Dibaca : 26628 x
KhotbahMinggu, 18 Desember 2016 Yeremia 31:1-6 KASIH YANG KEKAL

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Israel sebagai umat Allah memiliki status yang istimewa dalam hubungannya dengan Allah. keistimewaan itu tidak menempatkan Israel sebagai umat yang bisa berbuat apa saja dalam kehidupan mereka. Sebagai umat Allah dengan status yang istimewa mereka harus merawat dan memelihara hubungan istimewa tersebut sebagai sebuah undangan bagi setiap orang agar mengalami damai sejahtera Allah. Allah membangun hubungan yang istimewa dengan umat-Nya berdasarkan kasih karunia dan inisiatif-Nya yang bertolak dari kesetiaan terhadap janji-Nya. Mereka yang berada di pembuangan adalah umat yang memberontak terhadap hubungan perjanjian tersebut. Mereka berada dalam kondisi yang terpuruk sebagai akibat dari dosa mereka sendiri. Bukankah Allah telah menunjukkan kebaikan-Nya kepada umat dalam perjalanan mereka di padang gurun (ayat 2).
Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang menyukai persekutuan dan bukan perpecahan. Sebuah perpecahan hanya dihasilkan oleh kekerasan hati dan berujung pada saling melukai. Allah adalah Allah yang mencintai persekutuan sehingga dominasi kasih setia-Nya merupakan jati diri Allah. Allah menunjukkan perhatian yang luar biasa kepada umat sehingga dalam keberagaman sebagai suku, namun persekutuan sebagai umat tetap menjadi perhatian-Nya. Persekutuan dengan porosnya adalah Allah merupakan jawaban terhadap berbagai pertikaian dan kekerasan yang terjadi dalam uat maupun dalam perjumpaan dengan bangsa-bangsa lain.
Sahabat-sahabat terkasih,
Perpecahan atau keterputusan merupakan jawaban instan yang dipilih manusia dan menjadi popular sebab memenuhi hasrat manusia yang berdosa. Keberdosaan manusia berujung pada pertikaian dan kekerasan seolah menjadi satu-satunya jawaban atas berbagai persoalan. Persoalan yang mengepung kehidupan manusia seolah-olah tidak memiliki jalan keluar sehingga satu-satunya jalan dan ini yang dianggap paling masuk akal ialah perpecahan dan keterputusan yang hanya menghasilkan luka dan menimbulkan kebencian.
Kepada umat Allah melalu sang nabi diberitakan tentang kesetian Allah yang tidak berubah. Allah tetap setia dalam mendampingi dan membaharui kualitas umat-Nya untuk menjadi sarana damai sejahtera bagi bangsa-bangsa lain. Dan ini hanya dapat diwujudkan dalam persekutuan yang kokoh dan teguh. Apa yang disampaikan Allah melalui sang nabi kepada umat adalah sebuah undangan dan pernyataan yang tidak pernah berubah.
1. pada waktu itu (ayat 1) hendak mengarahkan umat kepada masa depan dan tidak hanya berputar pada masa kini. Rentang kekinian merupakan kenyataan yang tidak terhindari sehingga umat perlu membangun pemahaman yang baru bahwa Allah hendak menata kehidupan mereka ke masa depan.
Persoalan dan pergumulan masa kini juga memerlukan perubahan yang mendasar bahwa Allah menyukai persekutuan dan bukan perpecahan. Maka tindakan-Nya yang mempersekutukan umat adalah tindakan yang lahir dari kenyataan pahit yang dialami oleh umat. Allah menyatakan bahwa kasih karunia-Nya tidak pernah berubah.
Pada masa kini di tengah-tengah kecintaan terhadap perpecahan dan permusuhan yang dibangun dari hasrat yang buruk tengah menjadi kecenderungan utama. Manusia menyukai kehidupan perpecahan dengan membentuk kelompok-kelompok yang eksklusif. Bahkan gereja dapat dipengaruhi juga oleh model pemahaman demikian. Firman Tuhan mengarahkan kita semua saat ini agar bertobat dan mengarahkan diri memasuki waktu dan rencana Allah yang dibingkai oleh persekutuan yang mesra dan sehat. Setiap keluarga perlu memahami dengan sungguh-sungguh bahwa memasuki Natal dengan kebencian dan perpecahan adalah pengkhianatan terhadap kasih setia Allah. Keluarga dapat mewujudkan kehadiran mereka secara baik dalam hubungan kesetiaan dengan Allah.
Ke-dua, pada ayat 4-5, sebuah pemulihan yang dirancang Allah akan segera terwujud melalui tindakan membangun. Sebutan sebagai anak dara Israel (a virgin of Israel) memberi gambaran utuh bahwa pemabaharuan yang dilakukan Allah memulihkan mereka seperti seorang anak dara. Anak dara yang akan bersorak-sorai dan memuji Allah. Pemulihan yang dilakukan Allah sekaligus menunjukkan pengutusan kepada umat yang menampilkan sukacita. Sukacita yang berbeda dengan bahagia sebab dalam bahagian terdapt pengaruh eksternal yang kuat tetapi sukacita bertolak dari hati yang menyambut perbuatan Allah.
Suasana sukacita yang yang berdimensi ilahi adalah sukacita yang bertolak dari relung hati yang kudus yang tidak membanggakan diri dengan segala kepahitn namun tersenyum gembira atas setiap perbuatan baik-Nya.
Sukacita seperti ini tidak disediakan oleh dunia sebab dunia melihat sukacita sebagai hasil sebuah transaksi. Sukacita seperti ini adalah sukacita semua yang rapuh dan rentan terhadap perpecahan dan perseteruan. Justru di dalam diri Allah terkandung sukacita yang kuat sebab Ia bertindak dan membangun. Keluarga yang bersukacita adalah keluarga yang mengerti bahwa dirinya sedang mengalami pembaruan melalui berbagai peristiwa dan belajar dari setiap peristiwa. Keluarga pembelajar adalah keluarga dimana suami-istri dan anak-anak selalu berada dalam hubungan kasih yang terjalin sebagai persektuan. Hal ini hendak menjelaskan bahwa sukacita yang hakiki hanya dalam Allah dan bukan yang lain.
Ke-tiga, ayat ke-6 yang menunjukkan bahwa relasi yang berpusat pada Allah merupakan jawaban atas segala kekisruhan yang terjadi. Kehadiran Allah sekaligus menjadi tumpuan yang mempersatukan. Maka kita tentu sangat heran dengan munculnya kelompok-kelompok dalam gereja yang justru menjadi pemicu perpecahan. Sebaliknya kitapun bersyukur jika dalam persektuan selaku umat Tuhan terbentuk relasi yang cair. Itulah persekutuan yang mengundang umat, membawa setiap orang untuk mengalami perjumpaan dengan Allah di bukit Sion, tempat dimana Bait Allah menjadi symbol kehadiran Allah yang anggun, permanen dan mempesona setiap insan. Kita tidak membawa orang lain kepada Yesus, sebaliknya kita memperkenal Yesus kepada setiap orang. Inilah tanggapan kita atas setiap perbuatan baik-Nya yakni menempatka harapan setiap orang percaya sebagai harapan dan bukan pengalihan isu.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Melalui firman-Nya hari ini, kita semua diundang memasuki realitas yang baru yakni hubungan perseketuan yang bermutu baik sebab tidak tercemar oleh anasir kebencian. Inilah yang membuat setiap warga gereja dapat terus bersukacita yang menunjukkan bahwa ada keteladanan dalam kehidupan umat. amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|