Dibaca : 24389 x
KhotbahMinggu, 1 Juni 2014 MATIUS 5:13-16 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKES

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Derajat kemanusiaan manusia selalu berdampingan dengan derajat kehadiran manusia terhadap kebaikan sesama. Hal ini berarti setiap bentuk kehadiran yang memberi nilai tinggi terhadap kemanusiaan manusia merupakan tindakan yang baik dan benar. Kenapa? Sebab dapat dikemukakan betapa tingkat kemanusiaan manusia sudah mengalami kemerosotan yang signifikan. Manusia dalam kuasa dosa telah mengalami kungkungan luar biasa sehingga tidak berdaya dalam realitas yang menekan, memojokkan, menyudutkan dan sebagainya dengan sifat merusak.
Rusaknya kemanusiaan dalam relasi dengan sesame juga diakibatkan oleh kecenderungan manusia yang tidak sanggup mengatasi konflik. Manusia yang merendahkan dirinya sendiri adalah manusia yang hadir dengan cara dan tindakan yang merendahkan sesama. Maka pola kehidupan manusia yang demikian senantiasa identik dengan kerusakan yang diakibatkan. Kejahatan, korupsi, kekerasan adalah sebagian dari tanda-tanda sedang terjadinya penghinaan terhadap kemanusiaan. Bahkan agama dipergunakan sebagai alasan untuk halalnya sebuah tindakan kekerasan. Semua ini memperlihatkan bahwa kemanusiaan berada di titik nadir dan perlu mengalami pembaharuan.
Yesus hidup di tengah-tengah masyarakat yang sakit secara rohani, ketika perilaku keagamaan mereka tidak menghargai kemanusiaan. Perilaku keagamaan hanya berlangsung disekitar ritualisme semu dan kering sehingga hidup kerohanian yang mengalami pertumbuhan sangat diabaikan. Pembusukan perilaku keagamaan yang membanggakan status sebagai suatu umat merupakan bencana bagi kemanusiaan. Kejahatan dalam kemasan dan topeng keagamaan menjadi halal dan dipahami sebagai kewajaran. Dalam konteks inilah deklarasi Yesus dalam khotbah di bukit merupakan sebuah saluran baru untuk memahami kemanusiaan manusia.
Pengajaran Yesus tidak lagi berputar pada segi-segi filisofi tetapi menukik pada tindakan yang aplikatif sebagaimana diperlihatkan dalam Injil Matius. Yesus dalam perspektif Matius adalah sosok yang membaur dan menghadirkan perubahan terhadap pemahaman tentang kemanusiaan. Oleh sebab itu kehadiran Yesus selalu dalam kerangka mengangkat derajat kemanusiaan setiap pribadi yang bersentuhan dengan-Nya. Perubahan inilah yang menjadi titik tolak terjadinya pernyataan Yesus tentang Garam dan Terang
Sahabat-sahabat yang terkasih,
Melalui pemahaman yang demikian maka kita dapat berjumpa dengan sebuah pengajaran yang menukik pada realitas sehari-hari dan bertumpu pada pemahaman yang mendasar dan mendalam tentang hakikat kemanusiaan. Disinilah deklarasi tentang kemanusiaan yang harus diperhitungkan dan dihormati menjadi amat penting karena pada dasarnya manusia sudah mengalami keselamatan dalam Yesus. Manusia yang sudah mengalami perubahan oleh karena keselamatan Kristus kini hadir dengan identitas yang baru:
1. Identitas baru bukan sebuah undangan (ayat 13-14)
Pada ayat ini mereka yang sudah mengalami karya keselamatan didalam Yesus Kristus, mereka hadir dengan perintah, ditunjuk, bukan sebuah ajakan atau sebuah undangan tetapi sebuah perintah untuk memahami bahwa mereka adalah garam dan terang. Kemanusiaan mereka sebagai pengikut Yesus kini berada dalam pemahaman yang baru yakni hakikat mereka sebagai garam dan terang. Maka kehadiran mereka selalu identik dengan restorasi, rekonstruksi dan relokasi. Pengikut Yesus yang mengalami pembaruan (restorasi) adalah mereka yang selalu terbuka dan membuka diri terhadap sesame. Mereka hadir dan membawa makna bagi kehidupan manusia. Sekaligus mereka merekonstruksi suasana yang positif, dimana hadir kejahatan sistemik, disana mereka hadir dengan kebajikan yang sistemik pula. Kebajikan bukan lagi sebuah kewajiban tetapi menjadi daya pendorong untuk menghargai hidup. Maka kesadaran terjadinya relokasi pemikiran dan gagasan itulah yang membuat para murid dalam kesederhanaan mereka mampu menghadirkan pengaruh yang besar dan kuat bagi sesama.
2. Kebajikan yang tidak disekat oleh perbedaan (ayat 15-16)
Persoalan terbesar manusia adalah menghargai adanya perbedaan. Persoalan bahkan sampai peperangan dengan kematian yang besifat massif bertolak dari ketidakmampuan menerima perbedaan. `Etnic cleansing� yang dilakukan rezim nazi sampai rezim Boznia adalah bentuk penolakan radikal terhadap keberagaman. Kejahatan Boko Haram di Afrika adalah penolakan terhadap kebajikan. Keberagaman dilihat sebagai ancaman yang dapat memperbudak seseorang pada orang lain sehingga resistensi yang muncul semakin menguat dan meluas terhadap keberagaman.
Pada titik inilah kebajikan harus diketahui oleh semua orang merupakan paradigm baru yang menghargai setiap perbedaan. Kebaikan itu harus diketahui dan dialami oleh setiap orang menunjukkan bahwa kebaikan itu menembus sekat-sekat perbedaan. Perbedaan tidak lagi dilihat sebagai ancaman namun dihayati sebagai bagian kemanusiaan yang terus mengalami kebajikan Tuhan. Setiap orang layak menerima kebaikan kita supaya nama Yesus dipermuliakan. Inilah gagasan penting sebagaimana janji Allah kepada Abraham untuk menjadi berkat bagi manusia (Kej.18:18).
Maka seluruh keberadaan kita selaku warga gereja dewasa ini dipenuhi dengan kemauan untuk selalu menjadi berkat bagi sesama dalam pemahaman bahwa Ia sudah terlebih dahulu memberkati kita. Kita tidak lagi hadir untuk diri sendiri tetapi selalu membawa damai sejahtera dalam keberagaman. Itulah pelayanan dan kesaksian kita. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|