Dibaca : 18866 x
Catatan RefleksiSelasa, 29 Oktober 2019 Mazmur 84 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)
 Gereja adalah persekutuan yang dipanggil dan diutus untuk menyampaikan kabar cinta Allah kepada semua mahluk. Dalam konteks ini maka kehadiran gereja tidaklah dibatasi oleh tembok dan waktu namun menemukan identitasnya yang agung dan penuh cinta di tengah perjumpaan dengan segala mahluk. Kekuatan cinta yang demikian seperti manusia yang sedang berziarah dalam gemuruh cinta yang kuat kepada Allah (band Maz 84). Cinta kepada Allah dan kepada sesama terwujud dalam tindakan yang menghidupkan dan bukan mematikan. Maka gereja selalu berada dalam antusiasme yang menjangkau dan mendampingi serta menunduk.
Gereja yang dikuasai oleh cinta Allah bukanlah gereja yang mengusung nilai cinta yang rentan terhadap peristiwa dan rapuh dalam gempuran masalah. Gereja yang berhadapan dengan arus keduaniawian ala Tolstoy adalah gereja yang tidak bergegas dalam atraksi kehidupaan yang penuh pengkhianatan tetapi tampil anggun seperti seorang mempelai perempuan yang berjalan dengan elok dan penuh pesona.
Renungan tentang cinta menurut Tolstoy dapat berujung pada pemikiran yang penuh dengan dinamika. Cinta bukanlah sebuah ungkapan sederhana dalam pandangan Tolstoy namun dipenuhi dengan kontradiksi antara setia dan pengkhianatan, transenden dan imanen, kekal dan sementara. Cinta tidak memiliki ketahanan untuk "keluar" menjangkau sesama sebab lebih berpusat pada diri sendiri dan lingkaran terdekat.
Cinta adalah soal masa kini sebab dimasa depan cinta tidak ada dan orang yang tidak mewujudkan cinta dimasa kini adalah orang yang tidak memiliki cinta dimasa depan.
Jika cinta ala Tolstoy ini menjadi ruh dari gereja maka gereja dapat terpapar oleh idealisme semu dan berujung pada pemujaan diri. Gereja yang demikian bukanlah perempuan yang tangguh seperti Rut dan Naomi atau seperti Tan Chen Nio (ibunda Stephen Tong).
Sebaliknya dalam Cinta yang dikerjakan oleh Yesus melalui sikap-Nya yang membungkuk memberi arti bagi gereja untuk dimungkinkan membawa keharuman melati yang sekalipun kecil membawa keharuman yang meluas. Gereja dalam perspektif cinta Yesus adalah gereja yang tidak berkhianat untuk 30 keping perak namun membalut luka hati yang diakibatkan perilaku Brutus.
GPIB adalah gereja yang bertumbuh dalam ruang hati Allah yang mencintainya dan tidak pernah lelah. Sampai diujung usia setiap pribadi disanalah dijumpai kekuatan cinta yang Agung dan mengagungkan -Nya. Cinta-Nya pada GPIB menjadi pendorong untuk terus mengobarkan kepastian yang dijamin oleh-Nya. Sikap permisif harus rela diabaikan sebab akan digulung oleh kebenaran. Sejarah telah membuktikan betapa cinta-Nya bagi gereja akan terus bergema dihati setiap pribadi yang mencintai-Nya.
Selamat menyongsong 71 tahun GPIB, jangan lelah mencintai GPIB-Mu ya Allah sebab geraknya adalah gerak Cinta.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANJumat, 06 September 2019 WARISAN UNTUK ANAK-ANAK KITAArsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |