Dibaca : 21819 x
Catatan RefleksiSenin, 12 Oktober 2015 Lukas 7:44-47 DOA DAN KASIH PENGAMPUNANNYA

Sahabat-sahabat yang terkasih, antara Simon dan perempuan terdapat perbedaan cara melayani Yesus. Simon memandang Yesus sebagai seorang guru dan melayani Yesus dengan baik (mengundang makan di rumah). Tetapi perempuan yang terkenal berdosa (ayat 37) melayani Yesus dengan air mata dan menyeka kaki Yesus dengan rambut. Inilah pelayanan dengan hati yang meluap dalam tindakan yang luar biasa. Minyak yang mahal dan rambut sebagai symbol kehormatan tidak menjadi penghalang untuk sebuah perjumpaan. Perempuan ini tidak hadir dengan sejuta kata-kata tetapi dengan sejuta makna yang terlihat dari tindakannya. Tindakan perempuan yang menyeka kaki Yesus adalah tindakan merendahkan diri sehingga ia berjumpa dengan pengampunan. Kata-kata saja tidak cukup, tindakanlah yang menjadi unsur pembeda antara Simon dan perempuan yang terkenal berdosa.
Yesus sendiri berbicara kepada Simon tetapi Ia menatap perempuan yang terkenal berdosa (ayat 44). Yesus tidak mengecam Simon tetapi Yesus hendak memperlihatkan perhatian yang besar pada sebuah tindakan yang luar biasa. Pengakuan dosa dalam sebuah tindakan jauh lebih elegan dari pengakuan dosa dalam kata-kata yang mengalir tanpa perubahan. Disinilah letak perbedaan Simon dan perempuan yang terkenal berdosa, Simon tetap memandang perempuan itu dengan masa lalunya sementara Yesus memandang perempuan itu dengan masa depannya. Jadi, lewat kisah ini hendak dikemukakan kepada kita bahwa tindakan pengakuan dosa jauh lebih penting dari sekedar kata-kata. Dalam diam tetapi air mata dan rambut di kepala adalah ekspresi permohonan perempuan yang terkenal karena dosa. Permohonan itu muncul secara luar biasa dalam perilaku yang melayani Yesus sebagai awal perubahan besar dalam hidupnya (ayat 50).
Disini kita semua dapat belajar bahwa sebuah doa tidaklah cukup tetapi patut muncul dalam tindakan. Doa bukanlah sebuah alat untuk mengendalikan Tuhan agar menyesuaikan diri-Nya dengan permintaan kita, tetapi adalah adalah bentuk pengakuan kita atas seluruh karya Tuhan dalam kehidupan. Maka kebiasaan berdoa yang sudah kita miliki patut muncul dalam tindakan yang tidak biasa. Secara luar biasa Allah sudah menjangkau dan menyelamatkan kita maka doa bukan lagi hal biasa tetapi hal yang luar biasa sebab muncul dalam tindakan. Tetaplah berdoa dan setialah mewujdukan doa dalam hidup sehari-hari itulah yang berkenan kepada-Nya.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |