Dibaca : 23149 x
KhotbahSabtu, 10 September 2016 Matius 18:1-5 SEPERTI ANAK KECIL

Sahabat-sahabat yang terkasih,
Sebuah peristiwa besar terjadi 16 tahun lalu di Amerika ketika menara kembar WTC runtuh setelah ditabrak beberapa pesawat berpenumpang. Peristiwa besar pada 11 September 2001 dan terkenal dengan sebutan peristiwa `911�. Ini peristiwa besar tetapi kualitas kebesarannya adalah besar daya destruktifnya, besar daya membunuhnya, besar daya pemusnahannya sehingga lebih 3000 orang menjadi korban. Ini peristiwa besar yang menghina harkat kemanusiaan sehingga yang tidak bersalahpun bisa menjadi korban.
Menjadi yang terbesar bukan saja merupakan pintu masuk terhadap berbagai praktek kekerasan tetapi sekaligus awal dari bencana kemanusiaan. Sebab untuk menjadi besar Hitler membunuh 6 juta Yahudi, untuk menjadi besar rezim Suriah tidak ragu membunuh rakyat sendiri sebab memang untuk menjadi besar selalu mengharuskan tumbal.
Narasi Matius pada perikop ini mengetengahkan pertanyaan para murid kepada Yesus, siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga diayat 1 adalah pertanyaan yang tetap relevan hingga sekarang. Inilah pertanyaan yang akan memicu pertikaian, persaingan dan berujung pada pembunuhan. Inilah pertanyaan yang akan menjungkal akal sehat dan mengabaikan nurani sebab menjadi besar adalah pintu masuk menuju Narsisme Epidemic yang hanya tertuju pada diri dengan muatan `I Love Me�.
Menjadi pribadi yang menggenggam kekuasaan besar, ekonomi besar, akses politik yang besar adalah godaan yang melanda semua umat manusia sejak jaman Adam dan Hawa. Dosa memasuki kehidupan manusia ketika manusia ingin menjadi yang terbesar (sama dengan Allah). Inilah semangat yang terus mendunia dengan semua variannya untuk menjadi yang terbesar. Menjadi yang terbesar lalu diwujudkan dengan cara penaklukan. Ada pihak yang harus ditundukkan dan dibelenggu sehingga tidak berdaya.
Sahabat-sahabat yang terkasih
Tanggapan Yesus kepada para murid sesungguhnya tidak sederhana sebab Ia mematahkan kuasa jahat yang terselubung dibalik pertanyaan para murid. Yesus harus menaklukan dominasi setan yang tanpa sadar memengaruhi corak berpikir para murid. Para murid melihat banyak hal besar yang dilakukan Yesus. Menyembuhkan banyak orang sakit (Mat.15:29-31), memberi makan empat ribu orang (Mat.15:32-38). Inilah hal besar yang dilakukan Yesus dan para murid nampaknya tergoda untuk juga menjadi yang terbesar.
Dengan memanggil seorang anak kecil, Yesus menundukkan pikiran liar para murid. Ia menjawab keinginan yang terbesar dengan menunjukkan yang kecil. Ia memperlihatkan bahwa yang terkecilpun bisa jadi yang terbesar ketika memiliki dorongan yang besar untuk menyambut Yesus (ayat 5). Maka dari perikop ini kepada kita semua dikemukakan hal penting demikian:
1. MENJADI YANG TERBESAR BUKAN SOAL POSISI
Banyak orang mengasosikan besar sama dengan posisi dan Yesus menunjukkan yang sebaliknya. Besar adalah soal karakter sebagaimana yang dimiliki oleh seorang anak kecil yakni: ketergantungan, percaya, gembira. Kenapa hal ini penting sebab hal menjadi besar bagi seorang yang dewasa kadangkal membuat diri tidak lagi bergantung kepada Allah, tidak lagi percaya sebab hidup diwarnai dengan ketakutan bahwa kebesarannya akan runtuh, diwarnai dengan ketegangan tanpa kegembiraan karena semua mata seolah menuduh.
