aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 24854 x

Khotbah
Sabtu, 14 Februari 2015
1 Raja-raja 17: 7-16
KEBAJIKAN ADALAH SEBUAH PERSEMBAHAN




Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,



Sebuah pemberian yang tidak bertolak dari semangat transaksi menjadi suatu kemustahilan sebab adakah sebuah pemberian yang nirtransaksi? Hidup sehari-hari kita diwarnai dengan tarikan yang bersifat untung-rugi sebagai sebuah pola hidup yang normal. Godaan itu bahkan muncul dalam peristiwa ibadah yang sering diberi makna mencari sesuatu dan mendapatkan sesuatu. Paulus yang dalam komentarnya bahkan sampai memberi penekanan bahwa memberi diri yang kudus dan yang berkenan kepada Allah merupakan ibadah sejati menunjukkan bahwa semangat `dagang rohani� begitu kental dalam kehidupan umat (band. Roma 12:1).

Seluruh gagasan dan alur berpikir yang demikian nampak kontras dengan bacaan kita saat ini yang mengedepankan tindakan tindakan kurban. Apa yang akan diberikan jika ini adalah makanan terakhir (ayat 12 ....setelah kami memakannya kami akan mati). Sungguh sebuah adegan yang menegangkan ketika seorang ibu yang memungut kayu kering akan menjumpai kematian dan saat yang sama berjumpa dengan permohonan.



Namun disela-sela keadaan genting itu masih tinggal sebuah keyakinan berdasarkan pendengaran akan firman Tuhan (ayat 13). Janganlah Takut adalah pernyataan yang kuat dari Allah bukan hanya untuk si janda dari Sarfat namun juga untuk sang nabi Elia. Tuhan tidak menyuruh Elia kepada janda seperti di Sunem (kisah Elisa) tetapi kepada janda yang sedang mengalami kesulitan besar. bukankah ini juga memerlukan keberanian sehingga `Jangan Takut� merupakan seruan yang dihayati betul oleh Elia. Keduanya yakni Elia dan Janda Sarfat mendapat kekuatan untuk meneruskan kehidupan yang didasari dengan penyerahan yang tidak diwarnai semangat transaksional tetapi bergerak berdasarkan pernyataan `jangan takut�.



Sahabat-sahabat yang terkasih,

Apakah yang dapat disampaikan dari kisah `heroik� ini? Paling tidak ada 2 hal penting yakni:



1. Perjumpaan Elia dan Janda Sarfat adalah perjumpaan dalam kesejajaran. Menyadari keadaan yang sama tentu memerlukan keberanian tersendiri. Bagi gereja saat ini menyadari bahwa ia sejajar dengan semua insan dan melampaui perbedaan status, posisi bahkan agama memerlukan kesediaan untuk mengakui kedaulatan firman Tuhan, jangan takut. Ketakutan yang bersumber dari perbedaan social dapat menjadi penghalang untuk gereja maupun lingkungannya berjumpa dengan damai sejahtera. Kita perlu membangun relasi yang tidak didasari kalkulasi untung-rugi sehinga menciptakan tembok-tembok pemisah yang kokoh. Kita perlu juga menghayati tentang pentingnya ketaatan terhadap firman Tuhan yang kadang memberi perintah bersifat luar biasa.



2. Perjumpaan Elia dan Janda Sarfat adalah perjumpaan yang menegaskan karya Allah melampaui batas-batas ciptaan manusia. Perjumpaan yang diwarnai dengan mujisat adalah perjumpaan dengan sesama yang menderita. Gereja yang mengalami mujisat adalah gereja yang berjumpa dengan sesame yang menderita. Gereja yang memberi dengan keterbatasan adalah gereja yang didominasi `jangan takut�. Inilah letak keistimewaan kurban. Memberi dari keterbatasan sebab memahami bahwa Ia sanggup melakukan yang tidak terbatas. Gereja (GPIB) yang sedang berada dalam proses penyusunan program kerja penting mengetahui pesan bahwa ia (gereja) memang terbatas tetapi Allah yang mengutusnya sungguh tidak terbatas.



Dengan pemahaman demikian maka setiap pemberian diri adalah pengakuan bahwa kurban menjadi sarana syukur. Syukur sebab Ia adalah sumber rasa syukur tersebut tetap berkarya walau di tengah keadaan yang terbatas.



Sahabat-sahabat terkasih,



Dengan pemahaman demikian masih adalah rasa takut jika kita berjumpa dengan mereka yang terbatas? Atau jangan-jangan kita sedang membatasi diri dalam panggilan dan pengutusan ini dan sekaligus membangun hubungan yang bersifat transaksional dengan-Nya. Semoga tidak demikian. Amin


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518