Dibaca : 28593 x
Catatan RefleksiSenin, 08 Februari 2016 IBRANI 13: 1-4 MELALUI PERSAUDARAAN YANG KOKOH KITA WUJUDKAN SOLIDARITAS ANTAR SESAMA MELAWAN KETIDAK-ADILAN
 Pendahuluan.
Sidang Majelis Sinode Am (SMSA) saat ini menurut saya memberi perhatian yang tepat dalam penekanan pada aspek persaudaraan dan keadilan. Hal ini berangkat dari pemahaman bahwa isu persaudaraan dan keadilan menjadi penting di tengah buramnya implementasi. Dewasa ini persaudaraan lebih dipahami sebagai membangun komunitas eksklusif yang kuat dengan semangat transaksi. Kesantunan sebagai norma terbentuknya relasi yang sehat telah direduksi dalam argumentasi yang masuk akal dan berujung pada tumpulnya nurani.
Sejak Zaman Yunani kuno, keadilan dilukiskan sebagai suatu areta (keutamaan) yang patut dikejar, sebuah keutamaan yang menjadi landasan seluruh hubungan sosial politis (Hardiman: 2007). Artinya keadilan adalah gerak yang dihasilkan dari sebuah pergulatan nurani di ruang privat hingga di ruang publik. Artinya keadilan bukan hanya keadaan atau situasi tetapi setiap pribadi perlu terus diingatkan tentang hal keadilan.
Bagaimanakah keduanya yakni persaudaraan dan keadilan dipahami dalam perspektif surat Ibrani 13? Baiklah kita meninjaunya berdasarkan pendalaman terhadap kitab Ibrani secara utuh.
A. Yesus Kristus Adalah Penggenapan Kasih Allah.
Penulis kitab Ibrani mengemukakan keyakinannya bahwa Allah adalah Allah yang bertindak dalam kasih-Nya kepada manusia. Karya keselamatan Allah yang dialami manusia tidak terlepas dari tindakan-Nya yang mengasihi sebagai eksistensi diri-Nya (band. 1 Yoh. 4: 8, 16). KASIH merupakan hukum paling utama yang menjadi dasar utama dari kekristenan, yang secara luas seharusnya mampu menyentuh siapapun yang berada di sekitar kita tanpa terkecuali. Kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan raga kita, lalu kita mengalirkan kasih Tuhan kepada semua orang di sekitar kita. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Tapi bagaimana mungkin itu bisa kita lakukan jika terhadap saudara-saudara kita seiman saja sudah demikian berat? Masih ada begitu banyak sekat-sekat duniawi yang selalu kita sematkan kepada perorangan, golongan atau kelompok tertentu. Kaya-miskin, suku, budaya, bahasa, bangsa, status, latar belakang, usia dan sebagainya, seringkali menjadi hambatan bagi kita untuk bisa saling kenal dan saling mengasihi.
Keunggulan Kristus merupakan pokok utama dari ke lima fasal yang pertama dari surat Ibrani ini. Allah .....pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. ....jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, nabi-nabi, imam-imam, Musa dan Taurat: Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar tentang Dia dan firmanNya (Ibrani 1:1-2,4; 2:1; Lihat Ibrani 3:3; 7:21-27).
Segala keunggulan Yesus Kristus sebagai penggenapan merupakan dorongan yang kuat untuk memahami kasih-Nya yang membebaskan dan menyelamatkan. Dalam konteks ini maka umat yang sedang bergumul dengan eksistensi mereka adalah umat yang dikokohkan dengan dasar yang kuat yakni Yesus Kristus. Bertolak dari pemahaman yang demikian maka Yesus Kristus sebagai pusat kehidupan menjadi yang utama dan terutama dalam keberadaan umat. Hal ini penting untuk terus menjadi dasar dari iman orang percaya.
Dari narasi surat Ibrani dapat kita jumpai betapa kuatnya pesan untuk beriman dengan sungguh-sungguh. Saksi-saksi iman sebagaimana Ibrani 11, bertujuan untuk memberi kesaksian tentang sejak dari penciptaan sehingga "kita dapat melihat yang terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat`. Hal ini memperjelas arah nasihat surat Ibrani agar setiap orang percaya dimungkinkan "melihat dari apa yang tidak dapat terlihat sebelumnya` (11:3).
Melalui penjelasan demikian, diharapkan setiap orang Yahudi yang percaya kepada Yesus Kristus tidak mengalami goncangan. Maka kesetiaan kepada Yesus Kristus adalah yang utama dalam kehidupan umat percaya. Sebuah kesetiaan di tengah kenyataan yang menekan dan ancaman yang kuat. Sebagai yang Mahakudus, Yesus menjadi sumber pengharapan bagi manusia maka seluruh manusia di dalam Yesus Kristus memiliki pengharapan untuk mewujudkan kasih kepada Allah, diri sendiri dan sesama (Groome, 1998: 437). Hal ini memperlihatkan bahwa Yesus Kristus adalah pusat kehidupan beriman dan berpengaruh kuat dalam kehidupan orang percaya.
Bertolak dari pemahaman yang demikian maka mengasihi bukanlah wacana dengan pendekatan teologis yang rumit namun sebuah aksi. Maka setiap orang percaya selalu berada dalam kekuatan kasih dan sekaligus sebuah hubungan persaudaraan. Jika Allah membangun komunikasi dengan manusia maka komunikasi itu mengkristal dalam Kasih. Maka dari perspektif di atas maka gereja tidak tidak pernah berhenti mewujudkan tindakan kasih Allah kepada sesama sekalipun kekerasan masih menjadi pilihan. Beriman kepada Yesus sekaligus memperlihatkan sebuah relasi persaudaraan sebagai sebuah perintah (13: 1).
Sang Penulis membukanya dengan seruan "Peliharalah kasih persaudaraan!" (Ibrani 13:1). Kasih Persaudaraan (Filadelfia, gabungan dari kata Fhileo yang artinya kasih tulus tanpa menuntut imbalan/balasan dan Delfho yang artinya ikatan persaudaraan yang kuat) merupakan pesan yang sangat penting untuk dimiliki oleh semua gereja dan umat Tuhan. Penulis Ibrani kemudian melanjutkannya dengan "Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." (ay 2). Begitu pentingnya kita untuk memelihara kasih persaudaraan sehingga dengan melakukannya bisa jadi kita tengah menjamu malaikat-malaikat. Betapa luar biasa membayangkan adanya malaikat yang berkeliaran di sekitar kita. Nama Filadelfia akan mengingatkan kita kepada sebuah gereja yang disebutkan dalam kitab Wahyu. Dalam Wahyu 3:7-13 ada pesan yang diberikan secara khusus kepada jemaat di Filadelfia.
Lihatlah dari rangkaian pesan kepada tujuh jemaat, hanya ada dua jemaat yang tidak mendapat teguran, yaitu Filadelfia dan Smirna. Kepada jemaat Filadelfia pesan Tuhan sungguh indah. "Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi." (ay 10). Seperti itulah janji Tuhan kepada jemaat dan umatNya yang menerapkan bentuk kasih persaudaraan dalam kehidupannya. Maka melalui kasih persaudaraan hendak diperlihatkan adanya kekuatan yang konstruktif di semua lini pelayanan gereja. Gereja tidak memperlihatkan model kasih persaudaraan yang transaksional dan hipokrit namun memperlihatkannya sebagai gaya hidup.
Melalui gaya hidup persaudaraan yang bertumpu pada Yesus Kristus maka terwujudlah ikatan persaudaraan yang murni dan terbentuk dalam semangat mengasihi sebagai tanggapan atas kasih-Nya kepada manusia. Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:7-8).
B. Persaudaraan Untuk Melawan Ketidak-adilan
Usaha untuk mewujudkan keadilan bukanlah hal sederhana sebab memerlukan keteguhan hati. Dari pandangan Alkitab tentang keadilan, mempunyai makna bahwa seseorang yang menjadi pengikut Yesus dipanggil untuk mewujudnyatakan nilai keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang Kristen dimanapun diharapkan menghadirkan citra Tuhan dalam perilaku mencintai Tuhan dan sesama yang merupakan perintah yang utama. Cinta akan membawa konsekuensi pada aspek keadilan dalam hubungan dengan orang lain dimana saja kita berada dan berintraksi dengan orang lain. Dalam lingkup yang paling kecilpun keadilan menjadi tuntutan jika kita menghendaki keharmonisan dengan orang lain.
Bertolak dari pemahaman di atas maka surat Ibrani menunjukkan perhatiannya pada sesama sebagimana pada ayat 2-4. Teologia keadilan berpusat pada keadilan Allah yang memelihara, melindungi dan menyelamatkan manusia tanpa pandang bulu. Dosa adalah pelanggaran hukum Allah dan yang merupakan ketidak-adilan terhadap Allah. Tuhan Allah menuntut agar manusia mengakui hak dan kuasa Allah yang mutlak atas segala ciptaan (Randa, 2007:2). Maka keadilan bertumpu pada korelasi yang kuat antara manusia dan Allah yang telah menyatakan keadilan-Nya kepada manusia melalui karya keselamatan.
Allah adalah Allah keadilan (Yes. 30:18) yang berpihak kepada mereka yang mengalami ketidak-adilan. Dalam konteks inilah nasihat surat Ibrani menjadi relevan sebab mengarahkan setiap orang percaya pada tindakan yang baik bagi sesama. Seluruh kebajikan yang bertolak dari perintah "peliharalah kasih persaudaraan` di ayat 1. Maka kepedulian pada sesama yang mengalami ketidakadilan merupakan hal yang penting. Artinya ketidak-adilan yang dialami sesama perlu didasari pemahaman sebagai pengalaman empirik.
Belajar dari apa yang dituturkan oleh penulis Ibrani, paling tidak kita dapat belajar tiga hal supaya keluarga kita menjadi keluarga yang bertumbuh Pertama, hidup saling mengasihi dan menghormati. Kasih adalah dasar dari keluarga, oleh sebab itu mengasihi bukan hanya tugas seorang suami tetapi juga seorang istri (Titus 2:4-5). Perempuan diciptakan oleh Allah dengan tujuan menjadi penolong bagi laki-laki. Jadi istri adalah "penolong" bagi suami bukan penodong atau perongrong. Demikian pula dengan para suami harus mengasihi istri dengan tulus, jujur dan sungguh-sungguh. Didalam menanggung beban suami istri harus saling tolong menolong (Gal 6:2). Hidup tolong menolong adalah bukti bahwa orang itu saling mengasihi, seperti memberi tumpangan kepada yang membutuhkan dan memperhatikan orang hukuman dan orang yang diperlakukan sewenang-wenang ialah bukti dari kasih persaudaraan (Ibrani 13: 1-3).
C. Kesimpulan
Dewasa ini makna persaudaraan tidak mendapat perhatian utama sebab arus individualisme yang kuat. Hal itu berarti untuk merawat kasih persaudaraan maka gereja perlu menempatkannya dalam perspektif membangun keterikatan dalam kasih. Hidup persaudaraan yang kokoh bisa diwujudkan hanya melalui pengakuan bahwa Allah mengasihi dan membangun relasi persaudaraan yang konstruktif.
Dalam arti yang luas maka ketidak-adilan bisa terjadi di ranah privat maupun domestik. Di ranah keluarga maupun masyarakat. Maka gereja yang melawan ketidak-adilan perlu menukik pada persoalan-persoalan yang esensial yakni masalah keluarga. Keadilan yang berkembang dari kehidupan keluarga Kristiani akan memberi pengaruh yang signifikan terhadap masalah di ruang publik. Artinya terdapat kesejajaran antara makna persaudaraan dan keadilan. Ketika persaudaraan menemukan bentuknya maka ketidak-adilan di ruang privat dan di ruang publik dapat diatasi dengan lebih baik.
Selamat bersidang dan temukan kasih persaudaraan itu maka berbagai ketidak-adilan akan dihadapi dalam semangat sebagai keluarga Allah.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |