aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 22792 x

Catatan Refleksi
Rabu, 19 Agustus 2015
3 Yoh. 1:2
KEMERDEKAAN



(Refleksi 70 tahun HUT Republik Indonesia dan Maknanya bagi Keluarga)



Merdeka menjadi kata yang menonjol akhir-akhir ini, terutama jika dikaitkan dengan perayaan 17 Agustus. Dalam konteks ini kata merdeka menukik pada dua hal penting yakni masa lalu dan masa depan. Merdeka hanya memiliki arti ketika kedua hal tersebut menyatu dalam kekinian. Kemerdekaan yang tidak hanya berarti "merdeka dari" tetapi sekaligus berarti "merdeka untuk". Ketika kata merdeka hanya ditempatkan pada sisi `merdeka dari� maka kualitas kehidupan kita hanya terpaku pada masa romantisme tentang perjuangan dan sederet usaha dimasa lalu. Dengan mengusung `merdeka untuk� maka kita tidak pasif dalam memberi apresiasi tetapi aktif mewujudkan apresisiasi itu dalam rentetan sejarah dan terus berikhtiar mengarah kemasa depan. Dalam konteks inilah kemerdekaan lalu menjadi semangat untuk terus berkarya dengan sepenuh hati dan dengan ketetapan hati. Disini merdeka lalu menjadi aktualisasi diri dalam ranah publik sebagai sebuah komunitas yang militan (berjuang) dengan identitas yang jelas sebagai umat milik Kristus (1 Petrus 2 : 9).



Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang merdeka sebagai ciptaan Allah untuk mengelola semua ciptaan Allah yang lain. Namun merdeka yang tanpa arah akan mereduksi nilai-nilai kemerdekaan itu sendiri sebagaimana terjadi dalam kejatuhan kedalam dosa yang diperbuat manusia. Manusia diciptakan Allah sebagai mahluk yang merdeka namun sekaligus ia terikat pada ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Allah sendiri. Ia merdeka namun sekaligus terikat pada sumber hidup yakni Allah yang hadir dalam kemerdekaan yang absolute. Ini berarti merdeka bukanlah sebuah kehidupan yang tanpa keteraturan sebab dalam ketidakteraturan merdeka hanyalah issue yang mendominasi akal dan tidak aktual.




Rasul Paulus dengan tegas menyatakan bahwa merdeka bukanlah milik pribadi yang bersifat eksklusif namun milik bersama dalam semangat inkusif (bnd. Gal. 5:13). Dengan sifat merdeka yang demikian maka kesadaran kita tentang kemerdekaan diarahkan pada �merdeka untuk�. Pertanyaan mendasar dalam konteks diatas ialah apakah kita sudah merdeka? jika kita memahami kemerdekaan hanya sebatas ` merdeka dari� maka sesungguhnya kita belum merdeka. Bukankah seumur hidup, kita tidak pernah dapat merdeka secara absolut? kita mungkin sudah merdeka dari sakit saat ini, namun bukankah kita yang sembuh tetap akan mengalami sakit ?. kita mungkin sudah merdeka dari pergumulan, namun bukankah pergumulan akrab dengan kehidupan kita? kalau demikian halnya maka kemerdekaan sebagaimana dikemukakan oleh R. Paulus adalah `kemerdekaan untuk�. Kita bisa saja berada dalam pergumulan namun kita tetap merdeka sebab tidak terjajah oleh pergumulan itu sendiri. Kenapa ? sebab Yesus telah memerdekakan kita semua. Ia memerdekakan kita dari belenggu kematian dengan kuasa yang menghidupkan. Disinilah merdeka menjadi penting yakni hadir bagi sesama dalam pelayanan kasih sebagai jawaban kita atas karya penyelamatan yang bertolak dari kasih karunia-Nya.



Dengan begitu kehidupan keluarga kitapun menjadi wadah terwujudnya kemerdekaan yakni ketika kita melayani dalam kasih. Relasi dalam keluarga yang merdeka akan membuka peluang terwujudnya pelayanan kasih. Keluarga yang merdeka berarti bahwa setiap anggota didalamnya menghayati peran masing-masing dengan sepenuh hati dan berketetapan hati. Melayani dalam kasih satu dengan yang lain sehingga yang lain mengalami juga kemerdekaan. Kemerdekaan untuk senantiasa mengatualisasi diri bagi kemuliaan-Nya merupakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Keluarga adalah basis dimana kemerdekaan tidak dihayati secara eksklusif namun inklusif ketika pasangan kita semakin bertumbuh dalam iman dan ketika anak-anak kita semakin bertumbuh dalam kasih dan pengharapan sehingga dapat menyatakan kebajikan bagi sesama.



Era masa kini dimana eksploitasi rasa kurang dielaborasi sedemikian rupa sehingga manusia terbentuk dengan rasa tidak puas, maka keluarga menjadi persekutuan yang semakin terancam. Keluarga dengan tekanan yang demikian hebat semakin jauh dari rasa merdeka. Diperlukan kesehatan yang bersifat batiniah (band. 3Yoh. 1:2) yang merepresentasikan `hidup� yang dikaruniakan oleh Allah dan bermuara pada sikap `menanggapi� setiap karya-Nya.




Maka keluarga yang merdeka adalah perjuangan yang tidak pernah berakhir untuk mewujudkan keluarga yang admiranda (Lat. : dikagumi) dan sekaligus Amanda (Lat. : dicintai). Jangan pernah menyerah dalam hidup ini sebab Ia yang menjadi sumber hidup kita yakni Yesus Kristus selalu selalu hadir dengan kuasa yang memerdekakan. Maju terus bersama Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya kemerdekaan kita dan perjuangan kita untuk memerdekakan sesama tidak pernah sia-sia.


DIRGAHAYU INDONESIA, MERDEKA.



Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Catatan Refleksi:

Selasa 7 April 2026
RUANG RINDU (Letto)

Jumat, 16 Agustus 2024
MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKA

Selasa, 21 Februari 2023
SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHA

Sabtu, 24 Desember 2022
DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTA

Sabtu, 04 Juni 2022
GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKES

Jumat, 31 Desember 2021
PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUN

Rabu, 07 Juli 2021
KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA

Rabu, 22 April 2020
NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPAN

Rabu, 13 Nopember 2019
HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIAN

Selasa, 29 Oktober 2019
TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)

Arsip Catatan Refleksi..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2)