aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 22367 x

Catatan Refleksi
22 Mei 2012
Vidi Aquam (sebuah refleksi tentang hidup ke-kristen-an)

Pendahuluan.


Dalam dunia yang serba kompetitif dewasa ini, memberi yang terbaik merupakan keharusan. Hanya dengan memberi yang terbaik maka seseorang dimungkinkan untuk terus berada pada jalur untuk mendapat pengakuan dan penghargaan.


Memberi yang terbaik bukan lagi sesuatu yang normative tetapi suatu gaya hidup (the way of life) sebab roh dunia mengajarkan bahwa hanya dengan memberi yang terbaik seseorang dimungkinkan oleh menjalani hidup. Arus pemikiran yang kita jumpai dewasa ini merupakan kenyataan yang tidak terbantahkan. Disisi lain hidup ke-Kristen-an juga memiliki dorongan untuk memberi yang terbaik kepada Allah. Sebuah tindakan yang mengakar dalam pemahaman bahwa Allah sudah member yang terbaik maka setiap orang percaya juga memberi yang terbaik sebagai jawaban atas karya Allah. Pertanyaan kemudia adalah : apakah perbedaan memberi yang terbaik dalam gagasan ke-Kristen-an dan memberi yang terbaik dalam perspektif roh dunia masa kini ?


Kedua pemikiran yang berkonfrontasi adalah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan ke-kristen-an. Kedua kutub pemikiran ini jika tidak ditelaah secara baik , akan berujung pada kebaikan yang artificial dan menjemukan serta diliputi oleh gaya hidup yang mekanis dan dingin. Disamping itu gagasan member yang terbaik baik Tuhan hendaknya tidak hanya "hidup`dalam ruang dan waktu tertentu tetapi harus menyeluruh. Artinya gagasan tentang memberi yang terbaik bagi Tuhan memiliki efek bola salju yang semakin lama semakin besar.


1. Memberi yang terbaik bertolak dari RUMAH.


Alkitab memberi kesaksian bahwa karya Allah yang besar bagi manusia terjadi dalam rumah ( Luks 10 : 5 , Yohanes 20 : 10, Lukas 19 : 5, Markus 3 : 25, adalah contoh dari 2794 ayat tentang kata rumah ). Hal ini menunjukkan bahwa memberi yang terbaik bagi Tuhan selalu berawal dari tempat dimana yang terbaik dilakukan oleh Tuhan yaitu RUMAH.


Inilah perbedaan pertama antara melakukan yang terbaik dalam gagasan arus jaman dan yang terbaik dalam perspektif Firman Tuhan. Hakekat Allah yang adalah Kasih (1 Yoh. 4 : 8). ) adalah kasih yang menghadirkan keberanian untuk memberi yang terbaik bagi Allah. Peristiwa Kana di Yohanes 2 : 1 - 11 adalah peristiwa air yang berubah menjadi anggur, sehingga dalam konteks Kana, air berubah menjadi anggur adalah peristiwa besar / terbaik bagi keluarga. Rumah menjadi arena dimana Allah melakukan yang terbaik dan dari rumah pula yang terbaik dilakukan untuk Allah. Agustinus menjelaskannya dengan ungkapan "vidi aquam`, yakni air yang mengubah kehidupan sebagaimana Yesus sendiri menyatakan bahwa Ia adalah sumber air hidup .


Jawab Yesus kepadanya: /"Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." (Yoh. 4 : 10).



2. Memberi yang terbaik : " sacrifice vs victim"


Memberi yang terbaik bagi Allah juga memberi kesegaran sebagai hubungan yang terjalin secara vertical dengan-Nya. Melalui pemikiran yang demikian maka memberi yang terbaik bergerak dari ruang privat ke ruang publik ( band. Menjadi garam dan terang ). Hubungan yang demikian memberi makna yang dalam, sebab memberi yang terbaik adalah sacrifice dan bukan victim. Dengan pemahaman yang demikian maka memberi yang terbaik selalu diliputi dengan syukur sebab itulah yang dikehendaki Allah ( 1 Tesalonika 5 : 18 ). Seluruh gagasan tentang memberi yang terbaik dalam bingkai firman Tuhan merupakan kesegaran yang dihadirkan bagi sesama. Inilah perbedaan memberi yang terbaik dalam pandangan Firman Tuhan dan memberi yang terbaik dalam bingkai roh jaman ini. Ketika memberi yang terbaik dilihat sebagai korban dan bukan kurban, maka disanalah terjadi keterpaksaan yang berujung pada kekecewaan. Memberi yang terbaik sebagai tanda dari persembahan syukur akan menghadirkan penghayatan kepada karya Allah yang besar. Maka ukuran memberi yang terbaik tidak hanya untuk diri sendiri tetapi menjadi sarana berkat bagi sesama.


Inilah kesegaran vidi aquam, ketika kesegaran dalam hidup bersama Allah memberi kesegaran bagi sesama sebagai sebuah persembahan / kurban. Kesegaran yang dihadirkan sebagai ungkapan syukur menjadikan yang terbaik hadir dengan kekuatan tulus. Sebuah keadaan yang tidak dapat dihadirkan oleh roh dunia ini.



3. Memberi yang terbaik : Execellent - very good ( oxford dictionary ).


Melakukan yang terbaik dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan manusia (Kol. 3 : 23 ) berujung pada 3 elemen penting yakni :


a. Tuhan menghargai apapun yang dibuat ketika keadaan sebagai manusia baru disambut sebagai karya - Nya yang terbaik.

b. Tuhan menghargai yang " segenap hati ". ( Maz. 119 : 10 ).

c. Segala sesuatu untuk Tuhan . ( Mat. 25 : 35 - 36 ).


Melalui 3 hal mendasar inilah maka memberi yang terbaik adalah gagasan yang berujung pada karya mengikuti rencana dan kehendak Tuhan. Sebagaimana air dalam sebuah botol yang terbentuk sesuai dengan bentuk botol, maka demikialah setiap orang percaya memiliki keyakinan bahwa dirinya dibentuk oleh Allah sesuai dengan rencana Allah sehingga menghasilkan keberagaman karya tetapi dalam terang kehendak Allah memiliki muara yang sama - memuliakan Allah.

Kesimpulan.


Memberi yang terbaik bagi Tuhan bukanlah sebuah tugas tetapi sebuah gaya hidup yang senantiasa menghadirkan kesegaran bagi diri maupun sesama. Dalam konteks inilah memberi yang terbaik selalu bertolak dari rumah ( ruang privat ) dan berujung pada sesama ( ruang public ). Maju terus bersama Yesus.


- Pdt. Alex Letlora -



















Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Catatan Refleksi:

Selasa 7 April 2026
RUANG RINDU (Letto)

Jumat, 16 Agustus 2024
MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKA

Selasa, 21 Februari 2023
SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHA

Sabtu, 24 Desember 2022
DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTA

Sabtu, 04 Juni 2022
GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKES

Jumat, 31 Desember 2021
PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUN

Rabu, 07 Juli 2021
KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA

Rabu, 22 April 2020
NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPAN

Rabu, 13 Nopember 2019
HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIAN

Selasa, 29 Oktober 2019
TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)

Arsip Catatan Refleksi..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2)