Dibaca : 22467 x
Catatan RefleksiSelasa, 24 Desember 2013 Yesaya 11:1-5 YESUS DAN MASA DEPAN BARU
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Teks bacaan kita bukanlah teks yang bernuansa glamour dan penuh kemewahan sebagaimana dilihat pada setiap perayaan Natal. Teks tentang Raja dami ini justru muncul dari tengah-tengah suasana yang tidak nyaman dan penuh dengan ketidakadilan. Kisah yang ditampilkan dalam perikop bacaan ini menyoroti keadaan situasi yang diwarnai dan diliputi oleh situasi yang kering dan tidak menyenagkan. Tunggul - pada yat 1 menggambarkan potongan kayu sisa tebangan yang menunggu kematian. Perhatikan pasal 10: 33-34 dimana bahasa penghakiman sedang bergulir mengarah ke Yerusalem kota yang seharusnya penuh dengan harapan ( 2:2-4), namun sebaliknya para raja telah memperlihatkan perilaku yang jauh dari Allah (1:4 merekaberbuat jahat, 1:16-17 mereka beribadah palsu dan hidup dalam kejahatan bagi sesame, 1:21-23 mereka hidup dalam ketidakadilan akibat pola korup yang dijalankan. Dalam keadaan yang demikian maka umat yang sungguh-sungguh mau hidup taat bisa menjadi frustrasi sebab harapan dan kenyataan yang sangat berbeda.
Maka teks ini muncul sebagai jawaban kepada umat yang mau setia pada kebenaran dan keadilan. Ketika umat seharusnya menjadi terang bagi bangsa-bangsa, justru umat menunjukkan gaya hidup gelap dan tidak bermakna. Kepada umat yang berada dalam situasi jahat dikemukakan bahwa dari tunggul Isai (ayat 1), artinya dari keturunan yang sudah hampir punah akan menucul suatu tunas. Tunas inilah yang akan tampil dengan pola yang berbeda dari raja-raja Israel selama ini. Tunas itu adalah Pribadi yang menyuguhkan kepemimpinan yang diwarnai dengan : TAKUT AKAN TUHAN. Sehingga seluruh karya yang diwujudkan-Nya selalu beroerintasi untuk menghidupkan sesama. Ia tidak hadir dengan pendekatan yang otoriter sebaliknya Ia tampil memukau dengan gaya egaliter. Ia tidak menunjukkan penyakit gila kuasa seperti Herodes, sebalikanya Ia mewujdukan keadilan secara mantap. Takut akan Tuhan lalu menjelma dalam kebenaran dan kesetiaan (ayat 5) sehingga seluruh cipataan tunduk dalam pengakuan pada kewibawaan dan otoritas yang dimilikinya.
Suasana inilah yang di alami juga oleh Simeon di Lukas 2: 25, 29-32. Ungkapan Simeon jelas menunjukkan bahwa keadaan yang gelap dan pekat di semua lini kehidupan waktu itu akan berakhir dan digantikan oleh kehadiran Sang Mesias. Ia yang lama dinantikan akhirnya menjadi kenyataan dari pengharapan yang terus terjaga dan terpelihara. Simeon tidak melihat keselamatan ini sebagai keselamtan yang yang bersifat personal tetapi kolektif. Inilah kelebihan dari mereka yang memilikipengharapan untuk masa depan yang baik, bahwa keadaan baik bukan untuk diri sendiri tetapi juga untuk sesama (band. Yoh 3:16). Inilah perilaku orang percaya yang pengharapannya tidak bersifat fatamorgana tetapi aktual dan kontekstua.
Seorang bapa gereja yakni Agustinus pernah katakan, "faith is to believe what you do not see and the reward of this faith is to see what you believe`. Maka pengharapan dalam iman menjadi esensial untuk melihat realitas kehidupan yang amburadul. Dalam kekuatan pengharapan berdasarkan iman itulah maka seseorang tidak akan kehilangan identitasnya sekalipun arus kejahatan, ketidakadilan, ketamakan berlangsung deras.
Sahabat-sahabat terkasih,
Pada malam menjelang Natal ini kembali kita di ingatkan bahwa :
1. Natal adalah soal pengharapan dalam iman.
Natal bukanlah pengalihan dari suasana penuh ketidak adilan dan kejahatan yang selama ini berlangsung secara sistematis. Natal juga bukan peristiwa yang berorientasi kepada individu. Natal adalah pengharapan bagi jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran dan keadilan dan ketentraman yang diperjuangkan dalam perlikau hidup egaliter. Menempatkan sesame dalam kebersamaan untuk meamsuki masa depan yang baik.
Natal yang akan kita rayakan sekaligus mengingatkan saudara dan saya bahwa bisa saja persoalan dan pergumulan nampak perkasa sehingga kita seperti tunggul kayu yang akan musnah. Ternyata tidak, sebab dari tengah-tengah ketidak berdayaan kita akan hadir Mesias sebagai hakim yang Agung yang akan memenuhi dambaan hati untuk mengalami keadilan.
Maka setiap pribadi dan keluarga yang akan merayakan Natal patut menghayati dengan sungguh-sungguh bahwa Penyelamat itu hadir di tengah keluarga kita. Mari buka hati dan terimalah Ia yang sudah datang dan akan datang. Maka terwujudlah pernyataan iman Agustinus bahwa You Will See What you believe.
2. Natal adalah peritiwa kolektif bukan hanya personal.
Tindakan penyelamatan Allah adalah tindakan penyelamatan yang berlaku untuk semua manusia. Saudara dan saya adalah pribadi-pribadi yang mau dipakai oleh-Nya melanjutkan kabar sukacita kepada dunia. Ia melengkapi saudara dan saya dengan kebenaran dan kesetiaan sehingga kita dapat menyapa dan menjangkau setiap pribadi dalam sapaan dan jangkaun yang menghidupkan.
Kejahatan dan kerusakan secara sistematis sedang berlangsung di sekitar kita, hasilnya ialah banyak yang mengalami frustrasi dan putus harapan. Itulah kesempatan dimana kita hadir mengulurkan tangan pengharapan dalam iman kepada mereka sehingga hidup yang berjuang tidak dihindari tetapi dihadapi dengan keyakinan yang kokoh, bahwa you will see what you believe.
Ia sang mesias memimpin kita semua memasuki masa depan yang berpengharapan, sebab His vision comes from passion. Ia antusias untuk menuntun kita semua dengan keadilan dan kebenaran sehingga masa depan kita menjadi kepastian. Maka setiap kali kita merayakan Natal setiap kali juga kita diingatkan bahwa MASA DEPAN KITA ADALAH KEPASTIAN BERDASARKAN VISI TUHAN. Amin.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |