Dibaca : 25094 x
KhotbahSelasa, 29 Oktober 2013 Yeremia 29:1-7 GRACE AND FAVOUR

Khotbah Minggu, 3 November 2013
Sahabat-sahabat yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Sebuah surat yang dikirimkan kepada umat yang berda di pembuangan adalah sebuah surat yang dilandasi dengan pesan moral yang kuat. Sebuah surat tidaklah sekedar ungkapan perasaan namun mengandung pesan teologis yang tidak sederhana tentang kebenaran informasi ditengah-tengah sampah informasi. Kebenaran yang dilandasi dengan pemahaman bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat dan karena itu tidak dapat direduksi eksistensinya, merupakan jawaban atas kondisi pilu yang dialami oleh umat. Artinya ketika surat yang dikirimkan atas nama Allah maka seluruh tindakan yang dibangun oleh umat selalu berdasarkan keterlibatan Allah. Maka tanah pembuangan tidak dapat membatasi karya Allah yang berdaulat dalam karya yang diwujudkan oleh umat.
Perikop ini hendak memberi arahan yang luas bahwa jika Allah yang menghukum umat ke pembuangan maka Allah yang sama adalah Allah yang menyertai umat di pembuangan dan berdaulat atas seluruh keberadaan umat di pembuangan. Inilah makna Grace (rahmat), yakni umat yang tidak pantas mengalami kebaikan Allah namun dipantaskan dan dilayakkan oleh karena kasih-Nya. The Old Testament repeatedly speaks of finding favour in the eyes of God or of man. The favour so found carries with it the bestowal of favours or blessings. This means that grace is not an abstract quality, but is an active, working principle, manifesting itself in beneficent acts, Gen. 6:8; 19:19; 33:15; Ex. 33:12; 34:9; I Sam 1:18; 27:5; Esth. 2:7. The fundamental idea is, that the blessings graciously bestowed are freely given, and not in consideration of any claim or merit.
Maka rahmat yang dialami oleh manusia merupakan gambaran dari eksistensi Allah yang penuh dengan rencana yang baik sebagaimana seluruh ciptaan adalah baik adanya. Rahmat yang dialami oleh manusia adalah penerimaan dan pertolongan yang manusia alami pada waktunya (Ibr. 4: 16). Dengan cara demikianlah Allah bertindak untuk menyatakan kehadiran-Nya yang penuh warna cerah sehingga hidup dapat dijalani dengan penuh keyakinan akan kebaikan Tuhan. Sebuah surat yang dikirimkan kepada umat dalam pembuangan hendak menegaskan bahwa :
a. Ia tetap menyertai umat dengan rahmat-Nya yang tidak dibatasi oleh batasan geografis. Jika Allah menyertai umat dalam perjalanan panjang yang sudah menjadi sejarah maka penyertaan itu akan terus berlangsung kemasa depan sebab Ia tidak dapat mengkhianati diri-Nya sendiri. Maka di tempat pembuangan umat harus terus mengakui kedaulatan Allah sehingga kapan umat dibebaskan sepenuhnya melekat dan bergantung pada kedaulatan Allah.
Bagi kita sekarang persoalannya adalah sampah informasi yang terus beredar di sekitar kita bahwa hidup sepenuhnya bergantung pada kedaulatan diri kita sendiri. Rahmat tidak lagi dipahami sebagai anugerah tetapi transaksi yang harus dipenuhi oleh Allah. Dalam pemahaman demikian maka kehidupan menjadi kering dan merana sebab Allah hanya diperlukan dalam keadaan tertentu dan kondisi yang tertentu. Selebihnya Ia hanya bagian dari konsep dan gagasan yang tidak relevan dengan kebutuhan jaman yang terus berubah.
Bagi kita sekarang, hal penting adalah meyakini kedaulatan Allah yang terus hadir di semua lini kehidupan tanpa dibatasi oleh garis demografis maupun geografis. Kedaulatan Allah hadir dalam kekuatan rahmat yang besar sehingga keselamatan bukanlah hasil usaha manusia tetapi pemberian Allah, demikian kata Paulus (Ef. 2:8). Sebagai orang percaya kita mengakui bahwa otoritas-Nya membebaskan kita dari segala kejahatan produk dunia dan membawa kita pada kemenangan.
Bisa saja saat ini kita sedang berada dalam pergumulan yang berat, ketika anggota keluarga kita terbuang. Terbuang di penjara, terbuang dalam pelukan narkoba, terbuang dalam penyangkalan. Kita sendiripun dapat saja merasa terbuang ketika keadilan mengalami ketimpangan, ketika kejahatan dilihat sebagai asset bangsa, ketika pasangan mengkhianati janji nikah. Dalam semua keadaan yang demikian maka isi surat Tuhan kepada Israel tetap relevan. Jangan dengarkan suara-suara yang bersifat instan tetapi tetaplah berharap pada-Nya dan mengakui bahwa kita bisa saja terbuang dari hadapan Allah tetapi kasih karunia-Nya tidak pernah mampu membuang kita sebab pada dasarnya Allah adalah kasih.
b. ayat 4 - 6, menegaskan bahwa selama berada di pembuangan umat harus tetap memperlihatkan kasih Allah yang universal mau menempatkan umat sebagai bagian dari rencana-Nya yang meluas bagi dunia. Sesi pembuangan tidak lagi menjadi episode buram tetapi menjadi peluang untuk menunjukkan bahwa kasih Allah adalah kasih yang universal. Sebagaimana dikemukakan oleh John Piper ` God is not an employer looking for employees. He is an Eagle looking for people who will take refuge under His wings.
Maka perilaku umat dalam pembuangan bukan perilaku fatalis, bahwa memang nasib inilah yang dialami oleh umat. Jika Allah memerintah mereka untuk berbaur, mendirikan rumah, membuka kebun, menikmati hasilnya, semua itu bukan berarti bahwa umat sedang mengalami keputusasaan. Sebaliknya orientasi perintah Allah itu dapat diterjemahkan sebagai ruang yang luas untuk menyatakan bahwa di negeri pembuangan sekalipun eksistensi Allah tetap nyata melalui kehadiran umat.
Di bawah perlindungan sayap-Nya umat berkarya untuk menunjukkan bahwa pergulatan dengan masalah yang paling hebat sekalipun tidak dapat memisahkan umat dari kasih-Nya. Kekuatan kasih-Nya meneguhkan setiap hati yang remuk dan setiap semangat yang patah.
Inilah favor, sebuah tindakan yang menyenangkan hati Tuhan sehingga Ia berkenan menghadirkan dan menyatakan kehendak-Nya yang besar bagi setiap anak-Nya. Kita adalah anak-anak Tuhan dan karena itu hendaklah kta selalu mengingat bahwa :
- Pergumulan bisa saja hadir dalam kehidupan kita tetapi jangan sampai kita mendengar informasi sampah dan sampah informasi bahwa otoritas hidup ada di tangan kita sendiri. Nasihat seperti ini dapat saja menyejukkan telinga tetapi berujung pada maut.
- Ruang pergumulan adalah peluang untuk menyatakan bahwa seluruh karya kita adalah bentuk kesaksian dari kasih Allah yang universal. Tidak satupun lini kehidupan ini luput dari pandangan-Nya, maka kita tetap memperoleh kekuatan untuk melangkah dalam hutan kesombongan, rimba keangkuhan, lautan pengkhianatan, maupun gemuruh pergumulan sebab kita tahu bahwa Allah selalu menyertai kita semua.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita di tanah pembuangan sekalipun tidak pernah sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|