Dibaca : 22521 x
Catatan RefleksiKamis, 12 September 2013 Yosua 10:38-43 KURBAN KHUSUS BAGI ALLAH
I. Pedahuluan.
Kitab Yosua memberi informasi tentang penaklukkan Kanaan bagian selatan. Artinya ketika masuk ke Kanaan, umat harus berjuang agar negeri dengan "air susu dan air madu melimpah` dapat dialami oleh umat bukan hanya dengan berpangku tangan tetapi dalam ketaatan yang mutlak kepada Allah.
Dalam konteks inilah maka penaklukan daerah selatan sebagai bagian dari perintah Allah merupakan bentuk perwujudan ketaan Yosua kepada Allah. Bentuk ketaatan itu nampak dari pernyataan Firman Tuhan "..seperti yang diperintahkan Tuhan, allah Israel` ( ayat 40 ). Secara eksplisit hal ini menunjukkan bahwa tidak ada celah ketidaktaatan yang diperlihatkan oleh Yosua.
Pertanyaan yang muncul kemudian ialah, mengapakah Allah demikian kejam? Jawabnya ialah:
1. Dosa-dosa bangsa Kanaan sangat besar dan sudah berlangsung sangat lama. Sesuai janji TUHAN kepada Abraham,TUHAN akan memberikan tanah Kanaan kepada bangsa Israel ketika dosa penduduk Kanaan sudah penuh (Kej 15:16). Kefasikan bangsa Kanaan menjadi alasan utama mengapa mereka ditumpas (Ul 9:5; bdk. Im 18:24-25). Hal ini didukung oleh Ulangan 20:10-18 yang mengajarkan sikap berbeda terhadap bangsa non-Kanaan dan penduduk Kanaan (bdk. Yos 9:1-27).
2. Pemusnahan ini merupakan bagian dari penggenapan isi perjanjian dengan para Bapa Leluhur. Tuhan telah berjanji akan memberkati siapa yang memberkati keturunan Abraham, demikian pula Ia akan mengutuk siapa yang mengutuk mereka (Kej 12:3). Karena bangsa-bangsa itu berperang melawan bangsa Israel (9:1-2; 10:1-6; 11:20), maka mereka dikutuk oleh Allah.
3. Pemusnahan ini dimaksudkan supaya bangsa Israel tidak terpengaruh oleh kefasikan bangsa-bangsa tersebut. Jika mereka tidak ditumpas sampai habis, maka mereka akan membuat bangsa Israel menyembah berhala (Ul 7:2-5; 20:18). Dalam sejarah bangsa Israel selanjutnya hal ini sungguh terjadi. Ketika bangsa Israel melanggar perintah TUHAN untuk menumpas bangsa Kanaan, maka mereka akhirnya terjebak pada penyembahan berhala (Hak 2:1-5; 3:4-6).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa TUHAN adalah ALLAH yang panjang sabar (IA menunggu selama berabad-abad sampai dosa itu penuh). Ia adalah ALLAH yang setia kepada perjanjian-Nya: Ia mengutuk siapa saja yang mengutuk umat-Nya. Ia juga ALLAH yang mengasihi umat-Nya sehingga Ia menjaga mereka dari dosa-dosa yang menjijikkan.
Maka kehadiran Yosua sekaligus merupakan perwujudan dari sikap Allah yang benci pada dosa.
II. Apakah yang dapat dipelajari dari kisah ini ?
Memberi yang terbaik kepada Allah sebagai sebuah kurban menjadi hal utama dalam kehidupan umat Tuhan. Artinya sebagai umat Tuhan diharapkan adanya yang terbaik ( band. Roma 12 : 1 ). Melalui pemahaman yang demikian maka :
Contohilah Yosua, yang taat bertempur karena melaksanakan Tugas dari ALLAH. Di kemudian hari Yesus mencontohkan hal yang sama dengan kualitas yang lebih mendalam, IA taat melaksanakan Tugas BAPANYA, sampai mati di kayu salib. Mengapa kualitasnya lebih mendalam? Karena Yosua menghadapi kemenangan dunia dengan sorak sorai penduduk Israel dalam pertempuran dan sewaktu kembali ke Gilgal, tetapi Yesus Kristus menghadapi ejekan dunia dan akhirnya di salib. KemenanganNYA dicapai di kayu salib dengan mematahkan kuasa maut dan naik ke Surga. Tetapi terlepas dari perbandingan itu, beberapa hal dapat kita aplikasikan:
1. Sikap taat kepada kehendak ALLAH, adalah mutlak bagi kemenangan kehidupan kita. Ketaatan Yosua mendatangkan kuasa dan kekuatan yang besar karena ALLAH. Demikian juga dengan orang percaya dalam amanat agung Kristus Yesus di Mark.16:17-18. Ingin punya kekuatan seperti itu? Jalannya hanya satu: Taat Kepada ALLAH.
2. Dengan memahami mengapa ALLAH memusnahkan orang Amori, kita perlu tahu bahwa ALLAH adalah penuh Kasih dan sekaligus juga Tegas. Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai kita merasa sebagai orang Israel tetapi sebenarnya perilaku kita seperti orang Amori, merasa seperti Daud, padahal sebenarnya kita berperilaku seperti Goliat, merasa sebagai orang percaya tetapi sebenarnya berperilaku seperti orang Farisi.
3. Ketika kita menghadapi pertempuran dalam kehidupan kita, - dalam konteks sekarang pertempuran melawan keinginan daging, hawa nafsu dan godaan iblis - maka yang diutamakan adalah bagaimana memenangkan pertempuran itu untuk Kemuliaan ALLAH. Berapa sering kita terlalu sibuk mengalahkan diri kita sendiri, saingan kita di jemaat, mendapatkan sesuatu pengakuan atau penghargaan sosial kemasyarakatan/jemaat tanpa lagi mengingat untuk memuliakan ALLAH? Bukankah seringkali kita berusaha mencapai kemenangan dan ketenaran hanya untuk diri kita sendiri dan bukan untuk memuliakan ALLAH?

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |