aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 33336 x

Khotbah
Minggu, 25 September 2016
Kisah Para Rasul 18: 1-17
SEMAKIN DIHAMBAT SEMAKIN MERAMBAT

SEMAKIN DIHAMBAT SEMAKIN MERAMBAT
`....Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (ayat 9)

PENGANTAR

Pasca peristiwa Pentakosta terjadilah perubahan mendasar di lingkungan para murid. Mereka yang sebelumnya dikuasai ketakutan kini dengan berani menyampaikan firman Tuhan di depan umum. Banyak orang terpana oleh pemberitaan para murid namun yang tidak kalah penting ialah cara hidup mereka sehari-hari. Mereka yang berjumlah seratus dua puluh orang seperti dinyatakan dalam KPR 1: 15, melonjak jumlahnya dengan bertambah 3000 orang (KPR 2:42). Lonjakan pertumbuhan secara kuantitas mengindikasikan bahwa antara pemberitaan Injil dan cara hidup para murid saat itu berkaitan erat (KPR 2: 47). Di sisi lain perlu dikemukakan bahwa inilah karya Roh Kudus yang membawa dampak bagi para murid. Mereka dengan berani memberitakan firman Allah (4:31) sehingga firman Tuhan semakin tersebar dan banyak orang memberi diri di baptis dalam nama Yesus (2: 38)

Maka para murid menunjukkan bahwa pertumbuhan baik secara kuantitas maupun kualitas semata-mata oleh kuasa Roh Kudus. Kitab Kisah Para Rasul menyatakan dengan tegas bahwa tiap-tiap hari "Tuhan" menambah jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan (Kisah Para Rasul 2:47). Demikian juga Rasul Paulus menyatakan bahwa "pemberi pertumbuhan" bukan Apollos, bukan juga Paulus tetapi Allah (I Korintus 3:6-7). Maka jelas bahwa kehendak Allah merupakan prinsip mutlak dari pertumbuhan murid dalam kitab Kisah Para Rasul.

Penolakan bahkan pertentangan dengan orang Yahudi menjadi peristiwa yang tidak terhindarkan. Para murid telah menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias sebagaimana yang dinantikan oleh bangsa Yahudi seperti di KPR 5:42
Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.
Melalui pernyataan ini maka terjadilah batas yang tegas antara para murid dan orang Yahudi. Para murid meyakini bahwa Yesus sebagai Mesias telah menunjukkan jalan kebenaran, sementara bagi orang Yahudi, Mesias masih mereka nantikan. Penolakan terhadap para murid demikian kuat sehingga memunculkan arus kekerasan yang luas. Stefanus adalah martir pertama yang dirajam dengan batu dan mengakibatkan tersebarnya pemberitaan Injil ke tempat lain (KPR 11:19). Karena pekerjaan Roh Kudus mereka berkata dan bertindak, dalam arti memberitakan, mengajarkan Firman Tuhan, menyatakan kebangkitan kristus dalam kuasa, tanda-tanda dan keajaiban didalam pekerjaan Roh Kudus. Ini merupakan kunci dari Kitab Kisah Para Rasul.

Gereja mula-mula mengakui bahwa mereka tidak berdaya, tidak mampu, lemah rohani, kekurangan, miskin tanpa Roh Kudus. Orang-orang percaya mengakui, bahwa setiap hari mereka memerlukan Roh Kudus untuk bekerja dan bersaksi. Mereka sadar, mereka tidak memiliki kuasa didalam diri mereka sendiri untuk tugas yang besar dan maksud kristus yang telah memanggil mereka. Mereka sama-sama menyadari akan kenyataan, bahwa segala keperluan mereka baik anugerah, pemberian dan kuasa ada di dalam Roh Kudus penolong itu.

Inilah kenyataan yang harus dialami oleh para murid yakni kebencian yang diwujudkan dengan tindakan kekerasan. Ancaman dan kekerasan terhadap para murid justru semakin membuat para murid semakin kuat ikatan persaudaraannya. Kehadiran Saulus semakin mempertajam permusuhan sebab Saulus mendapat mandate dari Imam Besar untuk menangkap setiap murid baik lalki-laki maupun perempuan atas nama Jalan Allah. Paulus tidak hanya setia terhadap warisan leluhurnya, melainkan juga menjadi seorang Farisi yang keras. Kedudukan ini dipertahankan hingga masa setelah kematian Yesus dan munculnya jemaat perdana, baik di Yerusalem, maupun di lingkungan Hellenis (Flp. 3:5 dbr., Gal. 1:13 dbr.). Dengan pemikiran dan konklusi Farisinya, ia menganiaya para pengikut Yesus. Hal ini dikatakannya berulang-ulang (Gal. 1:23; Flp. 3:6; 1 Kor. 15:9; bdk. Kis. 9:1-3; 22:4-5; 26:9-31). Alasan untuk menganiaya orang-orang Kristen dijelaskan dalam Galatia 1:13-15 dan Filipi 3:5-6, yaitu demi kesetiaannya kepada Taurat

TELAAH TEKS

1. Ayat 1-4. Paulus berada di Korintus dan berjumpa dengan pasangan Akwila dan Priskila. Perjumpaan dengan pasangan yang menyingkir dari Roma karena adanya penyiksaan pada jaman pemerintahan Kaisar Klaudius (41-54 M). Pertemuan yang memunculkan relasi hangat mengingat latar belakang dan profesi mereka sama yakni pembuat tenda.

Setelh bekerja, Paulus ke rumah ibadah Yahudi untuk mulai memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias dengan mengetengahkan pengetahuan yang dimilikinya serta pengalaman iman dijumpai oleh Yesus. Di Korintus, kota pelabuhan terkenal sebuah pelabuhan perdagangan yang berkembang pesat dan dikenal selain karena menjadi kota yang kaya, juga karena kebobrokan moralnya. Penduduk kota itu berasal dari seluruh penjuru dunia. Akwila adalah nama dari Roma yang diberikan kepadanya atau nama Roma yang ia pilih sendiri. Bahasa Latinnya "Aquila" yang artinya elang/rajawali. Nama ini dalam bahasa Ibrani, Nesher.

Ia adalah seorang Yahudi yang lahir di Pontus.

Kis 18:2 - Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. ..."

KJV - And found a certain Jew named Aquila, born in Pontus, ...."

Kis 18:2 - ".... Akwila, yang berasal dari Pontus.... dengan Priskila, isterinya, ...."
Nama panggilannya adalah "Priska" yang berarti "kuno".

Paulus kemudia singgah dan menetap di rumah pasangan ini. Akwila dan Priska adalah pasangan yang sangat menopang Paulus. Paulus kemudian berbicara untuk meyakinkan orang Yahudi maupun Yunani bahwa Yesus adalah Mesias. Paulus memilii hubungan dekat dengan pasangan ini seperti dikemukakan di surat Roma 16:3 - Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.

Jadi jelas secara eksplisit bahwa mereka adalah "teman-teman sekerja" Paulus dan itu berarti bahwa mereka juga turut aktif dalam pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Paulus.

Selanjutnya Paulus berkata :

Rom 16:4 - Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.

Pada bagian ini dapat dikemukakan bahwa keberadaan gereja berjumpa dengan kenyataan di dunia. Perjumpaan ini sekaligus menunjukkan bahwa gereja ada dalam dunia tetapi tidak dari dunia (band. Yoh. 15:19). Gereja berjumpa dengan masalah rendahnya moralitas sebagaimana terjadi di Korintus, namun gereja tidak menjadi sama dengan dunia. Perbedaan ini sangat prinsipil. Hal itu menunjukkan bahwa gereja dalam melaksanakan tugasnya memberitakan Injil perlu ada dalam persekutuan yang erat. Pentingnya persekutuan yang erat nampak dari penjelasan berikut.

2. Ayat 5-8. Pada bagian dikemukakan bahwa kebencian dari kalangan Yahudi mulai berbentuk kekerasan. Penolakan terhadap pemberitaan Paulus mulai muncul sebagai reaksi atas pemberitaan tentang Yesus adalah Mesias. Persekutuan yang erat menjadi sangat penting karena di lingkungan murid Tuhan, persekutuan erat memberi semangat untuk meyakini bahwa mereka adalah satu. Sikap Paulus di ayat 6, menunjukkan bahwa penolakan terhadap Paulus semakin kuat. Namun sekaligus Krispus dan seisi rumahnya menjadi percaya dan dibaptis. Ini menunjukkan bahwa penolakan selalu ada namun karya Roh Kudus tidak pernah bisa ditiadakan.

Apa yang dialami oleh Paulus bisa saja terjadi kepada setiap warga gereja sekarang. Penolakan dan sikap kebencian dengan kekerasan seoalh menjadi sah untuk menentang kehadiran gereja. Penolakan dengan tindakan kekerasan merupakan pola yang sangat sistematis untuk memutuskan rantai pemberitaan firman Tuhan. Namun bukan saja penolakan tetapi sukacita yang dialami ketika menerima Kristus. Keluarga yang bersyukur karena menerima Kristus adalah umat secara utuh yang bersyukur. Hal ini menjadi mungkin hanya oleh eratnya relasi di lingkungan umat Tuhan.

3. Ayat 9-17. Selama 1 tahun 6 bulan Paulus berada di Korintus serta terus mengajar Firman Allah kepada mereka. Keadaan ini semakin menyulitkan karena keberadaan Paulus dengan misinya. Namun apa yang dikemukakan dalam ayat 9 menjadi kekuatan tersendiri bagi Paulus. Paulus tahu bahwa orang-orang Yahudi akan menjadi sangat marah karena pertobatan kepala rumah ibadah itu. Pertanyaan yang muncul, apakah ia akan tetap berada di Korintus, atau lebih baik menyingkir? Apa yang terbaik bagi gereja yang masih baru itu? Ia bertanya kepada Tuhan, di dalam doa, dan Tuhan menjawabnya. Tuhan membaharui penugasan-Nya kepada Paulus dan perintah-Nya untuk memberitakan Injil dengan jelas, menyampaikan seluruhnya, dan dengan keberanian. Allah mengetahui keadaan jiwa Paulus yang diliputi dengan ketakutan oleh karena situasi dan keadaan orang-orang Korintus sebagai sasaran pemberitaan Injil, dengan berbagai alasan-alasan yang diciptakan dalam alam pikirannya sehingga takut untuk menyebarkan Kasih Kristus melalui kematian-Nya di atas kayu salib yang menyelamatkan manusia dari hukuman maut. Ketakutan ini juga yang sering melanda para anak Tuhan di tengah-tengah dunia untuk menyebarkan berita Injil yang menjadi kekuatan Allah untuk menyelamatkan manusia. II Timotius 1:7-8 "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita ...".

Di ayat 9 dikemukakan dengan jelas bahwa `jangan takut dihubungkan dengan penyertaan Allah. Penyertaan-Nya memberi kesadaran bagi Paulus bahwa pemberitaan Injil harus terus dilakukan. Persekutuan dengan Yesus dan relasinya dengan sahabat-sahabat sepelayanan merupakan pernyataan bahwa Paulus tidak boleh takut.

RELEVANSI
Pemberitaan kabar sukacita atau Injil memang merupakan kebahagiaan bagi setiap murid. Kebahagiaan sebab pemberitaan Injil merupakan jawaban atas karya Tuhan di dalam Yesus Kristus. Di sisi lain pemberitaan Injil juga diperhadapan dengan penolakan. Injil dianggap mengganggu kelompok tertentu yang akan tergerus oleh kehadiran warga gereja. Pemberitaan Injil juga dapat bertemu dengan berbagai rencana jahat yang merupakan akumulasi dari kebencian.

Firman Tuhan hari ini memperlihatkan bahwa pemberitaan Injil harus terus dilakukan dengan berani. Pemberitaan ini tidak bisa dihentikan hanya karena ancaman dari pihak lain. Maka pemberitaan Injil tetap diwujudkan melalui perilaku setiap hari.

KERANGKA KHOTBAH

1. Persekutuan. Umat Tuhan dengan latar belakang yang berbeda diberbagai hal bukan penghalang untuk bersekutu. Persekutuan menjadi mahal saat ini di tengah individualism yang kuat. Persekutuan yang hanya sekedar memperlihatkan relasi normative menjadi persekutuan yang semu. Paulus yang berjumpa dengan Priskila dan Akwila di Korintus menjadi sebuah persekutuan yang kemudia sangat mendorong pelayanan Paulus.
2. Kebencian dan Kekerasan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebencian terhadap murid Yesus bisa dialami. Kebencian dan kekerasan merupakan pasangan yang kompak untuk meruntuhkan sendi-sendi pemberitaan Injil. Kebencian dan kekerasan sering dibangun dengan tujuan untuk mendesak warga gereja menghentikan pemberitaan kabar sukacita.

3. Penyertaan Tuhan. Umat perlu menghayati bahwa persekutuan umat Allah tidak didirikan oleh siapapun selain Yesus. Tidak pantas jika selaku umat Tuhan ada perasaan berjasa karena berkontribusi besar dalam materi. Akwila dan Priskila adalah contoh yang indah tentang bagaimana dorongan mereka bagi Paulus menjadi kekuatan dalam memberitakan Injil. Dorongan janji Tuhan dalam ayat 9, membuka mata Paulus untuk melihat bahwa Paulus tidak sendiri. Seluruh keyakinan ini bermuara pada pernyataan yang pernah di kemukakan T.B Simatupang (alm) Semakin dibabat semakin merambat.

KHOTBAH

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi, dewasa ini kita hidup di tengah arus deras kebencian dan kekerasan. Kebencian dan kekerasan nampak mudah sebagai pilihan karena dapat memuaskan hasrat balas dendam dan merusak. Kehadiran umat Tuhan yang dibenci dan mengalami kekerasan seolah mendapat peluang untuk dibalas karena bukankah kita memang hidup di arus demikian?

Firman Tuhan hari ini memperlihatkan bahwa kebencian dan kekerasan terhadap umat Tuhan bukanlah hal baru. Pertemuan Paulus dan Akwila di Korintus menunjukkan adanya kebancian dan kekebrasan yang terjadi di Roma. Di korintuspun Paulus menghadapi kenyataan yang sama bahwa kebencian dan kekerasan dipraktekan dengan hati panas. Seluruh energy diberikan untuk menghambat pemberitaan kabar sukacita. Kapasitas sebagai penentang Injil melekat dengan kuat dan memperlihatkan kuasanya.

Sahabat-sahabat yang terkasih, namun pemberitaan kabar sukacita yang dipercayakan Tuhan sekaligus dilandasi jaminan penyertaan. Tuhan menyertai dengan memberi pernyataan `jangan takut....jangan diam. Pernyataan ini memberi daya dorong yang kuat bagi umat Tuhan untuk terus memberi kesaksian secara holistic. Kesaksian yang diwujudkan dalam aktifitas yang beribadah (band. Rom. 12:1).

Maka setiap kesaksian merupakan bentuk tanggapan atas kasih Allah yang besar. Ketika kita mengandalkan Tuhan, Ia menghadirkan orang yang tepat bagi kita. Pemberitaan Injil memang bukan hal mudah sebab kadangkala diperhadapkan juga dengan aroma kebencian dan kekerasan.

Kita tidak mampu melakukan pemberitaan Injil dengan kekuatan kita sendiri. hanya dengan kekuatan dan penyertaan-Nya. Kebencian bukan barang baru, kekerasan buka juga hal baru, tetapi yang terbaik ialah ketika kita tetap mengasihi mereka yang membenci. Amin


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518