Menjadi yang terbesar menurut Yesus adalah pertama-tama BERTOBAT (strepho - to turn metaph. to turn one"s self from one"s course of conduct, i.e.to change one"s mind). Yesus menegaskan bahwa pemikiran para murid keliru dan harus berubah. Maka perubahan pemahaman inilah yang perlu dilakukan. Hal Kerajaan Sorga membutuhkan kesadaran utama dari setiap orang percaya untuk mengalami perubahan. Kalau setiap warga gereja hanya berpikir untuk menjadi yang terbesar dan akhirnya hanya mengecilkan eksistensi orang lain, menaklukan sesama dengan kuasa yang dimiliki maka perlu ada pertobatan. Bertobat adalah istilah yang memang tidak popular dan sudah hilang makna di tengah dunia yang bangga dengan kebesarannya. Bertobat adalah kembali meluruskan hati dan pikiran dalam tuntunan Roh Kudus agar setiap warga gereja hadir dan menjadi arti serta berkat bagi sesama.
Kedua adalah menjadi SEPERTI anak kecil dan bukan menjadi anak kecil (ginomai - to become, i.e. to come into existence). Artinya eksistensi seperti anak kecil. There are a lot of reasons why we must be like children in order to come to Jesus. Seorang anak kecil dapat dengan mudah percaya disbanding seorang yang dewasa. Seorang anak kecil tidak ragu untuk duduk di tengah-tengah orang yang dipercayai dibandingkan orang dewasa. Gambaran ini hendak menjelaskan bahwa hasil dari sebuah pertobatan adalah percaya dan hasil dari percaya adalah melakukan sesuatu terhadap orang yang dipercaya dalam hal ini adalah Yesus.
Warga gereja yang mengalami pembaruan sebagai akibat pertobatan adalah warga gereja yang tidak tergoda untuk menjadi yang terbesar. Sebaliknya dengan rendah hati menyediakan diri sebagai alat Tuhan yang melakukan kehendak-Nya. Menyambut Yesus dengan pemahaman yang benar dan memposisikan Yesus sebagai yang terbesar dalam kehidupan akan menghasilkan pemahaman yang jernih terhadap sesama. Tidak merendahkan sesame, tidak membangun permufakatan jahat terhadap sesama. Maka menjadi yang terbesar dalam hal posisi akan sangat menyesatkan kita sebagai warga gereja. Be humble, be honest and God will bless you.
2. MENJADI YANG TERBESAR BUKAN SOAL PENOLAKAN
Yesus menunjukkan bahwa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga adalah soal penerimaan. Soal menyambut Yesus SEPERTI seorang anak. Menyambut Yesus seperti seorang anak adalah menyambut Dia tanpa mempertanyakan keuntungan yang diperoleh. Menyambut Yesus adalah menyambutnya tanpa berpikir soal apakah yang akan kudapatkan dari-Nya. Inilah yang sering menyesatkan warga gereja sebab menyambut Yesus lalu diposisikan soal keuntungan dalam segala hal. Menyambut Yesus seperti seorang anak kecil adalah menyambut-Nya dalam ketulusan. Tulus untuk bertobat, tulus untuk membaharui diri, tulus untuk menjadi berkat bagi sesame dan bukan menjadi bencana bagi orang lain.
Menyambut Yesus dengan tulus kemudian mengkristal dalam pengakuan bahwa Ia telah menyambut kita semua. Ia menerima setiap kita yang mau bertobat dan mengalami pembaruan dalam pemahaman tentang siapa Yesus. Menyambut Yesus mustahil terwujud jika warga gereja tidak `mengenal siapa Yesus�. Kita berbicara, berkhotbah, melayani dalam nama Yesus tetapi tidak mengenal Dia. Inilah ironi menyebut nama Yesus namun membunuh karakter sesama, berzinah, mencari pengakuan diri, merancang kejahatan. Yesus lalu mengalami penolakan yang substansial.
Marilah kita menyambut Dia dan bukan menolak-Nya.
Sahabat-sahabat terkasih,
Maka hal Kerajaan Sorga adalah soal pertobatan dan pertobatan itu terwujud dalam tindakan menyambut Dia. Menjadi seperti anak kecil adalah keterbukaan untuk membangun pemahaman yang benar tentang siapa Yesus Kristus. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|