Dibaca : 21975 x
Catatan RefleksiMinggu, 11 Oktober 2015 Kidung Agung 8: 6-7 CINTA KUAT SEPERTI MAUT
Kidung tentang cinta sejati pasti diwarnai dengan bahasa inspirasi yang tidak terbungkus suasana romantis saja tetapi sekaligus pengorbanan. Henry Nouwen pernah katakan bahwa keputusan untuk mencintai adalah keputusan untuk menderita sebab ketika cinta dinyatakan, disanalah terbentuk pengorbanan. Bukankah ini ungkapan yang tepat sebab ketika cinta hanya berupa kidung maka cinta berhenti pada istilah.
Salomo dalam bacaan kita hari in mengemukakan bahwa cinta sejati seperti meterai di hati dan di lengan (ayat 6). Firman Tuhan ini dengan jelas mengungkapkan bahwa cinta sejati hadir di hati. Ia (cinta) menggerakkan seluruh rasa yang dimiliki manusia dan bergerak dalam irama yang teratur dan mempesona. Ia (cinta) dihati untuk memperlihatkan bahwa cinta bagaikan bagian tubuh yang perlu terjaga dan terawat. Ini menunjukkan bahwa cinta yang sejati tidak pernah berhenti untuk terus diperjuangkan. Cinta yang dimeteraikan di hati menunjukkan bahwa cinta suci selalu terjaga sebagai bagian yang penting dan kudus. Di bagian hati maka cinta selalu menggelorakan kebajikan dan kemurahan yanh diliputi dengan sukacita. Cinta yang demikian tidak akan mudah mengalami erosi atau polusi namun terus mengalir dalam kerendahan hati serta pengabdian.
Saat ini kita hidup di tengah suasana cinta yang diperdagangkan dan menjadi alat kejahatan. Ketika dosa hadir dengan kekuatannya yang memisahkan manusia dari Allah pada saat itulah cinta sejati menjadi dangkal. Cinta hadir dengan wajah yang tidak bersahabat dan penuh dengan kebencian. Saat ini setiap orang muda perlu menghayati bahwa cinta yang agung dari Allah merupakan cinta yang diwarnai dengan pengorbanan maka kitapun menanggapinya dengan penuh syukur.
Kemudian cinta sejati dimeteraikan di lengan sebagai bentuk pernyataan eksternal bahwa cintapun nampak di ruang publik. Cinta sejati selalu mendorong seseorang menyatakannya secara sopan dan santun di ruang publik. Maka kesaksian tentang cinta bukan dengan kata-kata saja tetapi yang terutama adalah dalam tindakan. Di tengah merosotnya makna cinta dewasa ini, setiap pemuda/i dapat mewujudkan cinta dalam aksi nyata yang sopan dan santun. Munculnya persoalan di lingkungan keluarga seringkali disebabkan karena cinta mengalami pendangkalan makna. Di keluarga cinta mendapat ruang yang hangat dan penuh dengan kegembiraan, sebab di keluargalah belajar tentang cinta sejati menjadi kegembiraan. Cinta pada saudara, orang tua maupun kekasih adalah cinta yang terus disinari oleh cinta kepada Yesus Kristus. Maka jangan jual cinta itu, jangan hempaskan cinta itu tetapi sebaliknya selalu jaga dan rawat cinta itu, supaya setiap arus kejahatan maupun arus harta benda tidak memadamkan cinta yang sejati.
Kata hikmat:Ia mencintai kita bukan karena kita pantas dicintai tetapi supaya kita pantas untuk mencintai. (Timothy Keller)

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |