Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Secara kontroversial kehadiran Yesus memang membuat banyak orang menjadi emosi bahkan keluarga-Nya sendiri. Rekasi terhadap tindakan Yesus memang memunculkan banyak dugaan, diantaranya ialah "Yesus tidak ikut arus", "militansi-Nya mengkawatirkan pihak tertentu". Sikap Yesus yang tidak sejalan dengan paradigma waktu itu memang memunculkan suasana yang menegangkan. Kehadiran-Nya sekaligus menuntut sikap yang jelas dan terbuka dalam relasi dengan sesama. Yesus tidak sedang berbasa basi dengan publik untuk mencari simpati, sebaliknya orang banyak (publik) dibuat-Nya terkaget-kaget. Sudah pasti ibu-Nya pun kaget dengan pernyataan Yesus ( Mark. 3:33). Namun apa yang dikemukakan Yesus menunjukkan bahwa Ia bertindak tidak dalam sikap emosional, sebaliknya dengan tajam Ia menyatakan ajaran yang berkaitan dengan tantangan pada kuasa Iblis / beelzebul.
Kehadiran Yesus di rumah lalu menjadi pijakan ajaran yang memerdekakan sehingga soal makan tidak diperhatikan. Rumah yang begitu ramai dan sesak sehingga tidak terbayangkan bahwa disana telah disediakan meja makan. Jadi keadaan yang demikian memperlihatkan bahwa ada `makanan� lain yang hendak disantap Yesus yang sangat dinikmati-Nya. Apakah yang dinikmati-Nya, tidak lain adalah sukacita mereka yang mengalami pembebasan. Bagi keluarga Yesus ini adalah tindakan tidak waras, sebab lebih mendahulukan kepentingan orang lain sementara diri sendiri tidak diperhatikan.
Pertama, bukankah suasana `tidak waras� itu bisa kita jumpai sekarang ketika menyaksikan orang dengan semangat besar melakukan hal besar tanpa memandang latar belakang. Jaman ini yang waras adalah melakukan kejahatan sementara yang mau melakukan kebajikan adalah sebuah ketidakwarasan. Gereja kadangkala juga masuk kategori waras dimana hadir untuk diri sendiri dan tidak lagi menghayati keistimewaan untuk menyampaikan Injil sebagai sebuah karya. Gereja waras adalah gereja yang hanya peduli dengan hal internal dalam bingkai kalkulasi logika. Memang kita perlu arif tetapi istilah ini jangan sampai menempatkan gereja pada posisi waras. Gereja seharusnya `tidak waras� sebab ketika semua orang hadir dan memandang harta sebagai tuhan, gereja tidak melakukan hal sama sebab hanya Yesus Kristus yang menjadi Tuhan (band. Rom 10:9)
Gereja kini hadir di tengah-tengah suasana hiruk pikuk dimana banyak orang menderita dan mengeluh. Beban berat sedang dipikul karena ekonomi tidak lagi bersahabat. Jurang kaya-miskin yang semakin lebar dan dalam, korupsi menjadi hantu yang hadir disemua lapisan termasuk gereja. Dititik inilah gereja hadir dengan `tidak waras�, karena mau untuk menguatkan, menopang, mendukung serta menyapa sesame sekalipun tidak seiman.
Kedua, memfitnah seseorang merupakan hal yang juga waras, sehingga Yesus diposisikan membangun aliansi dengan Beelzebul. Di ayat 23-26 diperlihatkan argumentasi yang logis bahwa kalau dalam satu rumah atau kerajaan ada perpecahan, maka sudah tiba waktu kesudahannya (ayat 26). Namun menghakimi orang lain dengan kata yang jahat merupakan cara paling waras untuk menghentikan ketidakwarasan.
Memojokkan orang lain dengan opini yang jahat di ruang publik merupakan hal biasa saat ini bahkan dalam pilpres sekalipun. Balck campaign, negative campaign dan semua yang destruktif menjadi sebuah kewarasan. Hidup lurus dan taat pada hukum adalah tidak waras. Polarisasi pemikiran yang demikian membuat gereja harus selalu waspada, apakah gereja masih waras atau sudah tidak waras.
Moral buruk adalah kewarasan, yang hidup mau hidup suci dianggap tidak waras, ini gaya dunia yang sunsang dalam peri kehidupan, sunsang dalam keluarga dan sunsang dalam iman.
Maka selaku umat Tuhan kita tidak perlu emosi dengan kenyataan demikian, tetapi selalu emosi dengan dosa, supaya gereja tetap waras sekalipun dianggap tidak waras. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita selalu waras sekalipun dunia bilang tidak waras. Amin