Dibaca : 28078 x
Catatan RefleksiJumat, 10 Februari 2017 Lukas 8: 40-48 SUAMI-ISTRI MERAWAT ASA MENUAI KUASA
 Pendahuluan
Manusia sebagai makluk ciptaan Allah memiliki nilai keutamaan yang bersifat mendasar sebagai ciptaan dari debu tanah dan nafas hidupnya dari Tuhan (Kej. 2:7). Manusia dalam konteks demikian memiliki dua dimensi penting yakni sebagai "makluk yang rapuh` dan sekaligus sebagai makluk yang "bergerak mewujudkan tugasnya dalam tuntunan kuasa Allah`. Makna simbolis dari debu tanah dan Roh Allah menunjukkan bahwa manusia senantiasa memiliki tujuan dalam hidupnya. Tujuan itulah yang digambarkan secara indah dalam narasi tentang tugas manusia sebagai persekutuan relasional di Kejadian 1:28. Harun Hadiwijono mengemukakan bahwa manusia adalah makluk yang tidak berasal dari dirinya sendiri tetapi diciptakan oleh Allah. Dengan demikian manusia memiliki hubungan yang kuat dengan Allah berdasarkan hubungan perjanjian yang bertolak dari inisiatif Allah .
Bertolak dari pemahaman di atas maka manusia menghayati dirinya sebagai makluk berpengharapan. Kisah tentang Nuh menunjukkan bahwa pengharapan itu bertumpu pada relasi yang aktif dalam gerak yang dinamis (Gen. 6: 9 - and Noah WALKED with God (KJV). Dalam tekanan yang bersifat destruktif keutamaan manusia nampak dari relasi vertikalnya. Pada titik demikian maka benih pengharapan merupakan "Harapan" adalah sebuah kata kunci yang dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru kita dapat temukan kata tersebut. Perjanjian Lama berbicara tentang orang beriman yang "berharap kepada Tuhan" (Mzm. 31:25; 33:22; 38:16; 39:8; 42:6.12; 43:5; 130:7; 131:3). Berulang kali dikatakan bahwa Israel berharap kepada Tuhan, Tuhanlah "pengharapan Israel" (Yer. 14:8.22; 17:13). Bersama pemazmur, orang Israel yang saleh itu berdoa: "Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah" (Mzm. 71:5). Dari kutipan terakhir, tampaklah bahwa pengharapan itu sekaligus menjadi ungkapan iman yang kuat (bdk. Yes. 12:2). Selain unsur kepercayaan, ada juga unsur eskatologis karena pengharapan itu "harapan untuk hari depan" (Yer. 31:17; bdk. Hos. 12:7). Allah bukan hanya tujuan harapan, tetapi juga sumbernya: "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku" (Mzm. 62:6; Yer. 29:11). Pengharapan ini memberikan perdamaian dan kepastian (lih. Mzm. 46:2-3; Ams. 28:1)
Pengharapan merupakan sikap yang khas bagi situasi antara "pembenaran" dan "keselamatan penuh", antara "sudah" dan "belum" (Rm. 8:20-25; 5:2-5; 1Kor. 1:7; Gal. 5:5; Flp. 3:20; 1Tes. 1:10). Karena itu, pengharapan memperlihatkan ketegangan antara pemberian Roh pada awal di satu pihak dan dalam kemuliaan kelak di lain pihak (1Kor.15:9). Dalam persekutuan Kristiani, orang beriman turut serta dalam pengalaman para leluhur bahwa pemenuhan janji itu pada gilirannya merupakan janji yang lebih besar lagi: "Kristus di tengah-tengah kamu -pengharapan akan kemuliaan" (Kol. 1:27). Pengharapan bukan kerinduan akan hidup di akhirat saja, melainkan kepenuhan iman yang memberi arti kepada hidup sekarang. Pengharapan merupakan ciri khas kehidupan Kristiani, sejauh dalam pengharapan itu sikap pokok hidup Kristiani, yaitu iman kepercayaan, menjadi konkret, khususnya dalam "ketekunan" yang berhubungan erat dengan kegembiraan dan keberanian (1Kor. 13:13; 1Tes. 1:3; 5:8; 1Kor. 13:7; Rm. 5:3-4; 8:25; 15:4; Rm. 1:13; 1Tes. 4:13; 2Kor 3:12).
MEMAHAMI PENGHARAPAN DALAM TEKS LUKAS 8: 40-48
Lukas pasal 8 diawali dengan aktifitas Yesus dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Dilihat dari letak geografis, ayat 40 mengatakan "ketika Yesus kembali", artinya di sini adalah bagian barat Danau Galilea, setelah Yesus kembali dari Gerasa di bagian timur danau tersebut. Yesus kembali ke daerah yang sangat dikuasai hukum-hukum Yahudi, melayani lagi dalam konteks orang-orang yang observing Jewish Law, dan Yesus sangat mengerti, ada kepekaan, akan hal itu. Tapi justru cerita ini mau menyatakan satu hal, bahwa kuasa Tuhan melampaui any kind of barrier,� termasuk juga religious barrier, batasan-batasan agama, yang sudah berjalan ribuan tahun dalam kehidupan bangsa Yahudi ini.
Yesus menyatakan kuasa Tuhan yang melampaui itu semua. Kita tidak boleh menafsir dalam pengertian Yesus sengaja mendesak sikap bahwa Dia berada di atas Taurat. Dalam konteks Matius mungkin kita membaca nuansa seperti itu, tapi Lukas sangat menekankan kontinuitas dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Yesus dan seluruh keluarganya digambarkan sangat taat kepada Taurat, contohnya Lukas mencatat peristiwa bar mitzvah yang menyatakan ketaatan keluarga ini pada Taurat. Maka kita musti melihat mujizat yang dicatat di sini dalam profil teologi Lukas.
Melalui peristiwa di Gerasa maupun badai yang diteduhkan oleh Yesus nampak bahwa Injil Kerajaan Allah tidak bisa dibatasi oleh berbagai penghalang (bariers). Injil Kerajaa Allah yang berkaitan dengan Iman menunjukkan bahwa hubungan pengharapan dengan Iman sangatlah erat. Sekalipun ketegangan bisa muncul tanpa di duga.
Dua pribadi dengan dua persoalan yang berbeda namun memiliki pengharapan yang sama yakni kesembuhan atau ekstrimnya kebangkitan dari kematian. Kematian demikian dekat dan dialmi keduanya yakni Yairus dan perempuan yang sakit pendarahan. Bagi Yairus kematian anak sama dekatnya dengan kematian diri sendiri. Harapan masa depan menjadi hilang. Bagi perempuan yang saki pendarahan, secara utuh digambar sudah "habis` baik harta maupun sosial dan religius. Bagi keduanya hidup menjadi demikian menegangkan bahkan harapanpun diperhadapkan dengan ketegangan (band. Pemazmur tentang Gembala Baik). Di sini ada 2 tokoh yang mempunyai kebutuhan yang sama. Pertama adalah Yairus, seorang kepala rumah ibadat, seorang yang saleh, dan di sini sama sekali tidak ada gambaran negatif seperti stereotip orang Farisi atau ahli Taurat. Dan dikatakan ia tersungkur di depan kaki Yesus, suatu tindakan penyembahan, kemudian memohon. Poin yang sederhana, kita lihat bahwa meski seorang digambarkan secara positif, saleh, itu bukan berarti tidak akan mengalami kesulitan yang menimpa kehidupan atau keluarganya.
Anak perempuannya yang satu-satunya, sakit dan hampir mati, berumur kira-kira dua belas tahun. Dan bukan kebetulan cerita berikutnya, perempuan yang juga sudah dua belas tahun sakit pendarahan tidak bisa disembuhkan siapa pun. Dua belas tahun ini melambangkan Israel, yang juga dalam keadaan hampir mati tanpa pertolongan kuasa Tuhan, melambangkan juga kehidupan Gereja yang hampir mati tanpa mengalami jamahan Tuhan. Ada 2 perspektif dalam cerita ini, baik dari sisi Yairus dengan pergumulan anak perempuannya yang berumur dua belas tahun, maupun perempuan yang sakit pendarahan selama dua belas tahun.
Yairus digambarkan dengan sikap yang sangat sopan, sikap hati yang benar, tersungkur, memohon kepada Yesus, bukan memaksa, untuk anaknya yang hampir mati. Tapi kemudian Lukas memasukkan cerita "perempuan dua belas tahun pendarahan, tidak berhasil disembuhkan siapa pun, maju mendekati Yesus dari belakang, menjamah jumbai jubah-Nya, seketika itu juga berhentilah pendarahannya" (ayat 43-48). Sebenarnya seluruh kejadian selesai di sini, tapi tidak sebab yang hendak ditekankan Lukas bukan soal ia menjamah jumbai jubah Yesus lalu sembuh, tapi pelajaran terpenting bukan di bagian itu melainkan keseluruhan ceritanya. Perempuan itu maju mendekati Yesus dari belakang, menjamah jumbai jubah-Nya. Perhatikan di sini, sebenarnya perempuan ini melakukannya diam-diam, ia tidak meng-interupsi pembicaraan Yesus dan Yairus, ada sikap yang menempatkan diri dengan tepat. Ia hanya sekedar maju, mendekati Yesus, dari belakang, dan menjamah jumbai jubah-Nya; setelah itu pendarahannya selesai, "ya sudah, bersyukur, silakan Yesus meneruskan urusan dengan Yairus", ia tidak mengganggu dalam hal ini. Tapi menariknya, Lukas mencatat: Yesus bertanya, "Siapa yang menjamah Aku?"
Ayat 47: Ketika perempuan itu melihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depan-Nya dan menceriterakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia seketika itu juga menjadi sembuh. Saya selalu tertarik dengan gambaran Alkitab yang menyatakan kelemahan manusia, ketidak sempurnaan manusia, seperti ini. Perempuan ini tidak berani mengakui ia sudah sembuh. Perhatikan di sini, ia tetap disembuhkan meskipun ia punya ketakutan seperti ini, meskipun ia tidak sempurna dalam kesaksiannya. Ia bahkan seperti menutupi. Tapi kita membaca, relasi itu tetap sudah dipulihkan, dan sedang dipulihkan, dan akan dipulihkan. Gambaran ketidak sempurnaan perempuan ini dicatat dengan jelas, ia gemetar, ia tahu bahwa telah ketahuan, lalu akhirnya ia menceritakan. Lalu setelah itu bagaimana?
Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa baik Yairus maupun perempuan pendarahan mengalami kehidupan melalui keahdiran Yesus. Kondisi yang menegangkan dilalui dalam sebuah relasi baru dengan Yesus.
APLIKASI
Dalam kehidupan suami-istri apalagi sebagai suami-istri dalam keluarga pelayan Firman dan sakramen kadangkala berjumpa dengan ketegangan yang mematikan. Suami-istri perlu memperhatikan pelayanan di keluarga maupun di jemaat dan di semua lini. Hal ini dapat memicu ketegangan yang "mematikan` sebab kuasa ketegangan demikian besar.
Namun dalam pengharapan yang bertumpu pada kedaulatan Yesus Kristus maka kuasa yang membangkitkan, menyembuhkan, menyegarkan akan menjadi tanda Injil Kerajaan Allah.
Maka merawat pengharapan merupakan hal utama bagi suami-istri untuk senantiasa memahami bahwa kuasa-Nya tidak berubah.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah tidak sia-sia.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |