Dibaca : 24004 x
KhotbahSelasa, 28 April 2015 Yesaya 44: 21-28 KEMBALILAH KEPADA-KU

Khotbah Minggu, 3 Mei 2015
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Panggilan dan pemilihan Allah atas Israel merupakan peristiwa besar yang tidak dapat diterjemahkan oleh bahasa manusia. Panggilan dan pemilihan Allah bukanlah sebuah `holy accident� tetapi didasarkan pada kemerdekaan Allah yang penuh kasih karunia. Panggilan dan pemilihan ini lalu hadir dalam sejarah Israel sebagai peristiwa yang kontekstual. Penyertaan Allah dalam kehidupan umat berlangsung dalam rentang sejarah umat sehingga umat dapat menyadur kembali kisah dan karya Allah. Allah yang bertindak dalam kasih-Nya kemudian mendampingi sehingga dampak pendampingan tersebut mengubah pandangan umat secara mendasar. Inilah perubahan yang ditampilkan dalam kisah Yakub yang menjadi Israel (Yes. 44: 1). Pendampingan yang kemudian menghadirkan kesadaran dalam hati sanubari umat bahwa penyertaan-Nya tidak berhenti pada satu generasi tetapi terus berlanjut pada generasi yang berikut (Yes. 44: 4-5).
Allah menempatkan umat-Nya dalam perlindungan dari berbagai ancaman yang akan merendahkan pilihan dan panggilan Allah. Ia bertindak dalam kesadaran dan kemerdekaan-Nya yang tidak terjangkau dan tidak terjemahkan oleh nalar manusia. `Siapakah seperti Aku?� (Yes. 44:7) hendak menegaskan bahwa umat hanyalah debu tanah dihadapan-Nya sehingga tidak pantas untuk mengabaikan segala kebajikan-Nya. Siapakah seperti Aku menjadi peringatan kepada umat bahwa eksistensi umat berkaitan erat dengan pengakuan bahwa dalam tindakan pemilihan dan panggilan bagi umat selalu mawas diri dan dengan `elegan� mengakui-Nya.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Pilihan dan panggilan Allah bagi umat perlu terus dihayati sebagai karya yang mendatangkan pengharapan sekalipun di tengah pergulatan dan pergumulan. Umat yang berhadapan dengan berbagai persoalan kehidupan bukanlah alasan untuk kemudian menentukan diri bahkan mencabut diri dari relasi dengan Allah. Umat yang bergumul dengan berbagai masalah bukanlah kesempatan untuk menyatakan penolakan terhadap kasih karunia-Nya. Inilah yang secara tegas dikemukakan dalam bacaan kita hari ini bahwa mengesampingkan Allah dengan cara menyembah berhala bukanlah hal biasa. Bukan hal sederhana sebab itu berarti merendahkan dan meruntuhkan kewibawaan Allah dengan perilaku yang tidak santun. Menafikan keterlibatan Allah ketika umat sedang berjuang dalam persoalan merupakan tindakan yang mengabaikan kehormatan dan kedaulatan-Nya.
Namun panggilan dan pilihan Allah bukanlah sebuah insiden tetapi hadir dengan penuh kasih karunia (band. Imamat 26:44). Ia yang mengasihi bukanlah dalam tindakan spontan namun terjadi dalam kedalaman rencana dan gagasan yang luar biasa. Maka melalui bacaan ini hendak dikemukakan bahwa:
1. Illah di Babel bukan Allah Israel (ayat 21-22)
Jika umat mengalami lupa pada Allah maka Ia mengingatkan mereka bahwa mereka tercipta dalam rahim kasih karunia-Nya dan dialiri oleh aliran air kehidupan yang memancar dari hati yang penuh cinta. `Ubi amor ibi oculus, dimana cinta hadir disitu ada mata. Allah yang mencintai umat adalah Allah yang melihat keberadaan umat dan tidak menutup mata dari penderitaan umat. Sekaligus Ia menegur dan memanggil umat untuk kembali mengalai pemulihan dalam dekapan cinta-Nya. Illah Babel tidak demikian, disembah tetapi hasil karya manusia, disembah tetapi tidak melihat apalagi merasakan. Maka panggilan kepada umat untuk mengingat semua karya Allah direntang sejarah umat merupakan perwujudkan cinta kasih yang tidak terlukiskan.
Saat ini kita hidup di dunia yang penuh dengan kekerasan bahkan melegalkan kekerasan. Dunia di sekitar kita sesak dengan aroma kedengkian yang hadir kekuasaan masif dan berkobar dalam semangat otoritarian. Kita hadir di tengah suasana yang diliputi ketidakpastian seperti harga bensin yang naik turun seperti yoyo. Pergulatan umat Tuhan saat ini bisa hadir dalam bentuk eksplisit tetapi juga hadir sayatan-sayatan halus yang mematikan melalui bagaikan vampire yang menghisap darah sampai tetes akhir. Pergulatan umat Tuhan saat ini bagaikan Daud yang berhadapan dengan Goliat kekuasaan yang bisa merubah hitam menjadi putih dan sebaliknya.
Seluruh bentuk pergumulan yang dialami bukanlah alasan-sekali lagi- bukanlah alasan untuk melupakan karya Allah dipanggung sejarah kehidupan kita, karya Allah didalam rencana-Nya yang memunculkan pengharapan. Ia telah memanggil dan memilih kita untuk menegaskan kembali gagasan dan ide yang terkandung dalam setiap karya dan menukik dalam hati sanubari kita.
Karenanya kita perlu terus diingatkan agar tidak mengalami penyakit lupa secara rohani, lupa terhadap siapa kita sebenarnya dihadapan Allah. Kita perlu terus diingatkan bahwa karya penebusan-Nya tidak tergantikan oleh apapun. Maka janganlah menyembah ilah babel yakni segala sesuatu yang kita bangun berdasarkan pengetahuan seolah Allah tidak berarti.
Kita bisa lupa, tetapi Allah tidak pernah lupa, sebab Ia mencintai kita semua dengan cara yang luar biasa yakni MELIHAT, ubi amor ibi oculus.
2. Pembebasan Allah dalam semangat cinta (ayat 24-28)
Adakah yang kekal dalam kehidupan manusia? Adakah pengetahuan atau kedudukan menjadi simbol kekekalan? Adakah manusia yang dapat berseru kepada-Nya `akulah kekekalan�, maka pergumulan dan persoalanpun bukanlah kekekalan sebab hanya Allah yang kekal (Kej. 21: 33, Yes. 26:4). Allah yang kekal itulah yang bertindak membebaskan dan bertindak dalam ruang kekuasaan yang tidak terbatas baik alam amupun manusia, baik tubir lautan (ayat 27) maupun Koresh (ayat 28). Allah yang kekal adalah Allah yang bertindak dalam kekelan untuk mendatangkan damai sejahtera.
Allah yang kekal adalah Allah yang terus berkarya dalam kehidupan kita yang fana. Maka sebagai insan (arab, insaniyah-pelupa) kita semua perlu terus diingatkan bahwa kedudukan, jabatan, kuasa tidak bersifat kekal, namun jika terbuka pada kuasa Allah yang kekal maka kedudukan, jabatan dan kuasa mendatangkan manfaat bagi banyak orang. Kita perlu selalu dingatkan bahwa batu akik tidak kekal tetapi Yesus Kristus adalah batu penjuru yang kekal.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Ia memanggil kita dalam kuasa yang kekal untuk mengalami kekekalan cinta-Nya sebab Ia melihat apa yang menjadi pergulatan kita dalam hidup setiap hari. Ubi amor ibi oculus.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya, jerih lelah kita tidak sia-sia. amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|