Dibaca : 24661 x
KhotbahMinggu, 26 Januari 2014 MAZmur 119:1-8 BAHAGIA ORANG YANG MENCARI TUHAN
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia dan diraih dengan usaha yang sungguh dan penuh perjuangan. Kebahagiaan bukanlah rasa sesaat yang dibangun berdasarkan kebutuhan inteluktual tetapi bersentuhan dengan rasa terdalam manusia dan bersifat jangka panjang. Itu sebabnya kebahagiaan sungguh merupakan cita-cita tertinggi manusia sebab tidak seorangpun yang bercita-cita untuk menderita dan secara logis diwujudkan. Dalam konteks inilah Mazmur 119 menyatakan ungkapan imannya tentang kebahagiaan yang sejati, yang sekalipun beragama tetapi memiliki warna yang sama. Rasa kebahagiaan seorang sopir taxi sama dengan rasa kebahagiaan seorang eksekutif, hanya pada ungkapan kebahagiaanlah terjadi perbedaan. Tetapi dasarnya sama sekalipun beragam.
Firman Tuhan ini hendak menyatakan kepada setiap orang percaya (warga jemaat) bahwa:
1. ayat 1- 3. Kebahagiaan terwujud ketika manusia hidup tidak bercela (blameless) dan yang tidak bercela ini terkait dengan hewan persembahan. Maka kebahagiaan sungguh-sungguh terwujud ketika setiap orang menyadari bahwa mereka harus hidup dalam pemahaman bahwa mereka mempersembahkan persembahan yang terbaik (Roma12:1). Kebahagiaan dalam konteks demikian merujuk pada sikap, pada tingkah laku dan perilaku. Maka kebahagiaan bukanlah keadaan rasa manusia tertentu dengan status tertentu tetapi menjadi tindakan yang senantiasa berlangsung dalam sebuah kontinuitas (band. Amsal 8:32, Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, karena berbahagialah mereka yang memelihara jalan-jalanku.). dengan pemahaman yang demikian maka kebahagiaan yang dimaksud secara Alkitabiah adalah tindakan seseorang dalam kehidupan yang mengarah kepada Allah dan kepada sesama. Kebahagiaan dalam konteks ini tidak terkait hanya dengan memiliki sesuatu bahkan segala sesuatu tetapi terkait dengan memberi sesuatu bahkan segala sesuatu. Maka dapat dipastikan bahwa kebahagiaan terwujud dalam pemikiran dan tindakan yang jauh dari kejahatan.
Bagaimana kita mengakui kebagiaan adalah ketika kita hadir dalam ketaatan kepada Allah dan menjadi memberi yang terbaik yakni seluruh kehidupan kita bagi-Nya sebagai sebuah persembahan yang tidak bercela.
2. ayat 4-6, kebahagiaan terwujud ketika manusia berpegang (natzar) pada titah Tuhan. Dalam pemahaman demikian maka berjaga-jaga terus diupayakan agar jalan hidupnya senantiasa berada dalam koridor kehendak Allah.
Amsal 3:18 menyatakan bahwa Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia.
Melalui pemahaman yang demikian maka seorang yang berbahagia adalah seseorang yang terus menjaga perilaku hidupnya secara berkesinambungan dan menjadi berkat bagi setiap orang yang bersentuhan dengannya. Kebahagiaan tidak lagi dilihat dalam sifat aktif bahkan ketika berdiam diri sekalipun orang lain akan mengalami kebahagiaan. Dengan memahami kebagiaan dalam arti yang demikian maka hdiup seseorang yang berlangsung dalam perjumpaan dengan sesame senantiasa membawa suasana hidup dan terus memiliki jawaban atas berbagai persoalan kehidupan. Dengan berpegang pada firman Tuhan maka seseorang mengalirkan kebahagiaan bagi mereka yang memegangnya. Penularan kebahagiaan menunjukkan bahwa Allah menyukai manusia yang suka berbagi kebagiaan dan bukannya kejahatan.
Bagaimana dengan kita? Apakah hidup kita juga menularkan kebahagiaa bagi sesama sehingga terus dimampukan untuk berpegang pada titah Tuhan? Selaku warga gereja yang hidup dimasa kini dengan berbagai produk kejahatan maka Tuhan akan selalu menolong kita menyatakan berkat bagi sesama. Itulah alasan yang kuat untuk selalu bersyukur (ayat 7) sebab berada pada jalur yang dikehendaki oleh Allah akan menolong kita untuk terus berbuat kebajikan bagi sesame dengan hati yang jujur dan dapat dipertanggung jawabkan. Sebuah pertangungan jawab iman yang pada waktunya akan kelihatan apakan kebajikan itu hanya bersifat hipokrit atau kebajikan sebagai hasil menjaga diri. Sudah barang tentu Firman Tuhan memberi keteguhan bahwa kita tidak akan dipermalukan (ayat 6).
Sahabat-sahabat terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
Maka hidup yang Tuhan anugerahkan kepada kita pasti memiliki kebagiaan dan kebahagiaan itu tidak sama dengan bahagia dari dunia (band. Yoh 14:27). Hidup yang demikian adalah hidup yang yang selalu dijaga , waspada dan selalu berhati-hati. Hidup yang demikian menjadi hidup yang sungguh berarti. Maukah kita berbahagia? Selalu pelihara firman Tuhan dalam hidup agar kita memberi persembahan yang terbaik dan menjaga perilaku kita agar setiap orang yang berpegang pada kita juga tertular kebagiaan. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|