Dibaca : 23596 x
KhotbahMinggu, 18 Januari 2015 Matius 3:1-10 BERTOBATLAH

Dewasa ini kita diperhadapkan dengan begitu banyak pikiran yang berdasarkan pada asumsi, data maupun kesimpulan. Buah pemikiran itu dapat kita dengarkan dan kita baca dari berbagai media massa. Namun dari semua pemikiran yang dientaskan dalam tulisan dan merupakan produk berita dapat disimpulkan dalam 2 aliran besar yakni pikiran yang baik dan pikiran yang jahat. Pikiran yang baik akan nampak dari karya penulisan yang disampaikan dengan runtut, jernih dan bermuara pada kebaikan semua orang. Karya tulis yang baik bersumber dari pikiran yang jernih, tenang tidak arogan bahkan mungkin terkesan biasa-biasa saja. Kenapa hal ini dikemukakan? Apa hubungannya dengan teks bacaan kita saat ini?
Tampilnya Yohanes pembaptis dengan seruan agar terjadi pertobatan merupakan seruan yang ditujukan kepada orang farisi dan saduki (ayat 7 dan 8). Seruan pertobatan kepada semua orang nampaknya mendapat tanggapan yang baik sehingga banyak orang datang dan bersedia di baptis. Namun ketika orang farisi dan saduki berdiri di hadapan Yohanes Pembaptis nampak benar perbedaan seruan. Kali ini ia berseru sambil mengecam orang farisi dan saduki. Kecaman ini menusuk tajam bagi kelompok tersebut, yang datang dengan pikiran yang jahat. Orang farisi dan saduki yang tidak pernah akur dalam kehidupan sehari-hari nampak `bersatu� untuk menghadapi Yohanes. Inilah yang dijawab dengan tajam oleh Yohanes pembaptis. Bahwa mereka hadir dengan pikiran yang jahat, penuh tipu muslihat dan mematikan (seperti ular beludak). Sifat yang dimiliki mengandung racun yang bertolak dari pola pikir mereka yang kemudian muncul dalam tindakan.
Seruan Yohanes pembaptis adalah seruan untuk bertobat agar tidak merasa aman dan nyaman dalam tradisi mereka. Kehidupan mereka yang sarat dengan kemunafikan dibongkar oleh Yohanes pembaptis untuk memperjelas betapa pentingnya sebuah pertobatan (ayat 8).
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Maka pertobatan dalam konteks ini adalah pertobatan dimana seseorang mengalami pembaruan dalam cara berpikir. Bertobat dari pikiran lama yang membelenggu dan meruntuhkan identitas selaku umat Allah. Bertobatlah dari perilaku yang bersumber dari pemikiran yang jauh dari Tuhan serta diselimuti dengan kemunafikan yang berbisa dan membunuh.
Pertobatan adalah pembaruan cara berpikir yang kemudian muncul dalam tindakan yang baik dan tidak terbatas pada kelompok tertentu, golongan tertentu tetapi dialami oleh semua pihak. Kisah 26:20 menyatakan, "Tetapi mula-mula aku memberitakan bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu."
Maka pertobatan merupakan hal penting untuk dialami dan tidak mungkin pertobatan itu tidak disertai dengan iman. Iman dan pertobatan berjalan bersama sebab dalam pertobatan seseorang memiliki iman kepada Yesus Kristus yang adalah anugerah-Nya. Pertobatan dan iman saling mengisi dan melengkapi sehingga muncul dalam tindakan yang baik (bacalah Galatia 5: 19-23, 2 Kor. 5:17). Jadi sebuah pertobatan selalu bermuara pada kehidupan yang dituntun oleh Roh Kudus dan muncul dalam tindakan yang baik.
Dalam konteks Matius maka pertobatan ini diserukan kepada komunitas Yahudi yang berpikir bahwa mereka keturunan Abraham dan karena itu memeiliki keistimewaan. Ini jelas pola pikir yang keliru sebab Yohanes pembaptis menyatakan bahwa justru karena mereka adalah keturunan Abraham pola pikir mereka seharusnya adalah menjadi berkat bagi segala bangsa / banyak orang dan bukan hanya bagi golongan mereka sendiri. Inilah pertobatan yang sejati yakni memperbarui pola pikir mereka hanya kepada Yesus dan muncul dalam karya yang bagi sesame.
Sahabat-sahabat terkasih,
Bertolak dari pemahaman inilah maka selaku warga gereja kita juga perlu bertobat jika pikiran kita tidak terarah kepada Yesus dan bangga dengan perilaku keagamaan yang normative. Warga gereja harus mengalami pertobatan agar kita tidak terjungkal oleh pikiran yang diliputi dengan kejahatan seperti ular beludak. Allah mau mengutus kita seperti halnya Ia mengutus Yohanes pembaptis sehingga kita semua berada dalam pembaruan pola pikir yang berdampak pada:
1. Karya yang bersifat lintas golongan. Kita bukan warga gereja yang hanya bangga dengan kemampuan internal kita dan menutup diri dari dunia disekitar kita. Kita menjadi berkat bagi dunia di sekitar kita sebab Ia mengutus kita untuk itu.
2. Karya yang bersifat eskatologis bahwa dalam menyambut kedatangan-Nya harus ada pembaruan diri yang berawal dari pertobatan yakni perubahan pola pikir dan berujung pada tindakan.
Dengan begitu kita dapat memahami betapa baiknya Tuhan yang selalu menanti kita dalam kasih-Nya untuk memperbarui kita dan kehidupan pelayanan kita. Ada banyak virus yang mau merusak pola pikir kita, ada banyak racun yang akan mereduksi kemampuan berpikir kita yang baik. Namun didalam pertobatan, kita akan menangkal semuanya bersama Roh Kudus. Semuanya menjadi penting sebab tidak lagi berorientasi diri sendiri tetapi muncul dalam keseragaman gerak bagi kemuliaan Yesus Kristus. Hanya mereka yang sudah bertobat dapat juga berseru bertobatlah...lalu muncul dalam tindakan yang baik. Maukah? Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|