Dibaca : 23989 x
KhotbahMinggu, 19 Oktober 2014 Roma 12 :9-11 PELAKU PERDAMAIAN
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Memiliki pemahaman bahwa gereja adalah persekutuan yang beragam memerlukan kemauan kuat untuk mengakuinya. Kenapa ? sebab sebagai persekutuan Gereja juga mengalami tantangan untuk bersikap terkotak-kotak, berada dalam ikatan yang bersifat `primordial�. Inilah tantangan yang tidak bisa diabaikan sebab jika pengkotak-kotakan tetap terjaga dan terpelihara maka Gereja akan kehilangan esensi dari panggilan dan pengutusannya yang bermuara kepada kemuliaan Tuhan Yesus. Ia yang tidak pernah membangun tembok pemisah, Ia yang tidak pernah membangun persekutuan elit dan non-elit, Ia yang tidak membangun budaya `I Centris�. Inilah identitas yang perlu terus terjaga dan terpelihara di tengah berbagai keragaman yang ada dalam gereja. Keberagaman itu bukan alasan bagi Gereja untuk membangun tembok-tembok kokoh dan memisahkan.
Kepada jemaat di Roma, Paulus menyampaikan bahwa keberagaman itu menemukan bentuknya yang ideal ketika mereka menghayati bahwa: hidup adalah ibadah (ayat 1) dan menguasai diri menurut ukuran iman (ayat 3). Jika umat memahami bahwa mereka berada dalam relasi yang beribadah dengan Tuhan maka umat perlu menyadari bahwa dirinya adalah `responder� - yang menanggapi. Seluruh keberadaan kita adalah menanggapi dan bukan `inisiator� - yang berinisiatif, sebab Allah yang mengambil inisiatif dan gereja hadir dengan manusia menanggapi inisiatif-Nya. Seluruh kehadiran kita dalam beribadah lalu memiliki pondasi utama yakni menanggapi kasih Allah. Dengan memahami hal demikian maka Gereja didorong untuk terus menguasai diri dengan menurut ukuran iman, yakni mengimani bahwa dirinya berada dalam kasih karunia Allah yang luar biasa.
Kenyataan yang dihadapi oleh umat seringkali tidak meyenangkan sebab umat selalu diposisikan sebagai lawan. Umat sering berada dalam keadaan sebagai umat yang disudutkan oleh karena iman kepada Yesus. Namun perilaku yang demikian tidak menjadi alasan untuk umat berlaku sama (ayat 2), sebaliknya umat menjawab semua bentuk penolakan itu dengan tetap menghadirkan kebaikan. Inilah perbedaan umat dari dunia, inilah yang membedakan Gereja dari partai politik, yakni kultur yang dibangunnya selalu berorientasi kepada Yesus.
Dunia ini sudah pekat dengan berbagai polusi dan kejahatan dari moral sampai kriminal. Dunia ini dikuasai oleh mafia kejahatan yang memakai nama kuasa untuk membungkan kebenaran. Dunia ini sudah diliputi oleh kejahatan yang demikian sistematis sehingga menghadirkan korban yang secara sistematis berjatuhan. Gereja hadir di tengah dunia seperti ini dan hadir dengan nilai-nilai sendiri yang bagi dunia nampak bodoh, lemah dan nirkuasa. Gereja berada dalam kenyataan yang sungguh sangat menantang. Namun karya Allah melalui Roh Kudus terus mendampingi gereja untuk selalu menyatakan kebaikan yang berlawanan dengan kejahatan.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Dalam konteks demikialah kita akan memahami bacaan saat ini bahwa gereja sebagai persekutuan yang beragam memang tidak seragam. Mengasihi kalau bentuknya seragam alangkah dangkalnya dan bersikap hipokrit. Kasih jika dilakukan dalam keseragaman justru menampilkan wajah yang munafik dan tidak bersahabat karena berorientasi pada keuntungan. Maka kita disapa oleh Firman Tuhan demikian:
1. Mengasihi bukan berarti kompromi dengan kejahatan
Umat yang mengasihi adalah umat yang menanggapi Kasih Allah, mengasihi sebab pertama-tama sudah dikasihi Allah yang berinisiatif. Maka jika Allah mengasihi umat dengan kasih yang tidak munafik umatpun menanggapi kasih tersebut dengan cara yang sama. Mengasihi dalam kategori ini adalah mengasihi yang tidak kompromi dengan kajahatan. Allah adalah Allah yang suci dan menaggapi kasih Allah yang suci maka kasih umatpun harus dilakukan dengan tidak kompromi pada kejahatan. Kasih yang diperlihatkan dengan kejujuran dan ketulusan tanpa topeng. Kasih yang menjauhi kejahatan adalah kasih yang tidak bisa dikontrol oleh kejahatan - The word translated "abhor" (apostugeo) is only used here in the entire NT. It means "to have a vehement dislike for something, hate strongly." (bible.org)
Ini menunjukkan bahwa sebagai warga gereja saat ini kita perlu hadir dengan kasih yang beragam dan bukan seragam. Kasih yang beragam karena lahir dari setiap pribadi yang berbeda namun dipersatukan dalam persekutuan yang bernama Gereja. Kasih yang beragam lalu hadir di semua lini kehidupan kita sebagai anggota dari satu tubuh. Kasih yang beragam berarti bahwa setiap orang dapat mewujudkan kasihnya dalam relasi dengan Tuhan Yesus yang menghargai keberagama. Karena itulah kita semua hadir bagaikan dengan keberagaman kasih bagaikan pelangi yang kaya dengan warna.
2. Kasih bukan teori tetapi aksi
Berbagai teori tentang kasih sudah kita dengar, berbagai seminar tentang kasih mungkin sudah kita ikuti tetapi jika kasih itu tinggal sebagai teori saja, tidak dapat disebut sebagai kasih. Kasih tanpa tindakan adalah kepiwaian para actor di sinema yang gemar dengan sorotan lampu. Kasih seringkali tidak tampil dalam wajah yang glamour dan penuh sensasi, ia hadir dalam bentuk yang sederhana dan dirasakan oleh setiap anggota keluarga. Ini berarti aksi kasih yang paling utama dapat dirasakan dalam suasana kekeluargaan (ayat 10). Kasih persaudaraan atau Filadelphia adalah kasih yang tampil dalam kesederhanaan tapi bermakna tinggi. Kasih persaudaraan seperti ini dilakukan dengan roh yang menyala-nyala dan melayani Tuhan (ayat 11). Kasih persaudaraan seperti ini selalu hadir dengan semangat yang tidak padam untuk terus menyatakan sukacita. Dimanakah tempat untuk melakukan aksi kasih seperti ini? Jawabnya : Keluarga.
Sudahkah kita melihat sesama kita di Gereja sebagai persekutuan keluarga Allah? Wadah keluarga menjadi tempat untuk bersemainya kasih kasih yang tidak mencari keuntungan. Wadah keluarga adalah tempat dimana setiap anggotanya dapat mengekspresikan kasih dengan jujur dan apa adanya. Wadah keluarga adalah wadah dimana setiap kita dapat berjumpa dengan keindahan aksi kasih yang beragam dan bukan seragam.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|