Dibaca : 23432 x
KhotbahMinggu, 18 September 2016 Daniel 1:1-21 NO FREE LUNCH
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus Kasihi,
Istilah no free lunch seringkali dipergunakan untuk memberi gambaran bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis/free. Istilah ini juga menunjukkan bahwa system transaksi adalah hal biasa dalam dunia modern sehingga menjadi gagasan yang berlaku umum. Apa yang dialami oleh Daniel dan kawan-kawan hendak menunjukkan bahwa kebaikan hati Nebukadnezar bukanlah tanpa tujuan. Semua pelayanan kepada Daniel dkk adalah sesuatu yang tidak gratis sebab harus ada yang mereka lakukan terhadap Nebukadnezar yakni bekerja pada raja (ayat 5). `Paniym in front of, before, to the front of, in the presence of. Dihadapan raja Nebukadnezar lalu menegaskan bahwa secara sistematis Daniel dkk hendak `dilucuti identitasnya sebagai umat Yehuda dan identitasnya sebagai umat Allah. Dua hal ini menjadi sangat prinsipil sebab menunjukkan bahwa penaklukan Yehuda bukanlah soal politis saja tetapi juga soal religious.
Pergantian nama Daniel menjadi Beltsazar, Hananya menjadi Sadrakh, Misael menjadi Mesakh dan Azarya menjadi Abednego adalah sebuah usaha untuk menghapus identitas. Sebuah nama dalam tradisi Israel adalah sebuah kunci menuju jiwa (The Hebrew word for soul is neshamah. Central to that word, the middle two letters, shin and mem, make the word shem, Hebrew for `name. Your name is the key to your soul).
Soal makan adalah soal rekonsiliasi, soal pengampunan, Jewish tradition recognizes a meal as a time for intimacy, fellowship, and significant conversation. Kindness is the basic mood of the Jewish meal. People are fed and nourished, and in this intimate setting people talk with each other about what matters. That is why the Rabbis say that if people eat together and Torah talk is not exchanged then the meal is a vain enterprise. If eating does not create the opportunity to teach and to learn then it becomes biological feeding. Because eating creates intimacy amongst people (Rabbi Yehiel E. Poupko).
Maka penolakan Daniel atas makanan dari meja raja adalah sebuah perjuangan menjaga kesucian diri (...supaya ia tak usah menajiskan dirinya - ayat 8). Makanan bukan saja soal kebutuhan jasmani tetapi soal ketaatan terhadap perintah Allah. Inilah yang dibuktikan oleh Daniel sesuai Imamat 11-16 bahwa apa yang disantap Daniel dkk bukanlah sekedar santapan jasmani tetapi ada pengajaran tentang dan makan bersama tidak boleh sia-sia dalam nilai, dalam kebersamaan. Maka penolakan Daniel adalah gambaran pemahaman yang utuh dan mendasar tentang siapa dirinya, tentang siapa bangsanya dan siapa Allah yang disembahnya.
Sahabat-sahabat yang terkasih
Kepercayaan Daniel kepada Allah dan sikapnya menjaga relasi dengan Allah memberi dampak bagi mereka dan juga raja. Allah mengasihi mereka dengan memberi pengetahuan dan kepandaian (ayat 17) sehingga sekalipun mereka berada di Babel, pemahaman bahwa Allah adalah Allah yang tetap menyertai menjungkal pemahaman lain bahwa Israel terbuang dari hadapan-Nya. Hal inilah yang diperlihatkan oleh kisah Daniel bahwa sekalipun umat berada di pembuangan tidak ada alasan untuk terjebak pada alur berpikir demikian: bahwa Allah sudah meninggalkan umat dan bahwa melebur dengan keadaan adalah pilihan cerdik. Pemahaman inilah yang harus ditanggalkan dan disingkirkan sebab jika pola pikir ini yang dipergunakan maka muaranya ialah `no free lunch.
Jika Allah mengasihi Daniel dkk dengan memberi kepandaian dan pengertian hal itu adalah bagian yang diterima oleh mereka. Allah belum membebaskan mereka dari Babel tetapi sikap Daniel dkk menunjukkan bahwa Allah menyertai mereka di Babel. Ketaatan kepada Allah adalah ketaatan yang utuh.
Sahabat-sahabat yang terkasih
Pergulatan dengan kehidupan merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari. Manusia bergerak secara massal dari satu titik ke titik lain. Gelombang manusia yang bergerak ini menjadi semacam ritual kehidupan. Di sisi lain kesibukan suami-istri dengan semua agenda yang bergerak dinamis dalam ruang karir seolah menjadi symbol dari usaha penaklukan masalah ekonomi.
Arus deras pemahaman bahwa manusia hanya bisa bergantung pada dirinya sendiri dan disertai dangkalnya pengetahuan dan pengertian tentang kehadiran Allah yang menyertai telah menciptakan `rasa hampa yang dialami setiap manusia masa kini. Karir, penghargaan dan mobilitas, dibangun diatas puing-puing ketidakpastian, redupnya pengharapan dan kebahagiaan yang bersifat kosmetik. Semua kenyataan ini telah menghadirkan manusia yang merasa biasa saja ketika merendahkan martabat orang lain. Manusia yang berpikir bahwa kekuasaan adalah alat untuk menambah asset pribadi dan bukan alat yang memanusiakan. Manusia yang menilai manusia lain dari berapa banyak yang dimiliki. Manusia yang cemburu terhadap manusia lain yang berhasil dengan usaha sendiri dan tidak meminta-minta.
Inilah atmosfir Babel dengan tokohnya Nebukadnezar yang menjadi roh jaman untuk memudarkan pengetahuan dan pengertian. Pemujaan terhadap makanan dan kesediaan untuk mengingkari nilai diri sebagai pengikut Yesus adalah arus deras yang dialami. Bukankah hal ini juga merasuk dalam kehidupan bergereja? Ketika pelayanan dipahami sebagai tindakan transaksi lalu kita katakan pada Tuhan `no free lunch. Ketika sebagai warga gereja kita merasa nyaman dengan diri sendiri dan hilang identitas di tengah arus rivalitas.
Daniel dkk memberi contoh tentang ketaatan kepada Allah bukan saja disaat susah tetapi juga disaat jamuan makan siang dengan fasilitas fantastis. Kita perlu menjaga kesucian hati sebagai akumulasi ketaatan kita terhadap Allah. Jangan terbuai oleh tawaran dunia yang dapat menghilangkan identitas kita sebagai murid Yesus karena setiap tawaran dunia tidak pernah cuma-cuma/free/gratis.
Tepatlah khotbah Tuhan Yesus di bukit yang mendorong setiap murid untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:34). Inilah penyertaan Tuhan terhadap Daniel dkk, penyertaan Tuhan juga terhadap kita dan keluarga.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|