Dibaca : 24018 x
KhotbahSabtu, 06 Juni 2015 1 Petrus 2: 1-10 DISELAMATKAN UNTUK MEMBERKATI

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Menjadi berarti bagi sesama dalam perspektif panggilan dan pengutusan selaku umat Tuhan merupakan hal yang biasa. Kenapa? Sebab menjadi berarti bagi sesama bahkan membawa damai sejahtera bagi sesama tidak perlu harus seorang Kristen. Setiap orang yang tidak percaya kepada Yesus sekalipun mampu menghadirkan arti bagi sesama, apalagi dalam dunia masa kini yang sangat menjunjung tinggi filsafat humanism. Maka menjadi berarti bagi sesama dalam norma dan nilai Kristiani tentu menjadi pembeda, dan sekaligus penanda bahwa setiap orang percaya memiliki identitas yang jelas.
Petrus menyatakan dalam perikop bacaan kita saat ini bahwa kehadiran setiap pengikut Yesus Kristus memiliki potensi yang besar untuk selalu hidup dengan benar. Hidup benar bukan saja dalam arti menjadi baik tetapi nilai apakah yang terkandung dibalik setiap kebajikan tersebut. Sehingga hidup secara benar bukan lagi atas desakan dan dorongan anasir-anasir lain di luar Yesus Kristus tetapi hidup secara benar menjelma menjadi nature setiap orang percaya. Maka dalam pemahaman teks kita saat ini menjadi berkat bagi sesama mengkristal dalam semua lini kehidupan dengan pondasi yang kokoh. Maka hidup yang benar dan menjadi berkat memiliki beberapa syarat yang penting untuk diperhatikan oleh umat yakni:
1. HINDARI KEBAJIKAN YANG HIPOKRIT (ayat 1)
Bagi setiap umat Tuhan kebajikan itu dilakukan sebagai bentuk tanggapan atas kebajikan Allah yang sudah dialami. Kebajikan tidak muncul sebagai suatu pertimbangan yang diliputi dengan hukum dagang yakni kebajikan yang dihadirkan dengan sikap untung-rugi. Kalau menguntungkan baiklah berbuat baik, jika tidak menguntungkan maka abaikan saja. Inilah kebajikan yang diliputi dengan hipokritisasi karena lahir dari hati yang kotor dan penuh dengan muslihat.
Bagi pengikut Yesus KEBAJIKAN ITU SUCI bagaikan bayi yang mendapat asupan air susu ibu (ayat 2). Hal ini menunjukkan bahwa umat Tuhan tampil secara natural karena kebajikannya tidak dibuat-buat, tetapi sebagai hasil dari perjumpaan dengan Tuhan yang secara pribadi mengubah kehidupan (Petrus mengalami hal ini, diubahkan dalam perjumpaan dengan Yesus paska pengkhianatan).
Dalam pemahaman demikia maka Bulan pelkes GPIB bukanlah tradisi yang mengkristal dalam tindakan `aku punya� - `kamu tidak punya�. Bulan Pelkes bukanlah sebuah masa untuk mengeksploitasi kekurangan pada umat sehingga kehadiran jemaat bagaikan pejabat yang disambut dengan antusias karena modal yang akan mengalir. Maka Pelkes menjadi ladang dimana ketulusan hati dan kesucian pikiran tetap menggema dalam aksi nyata yang tidak hipokrit karena diselubungi dengan rencana tertentu.
2. MENJADI BATU YANG HIDUP DAN BUKAN BATU AKIK (ayat 5-7)
Menjadi pengikut Yesus yang menebarkan kebajikan dapat saja layu dalam tantangan yang menghantam ataupun rayuan yang menggoda. Berbuat kebajikan sekaligus adalah kenyataan yang tidak berdiri sendiri tetapi didasari oleh pengakuan bahwa oleh Yesus maka seluruh kebajikan tersebut berkenan kepada Allah. Inilah batu penjuru yang bernilai dan mahal karena tidak terkontaminasi oleh godaan, rayuan maupun tekanan yang dapat menundukkan karya damai sejahtera.
Maka selaku umat Tuhan yang terus menerus bertanding dalam dunia nyata maka KEBENARAN DAN KEBAJIKAN adalah titik awal karya yang bermuara pada PENGAKUAN BAHWA IA TELAH MEMANGGIL DAN MENGUTUS (ayat 9). Konsekuensi dari semua hal tersebut adalah KUDUS, yakni eksistensi umat Tuhan yang tidak mengalami split personality tetapi tangguh dalam menghadapi dunia yang arogan dan penuh kebusukan sekalipun dipoles dengan keindahan.
Sahabat-sahabat yang terkasih dalam Yesus Kristus
Pemahaman inilah yang menandai berlangsungnya bulan Pelkes GPIB yakni bulan yang penuh sukacita untuk terus berbagi dan bermanfaat bagi banyak pihak. Sekaligus bulan Pelkes menjadi masa untuk merenungkan kembali sudah sejauh manakah kita ber-Pelkes? Sebab ketika Pelkes akhirnya membuat pihak lain bergantung, saat itulah kita menyadari ada yang harus diperbarui. Sebab ketika Pelkes berorinetasi pada eksplotasi kekurangan pihak lain, kita lalu menyadari bahwa Pelkes ternyata juga perlu diwujudkan di lingkungan suburban.
SELAMAT MEMASUKI BULAN PELKES GPIB, TUHAN YESUS MEMBERKATI. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|