Dibaca : 24191 x
KhotbahSabtu, 21 Februari 2015 Ester 1: 1-22 MENJADI PENDAMPING YANG SETIA

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Tema tentang kesetiaan menjadi tema yang sangat umum dan sering dianggap tidak menarik. Tema ini kadang dikategorikan sebagai bentuk imajinasi yang tidak lagi realistis. Dewasa ini kesetiaan sebagai bentuk tertinggi dari nilai kehidupan telah mengalami erosi. Kesetiaan diposisikan dalam bentuk transaksi yang mengakibatkan kesetiaan dapat diperjual belikan bahkan dinilai rendah. Hidup dalm kesetiaan dianggap tidak lagi popular di tengah generasi yang meyanjung pengkhianatan.
Nah, repotnya seringkali pengkhianatan kepada Allah diperlihatkan dalam bentuk aktifitas `religius� yang semarak. Kesetiaan yang menjadi roh dari sebuah persekutuan menjadi tawar dan tidak berarti. Di tengah kegairahan untuk beribadah nampak sekali bahwa kesetiaan hanyalah kesetiaan dalam perspektif transaksi.
Kisah ratu Wasti dalam bacaaan ini memperlihatkan bahwa kesetiaan mutlak yang dituntut dari sang ratu berdasar pada pemahaman transaksi. Raja yang sedang dikuasai oleh anggur adalah raja yang kemudian menjadi sangat emosi dengan penolakan Wasti. Sebuah penolakan yang memperlihatkan adanya perlawanan dan pembangkangan yang dalam pandangan waktu itu dianggap memberontak. Wasti tidak memenuhi kemauan sag raja sehingga hal ini merupakan pukulan keras bagi raja di ruang publik. Wasti dianggap tidak menunjukkan hormat kepada sang raja melalui keputusannya. Wasti dianggap meruntuhkan kewibawaan sang raja dalam peristiwa terebut yang dapat berakibat pada kematian. Alasan penilakan tidak dijelaskan dalam Alkitab, apakah Wasti pemalu, seorang yang introvert, apakah Wasti sedang galau? Namun yang pasti penolakan Wasti adalah bentuk tanggapan terhadap panggilan sang raja.
Melalui bagian dapat kita pelajari bahwa kesetiaan bukanlah baran dagangan yang dibangun dengan semangat transaksional. Ketika sebuah relasi suami-istri dibangun dengan semangat ini maka setiap perbedaan atau ketidaksesuaian dapat dianggap sebagai pembangkangan. Suami-istri yang relasinya berdasarkan pandanga dunia yang bersifat untung-rugi akan diperhadapkan dengan banyak masalah. Penolakan Wasti adalah bentuk sikap yang tegas bahwa ia dapat membuat keputusan. Apakah keputusan yang setiap perempuan buat di tengah situasi yang penuh tantangan? Bisakah keputusan itu dibuat dengan sikap yang jelas dan kuat agar suami tidak dipermalukan? Inilah yang menjadi tantangan bagi perempuan gereja bahwa ia tidak sederhana dalam tugasnya di rumah maupun di masyarakat. Perempuan Kristiani dapat membuat keputusan yang diyakini benar. Inilah hakikat kesetiaan yakni kesetiaan yang tidak membabi buta atau bahkan kesetiaan tanpa sikap untung rugi sebab alangkah mulia sikap suami yang mendapatkan kesetiaan istri tanpa sikap dominasi. Suami-istri adalah persekutuan yang dibangun dengan semangat dialogis dan saling menghormati. Inilah berita yang perlu dikumandangkan oleh setiap anggota Pelkat PKP bahwa perempuan mempunyai hak yang sama untuk membuat keputusan dan ini bukanlah pembangkangan terhadap laki-laki.
Ayat 13-14 menunjukkan bahwa pertanyaan raja kepada para penasihatnya adalah pertanyaan yang bersifat mendasar, apakah yang harus dilakukan. Maka Memukan dalam nasihatnya kepada sang raja tidak bersifat meneduhkan sebaliknya memberi nasihat yang penuh racun (ayat 16). Ini berarti bahwa sebuah nasihat yang seharusnya memberi keteduhan sebaliknya telah menimbulkan kekacauan. Nasihat yang diberikan adalah nasihat dari sudut pandang laki-laki yang mendominasi atau bahkan sebuah nasihat yang penuh kepalsuan untuk mendapat keuntungan.
Konflik di jemaat Filipi dengan pelakunya adalah Euodia dan Sintikhe dapat menjadi contoh ketika Paulus menasihati mereka untuk sehati sepikir dalam Tuhan (Fil. 4:2). Memberi nasihat adalah memberi petuah yang seharusnya disampaikan dengan tulus dan bermartabat. Tidak dengan menarik permasalahan semakin runcing dan tajam dalam konflik.
Ketika suami-istri dilanda dengan konflik nasihat siapakah yang hendak didengar? Nasihat Tuhan atau nasihat hantu? Bukankah hantupun saat ini dapat memberi nasihat? Maka melalui perikop ini hendak dikemukakan juga bahwa mencari nasihat yang berhikmat hanya didapatkan dalam hubungan yang dekat dengan Tuhan. Jangan mendengar nasihat dunia tentang kesetiaan yang hanya berujung pengkhianatan, sebab setia pada dasarnya adalah kesediaan untuk berkurban. Bersediakah?

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|