aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 24445 x

Khotbah
Minggu, 15 Juni 2014
Mazmur 29 : 1- 6
MULIAKANLAH ALLAH DAN DENGARKAN SUARA-NYA




Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,

Mazmur Daud ini dikemukakan sebagai sebuah ajakan agar seluruh umat berada dalam iringan yang sama memuliakan Allah. Memuliakan Allah tidak lagi dilihat sebagai tindakan individual namun diletakkan dalam posisi yang komunal. Allah yang dipermuliakan adalah Allah yang karya baik-Nya tidak dialami secara individual tetapi komunal yang tercermin dari sikap-Nya terhadap dunia. Memuliakan Allah tidak lagi sekedar tanggapan atas karya Allah namun didalamnya sekaligus terkandung sebuah pengakuan bahwa Ia adalah Penguasa / Raja (Maz. 24:10). Dalam konteks inilah maka pemujaan kepada Allah tidak berdiri sendiri namun diselimuti oleh sebuah pengakuan yang mendasar bahwa Dialah Allah dengan segala otoritas yang dimiliki-Nya mengendalikan seluruh ciptaan.

Memuliakan Allah bukanlah sekedar ungkapan verbal yang bergema tanpa makna tetapi memiliki kuasa yang bersifat membangun sebagaiman gagasan Ibu Teresa "kind words can be short and easy to speak but their echos are truly endless`. Maka memuliakan Allah tampil mempersona dalam balutan karya yang penuh belas kasih sebagaimana Ia sungguh mengasihi manusia. Kemuliaan bagi Allah yang digaungkan oleh para malaikat di padang kepada para gembala terkait erat dengan tindakan impresif para gembala menunjukkan bahwa kata-kata yang bijak dan membangun punya pengaruh yang besar bagi sesama.

Di sisi lain suara yang memuliakan Allah tidaklah keluar jika suara Allah tidak masuk menjadi bagian dari setiap orang. Pemazmur hendak mengatakan bahwa tidaklah mungkin engkau memuliakan Allah dengan suaramu jika suara-Nya engkau abaikan. Kalau yang masuk adalah yang baik maka keluarpun adalah baik, kalau yang masuk sampah maka yang keluarpun sama, sampah. Maka memuliakan Allah sumbernya adalah mendengar suara Allah tanpa mendengar suara-Nya mustahil ada suara yang memuliakan-Nya. Dengan pemahaman demikian maka kita bisa memahami pokok-pokok berikut :

1. Muliakan Allah dalam kekudusan (ayat 1-2)

Allah adalah kudus maka segala sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah haruslah Kudus. Kudus di sini menunjukkan adanya yang khas dan khusus sehingga memuliakan Allah tidak bisa dilakukan dengan memuliakan yang lain pada saat bersamaan. Memuliakan Allah bersifat khusus dan utuh sehingga tidak terbagi atau terbelah dengan hal lain. Kemuliaan bagi Allah tidak dapat digadaikan dengan hal lain sehingga dapat mengurangi kadar dari memuliakan-Nya. Dan dalam konteks inilah selaku warga gereja kita diundang memuliakan-Nya secara utuh, lengkap, orisinil, tidak palsu apalagi imitasi.
Hal ini penting sebab bukankah kemuliaan bagi Allah saat ini adalah istilah kosong, tanpa makna penuh intimidasi dengan ungkapan-ungkapan destruktif. Kita prihatin ketika gereja sebagai persekutuan yang dipanggil dan diutus tidak lagi hadir dengan suara memuliakan Allah sebaliknya menghina, merendahkan dan menyejajarkan semua pihak pada posisi yang berdosa ketika atas nama kebenaran bisa berbicara apa saja dan bertindak apa saja. Memuliakan Allah artinya mengakui bahwa hanya Dia yang absolut benar dan kebenaran horizontal adalah kebenaran dialogis. Memuliakan Allah sekaligus disertai dengan sujud dihadapan-Nya, menadahkan tangan dalam lafal ayat suci sembari kepala tertunduk dalam kepasrahan. Itulah hakikat memuliakan Allah yang sungguh bertentangan dengan arogansi dan melafalkan ayat-ayat hujat kepada sesama seperti yang diperlihatkan dalam pilpres.
Dunia bisa saja berperilaku demikian, tetapi tidak bagi kita semua dan dimulai dari rumah. Di rumah bersemai kemuliaan bagi Allah yang harumnya semerbak membawa wangi melati yang membumbung keatas menjadi persembahan harum bagi Allah. Di rumah yang bernama keluarga dan disebut GPIB, di rumah inilah keharuman itu semerbak bagi dunia di sekitar dalam masa bulan pelkes.

2. Suara memuliakan-Nya adalah mendengar Suara-Nya (ayat 3-6)

Menyuarakan kehendak-Nya berarti kita perlu paham apa kehendak-Nya. Sungguh ironis ketika suara memuliakan nama-Nya berujung pada memuliakan diri sendiri. Menyuarakan kehendak-Nya berarti perlu ruang yang luas dan mampu menampung seluruh gagasan dan kehendak-Nya sebab kita akan tiba pada kenyataan sungguh suara-Nya tidak tertampung.

Menyuarakan kehendak-Nya adalah sebuah pengakuan bahwa Ia bergerak dalam kekuatan-Nya (ayat 3b) dan mematahkan semua kekuatan lain (ayat 5). Maka menyuarakan suara Tuhan tiba pada keputusan yang tetap dan terhormat yakni mendengar lebih dahulu suaa Tuhan. Inilah energy yang tidak pernah habis bagi setiap orang percaya.

Ketika persoalan dan pergumulan menerpa bagaikan badai yang merasuk dengan skala richter yang mematikan, dengarlah suara Tuhan. Mendengar suara-Nya bukanlah sebuah tindakan na�f , bukanlah sebuah tindakan inferior sebaliknya merupakan tindakan arif dan jauh dari sikap superior. Dalam konteks inilah Firman Tuhan hadir dengan sifat "protection`, "correction` dan "direction`.dalam keadaan inilah mendengar suara Tuhan berarti "diam sejenak` dalam saat teduh di tengah hiruk pikuk dunia.

Sungguh, hanya dalam keteduhan diri dan hati maka terasalah suara Tuhan yang mengalir memberi kesegaran bagi kita. Pada titik itulah kita sunguh disapa dan diasuh-Nya supaya dalam mendengar suara Tuhan kita mengakui kekuatan-Nya yang memungkinkan kita hidup dan terus menghidupkan karya mendatangkan damai sejahtera sebagai mana Ia memberi kekuatan dan memberkati umat-Nya (ayat 11).

Sahabat-sahabat yang terkasih,
Marilah kita selalu memuliakan Dia, entah kita sadar atau tidak, didalamnya kita akan memperoleh kekuatan baru untuk terus berkarya di semua lini kehidupan ini. Marilah kita mendengar suara-Nya yang kadang kala muncul tanpa terduga yang hanya dapat diresapi dalam kepekaan batin, namun memiliki daya besar untuk kita berdiri, bangkit dan berjalan lagi dari tengah-tengah pergumulan dengan puing-puing kekerasan di sekitar kita. Jangan lelah bekerja diladang Tuhan sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin.


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518