubungan perjanjian tersebut dalam terang hubungan perjanjian dengan Tuhan. 16-Februari-1991 adalah waktu perjanjian dan perjalanan perjanjianpun dimulai. Jalan perjanjian tidak selalu cerah di tengah hamparan bunga tetapi juga gelap dengan badai yang menghantam. Jalan perjanjian tidak selalu mudah sebab kadang airmata menjadi peristiwa yang tidak terelakkan. Jalan perjanjian tidak selalu gundah sebab ada tawa sukacita keberhasilan melihat anak-anak yang semakin dewasa. Jalan perjanjian yang diperjuangkan di berbagai musim kehidupan semakin memperjelas siapakah yang memanggil dan mengutus suami-istri. Siapakah yang mendampingi, siapakah yang menegur, siapakah yang memulihkan, Tuhan Yesus. Kesadaran ini bermuara pada kepastian bahwa suami-istri bukan milik pasangan tetapi milik Tuhan. Maka suami-istri yang mengucap syukur adalah ungkapan syukur kolektif sebab perjalanan janji tidak pernah individual saja. Perjalanan perjanjian selalu melibatkan pihak yang membuat perjanjian yakni sumai-istri dan Tuhan Hantarlah kami memahami bahwa cinta kami semakin membebaskan karena Gusti Sang Sumber Cinta selalu mencintai kami. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan Tuhan jerih lelah tidak pernah sia-sia. Matur sembah nuwun Gusti.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Jumat, 06 September 2019 WARISAN UNTUK ANAK-ANAK KITAArsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |