aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 25123 x

Khotbah
Sabtu, 21 September 2013
Yehezkiel 37 : 1-6
TUHAN SANG PEMBERI NAFAS HIDUP









Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,



Pada bulan-bulan ini sekalipun cuaca tidak menentu namun bulan-bulan ini adalah bulan masa kering. Ketika masa kering tiba maka segala sesuatu menjadi berat, karena petani mengalami kerugian karena sawah yang tidak menghasilkan, keluarga menjadi susah karena untuk air harus berjalan jauh. Kering identik dengan tiadanya kehidupan sehingga Agustinus pernah berkata `vidi aquam� - aku melihat air. Keadaan kering sering dilihat sebagai kenyataan yang memilukan bahkan merupakan bencana.



Pada bagian bacaan inilah kekeringan disaksikan oleh Yehezkiel sebagai sebuah keadaan yang tiada pengharapan. Kenyataatan bahwa lembah itu penuh tulang kering bahkan dinyatakan amat kering ( very dry - ayat 2 ) menunjukkan hadirnya suasana yang tidak nyaman. Allah yang memperlihatakan kepada Yehezkiel keadaan umat Tuhan yang mengalami kegersangan bahkan amat gersang adalah umat yang harus mengalami pertobatan. Keadaan yang kering sekaligus menjadi tanda bahwa betapa rapuh umat Israel menjadi umat Allah yang memikul tanggung jawab sebagai sarana karya Allah bagi dunia (band. Kej. 12 : 3 ).



Di sisi lain diperlihatkan bahwa Allah memakai manusia dalam segala keterbatasannya untuk hadir dengan warta gembira. Allah yang diwartakan oleh sang nabi adalah Allah yang bertindak dan mengubah yang kering menjadi hidup kembali. Maka Yehezkiel sekaligus diposisikan sebagai utusan Allah yang mewartakan kesejukan karya Allah di tengah-tengah kekeringan yang melanda. Hadir di tangah-tengah kekeringan sebagai pewarta kabar sukacita merupakan tugas yang mulia dan Allah sendiri yang mempercayakan tugas itu kepada Yehezkiel. Maka kuasa yang hadir dalam nubuat Yehezkiel bukanlah kuasa dari dirinya sendiri tetapi kuasa Allah yang memberi kehidupan baru.



Maka dari perikop inilah kita bisa memahami hal-hala demikian



1. Tulang-tulang yang kering adalah gambaran tentang keringnya kehidupan umat waktu itu sehingga ketika tulang itu kering maka yang terjadi adalah ketidakberdayaan ( ayat 1 - 3 ). Pertanyaan yang dijaukan adalah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban sebab pada dasarnya Yehezkiel tahu apa yang menjadi jawaban. Jawaban yang dikemukakan dalam tindakan adalah Allah mampu memberi kehidupan yang baru. Melalui perintah Allah kepada Yehezkiel untuk bernubuat maka Allah memperlihatkan dominasinya atas Yehezkiel sekaligus atas umat.



Kepada kita disuguhkan sebuah penghiburan yang kuat bahwa Allah mau kehidupan selalu berada dalam relasi yang baik. Allah berkomunikasi dengan manusia dengan berbagai cara dan berpuncak pada Yesus Kristus. Ini berarti di tengah-tengah kekeringan yang melanda kehidupan manusia sekarang Allah tetap berkarya sesuai dengan janji-Nya. Hubungan perjanjian yang menempatkan Allah pada posisi yang mendominasi kehidupan umat secara ideal. Namun tulang-tulang yang kering adalah symbol dari kekeringan hidup yang hanya berlandaskan pada materialism, egoism dan individualism. Semua aliran agama baru ini sekaligus menunjukkan bahwa kekeringan dewasa ini adalah kekeringan tanpa pengharapan.



Namun ditugaskannya Yehezkiel sekaligus adalah pertanda bahwa Allah tetap menjangkau setiap `anak manusia� untuk terlibat dalam karya mewartakan kabar gembira. Anak manusia yang diutus mewartakan kabar gembira adalah kita semua selaku umat Allah pada masakini. Maka seluruh keberadaan kita adalah dalam usaha untuk mewartakan keheningan cinta kasih Tuhan di tengah-tengah kekeringan dan dahaga yang dialami oleh dunia.



Kekeringan dalam relasi keluarga, komunikasi suami-istri adalah kenyataan yang memilukan dewasa ini. Gereja yang diperhadapkan dengan kenyataan demikian perlu selalu menyadari panggilannya mewartakan kabar gembira. Gereja diutus untuk bisa melihat kenyataan dan tidak sibuk dengan menara babelnya sendiri.



2. Tulang-tulang yang kering sekaligus menunjukkan bahwa gereja bisa saja mengalami kekeringan dan lunglai dalam tugasnya. Roh Allah yang menghidupkan adalah pusat dari kehidupan gereja untuk mengetahui bahwa Tuhanlah Allah (ayat 6). Kepada Yesaya dikemukakan bahwa ketempat kering Allah akan menyatakan berkat-Nya sampai ke anak cucu (Yes. 44:3).



Hal ini memperlihatkan bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat untuk mengubah yang kering menjadi hidup. Hembusan Roh-Nya yang menghidupkan adalah kehidupan yang mengatasi kekeringan. Artinya gereja yang mengalami kehidupan dari Allah mewartakan kabar gembira itu kepada sesame. Kita perlu waspada jangan sampai kita sedang mengalami kekeringan rohani dan mengira bahwa kita sedang melayani-Nya. Gereja yang waspada adalah gereja yang tetap menjaga kehadirannya secara baik supaya tidak juga ikut dan larut dengan gaya dunia yang hanya memperlihatkan keringnya motivasi, keringnya antusiame bahkan kering dalam warta gembira.



Sahabat-sahabat yang terkasih,



Melalui perikop ini kita semua bersyukur sebab 2 hal, pertama kita diutus untuk mewartakan kegembiraan kasih Allah bagi dunia yang sedang mengalami kekeringan kebajikan dan kitapun selalu diingatkan bahwa dalam kerendahan hatilah kita dimungkinkan untuk selalu membawa warta gembira bagi sesama.

Maju terus bersama Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya kita tidak mengalami kekeringan dan hidup tidak pernah sia-sia. Amin




Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518