Dibaca : 22547 x
Catatan RefleksiRabu, 25 September 2013 Yehezkiel 38:10-16 KEKUDUSAN TUHAN PATAHKAN RENCANA JAHAT
 Pendahuluan.
Yehezkiel sebagai nabi yang bertugas menyampaikan pesan Allah dalam ketaatan kepada apa yang diperintahkan-Nya. Pada bagian ini ayat 1 disebutkan "datanglah firman Tuhan kepadaku hendak memperlihatkan kekhususan relasi yang terbentuk antara Allah dan Yehezkiel. Relasinilah yang memberi ruang bagi Allah untuk menyampaikan gagasan, ide dan rencana. Melalui pesan yang kuat ini dikemukakan bahwa Yehezkiel adalah seorang hamba yang taat kepada tuannya. Relasi yang kudus ini bertolak dari keberadaan Allah yang kudus. Maka relasi yang kudus selalu dipahami bertolak dan bersumber dari Allah yang kudus.
Yehezkiel, yang namanya berarti "Allah menguatkan", berasal dari keluarga imam (Yeh.1:3) dan tinggal di Yerusalem sepanjang 25 tahun pertama hidupnya. Dia sedang dalam pendidikan untuk menjadi imam di Bait Suci ketika dibawa ke Babel pada tahun 597 SM. Sekitar lima tahun kemudian, pada umur 30 tahun (Yeh.1:2-3), Yehezkiel menerima panggilan sebagai nabi dan penugasan ilahinya, setelah itu ia melayani dengan setia selama sekurang-kurangnya 22 tahun (Yeh.29:17); Yehezkiel berusia sekitar 17 tahun ketika Daniel dibawa pergi, sehingga keduanya kurang lebih sama umurnya. Baik Yehezkiel maupun Daniel merupakan rekan sezaman yang lebih muda daripada Yeremia dan sangat mungkin banyak dipengaruhi oleh nabi Yerusalem yang lebih tua ini (bandingkan Dan.9:2). Pada saat Yehezkiel tiba di Babel, Daniel sudah terkenal sebagai orang yang memiliki hikmat nubuat yang luar biasa; Yehezkiel menyebutnya tiga kali di dalam kitab ini (Yeh.14:14,20; Yeh.28:3). Berbeda dengan Daniel, Yehezkiel berkeluarga (Yeh.24:15-18) dan hidup sebagai warga biasa di antara para buangan Yahudi di tepi Sungai Kebar. (Yeh.1:1; Yeh 3:15,24; bandingkan Mazm.137:1).
Dari pemahaman yang demikian maka dapat dikemukakan bahwa keterlibatan Allah merupakan syarat utama untuk terus mewartakan kehendak Allah. Sifat Allah yang kudus melingkupi seluruh karya tersebut sehingga tetap menjadi penting. Disamping itu hendak dikemukakan bahwa keadaan umat yang tenang tidak menutup terjadinya situasi yang sulit. Dari ayat 1- 5 diperlihatkan bahwa koalisi yang dibangun adalah koalisi jahat dan berpotensi mematikan. Rencana jahat ini tentu merupakan ancaman terhadap umat Allah. Maka tindakan Allah yang membabaskan adalah tindakan yang bertolak dari kek-kudus-an-Nya.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |