Dibaca : 24910 x
KhotbahMinggu, 01 September 2013 Galatia 6:1-3 SALING MENANGGUNG BEBAN

Sahabat-sahabat yang terkasih dalam Yesus Kristus
Kita hidup di dunia dengan atmosfir dimana semua orang bergerak bersama tetapi dalam kebersamaan itu mereka `asing� terhadap yang lain. Suasana yang demikian bertolak dari pola hidup dewasa ini yang mengagungkan perilaku individualistis, egosentris dan materialistis yang terwakili oleh berbagai sarana perbelanjaan yang menjamur saat ini di kota-kota besar. Kekuatan kapitalisme yang mengagungkan profit atau untung telah menghadirkan suasana `sepi di tempat yang ramai� sebab setiap orang bergerak dengan tujuannya sendiri.
Kehidupan yang kering dan berlangsung seperti mesin inilah yang menimbulkan banyak persoalan kemanusiaan. Artinya nilai kemanusiaan seseorang kini ditentukan oleh kekuatan kapital dan modal sehingga mereka yang tidak beruntung berada pada posisi yang semakin terlindas. Mereka yang mengalami penderitaan tidak lagi diposisikan sebagai manusia yang berhak atas hidup yang lebih baik karena yang terutama dan paling utama adalah sejauh mana keuntungan dimiliki dan digenggam kuat.
Dalam konteks inilah Paulus menyampaikan peringatannya kepada jemaat di Galatia. Melalui nasihatnya Paulus hendak menyampaikan bahwa memenuhi hukum Kristus adalah yang utama (ayat 2). Apakah hukum Kristus yang dimaksud Paulus? Hukum Kristus seperti dikemukakan oleh Paulus tidak lain adalah hukum `saling melayani� dan `hukum kasih� (Gal. 5:13). Hukum Kristus yang dikemukakan oleh Paulus sekaligus berhadap-hadapan dengan hukum Taurat yang legalistic. Dalam hukum taurat yang legalistic maka yang utama dan terutama adalah menunjukkan kesalahan dan kekeliruan tanpa solusi atau jalan keluar. Artinya kehidupan yang diwarnai dengan hukum taurat akan selalu bersifat menunjuk kesalahan tanpa upaya memperbaiki. Inilah yang selaras dengan hukum Kristus yang memperlihatkan kesalahan namun sekaligus bertindak untuk memperbaiki kesalahan dalam kerendahan hati dengan semangat melayani.
Maka dalam hal ini terdapat beberapa nasihat yang perlu diperhatikan yakni :
1. Ayat 1- 2: suatu pelanggaran menunjuk bahwa manusia tidak pernah bisa hidup dengan sempurna sebagaimana Yesus Kristus. Manusia dalam keterbatasannya bisa melakukan pelanggaran yang tidak disadarinya. Pelanggaran seperti ini adalah pelanggaran yang menunjukkan bahwa manusia senantiasa berada dalam pergulatan untuk hidup menurut daging atau roh dan pilihan untuk hidup dibawah tuntunan Yesus Kristus itu berarti ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal.5:24).
Disinilah nasihat Paulus menjadi terang bahwa yang menjadi pusat kehidupan orang beriman adalah Yesus Kristus. Sehingga ketika ia berada dalam dominasi kuasa-Nya setiap orang beriman akan hadir dalam kemauan yang kuat menyatakan kebaikan bagi sesama. Orang beriman bukanlah kumpulan manusia yang hanya mementingkan keuntungan dari sebuah relasi tetapi yang utama memberi nilai positif dari relasi yang terjadi.
Maka saling bertolong-tolonganlah kamu (ayat 2) bukanlah dalam kerangka melakukan kejahatan secara massal tetapi mengarahkan setiap orang yang melakukan pelanggaran keluar dari pelanggaran itu untuk selalu berada dalam kebenaran. Kehadiran orang beriman yang demikian tidak akan memanfatkan pelanggaran seseorang untuk kepentingan diri sebaliknya pelanggaran seseorang juga menjadi saran diri untuk belajar agar tidak jatuh pada pelanggaran yang sama (ayat 1, `...sambil menjaga dirimu sendiri....).
Bagaimanakah hal ini diwujudkan dalam relasi suami-istri? Ketika pelanggaran dibuat oleh pasangan maka sebagai suami atau istri tidak memakai pelanggaran itu sebagai alat untuk mengintimidasi, menekan atau sebagai alasan untuk melakukan pelanggaran yang sama. Suami-istri yang beriman kepada Yesus akan selalu mencoba untuk bersama keluar dari pelanggaran dan saling tolong menolong untuk memenuhi hukum Kristus yakni hukum melayani dan hukum kasih.
Suami-istri yang tidak memakai pelanggaran pasangan sebagai kesempatan untuk menguasai seperti yang kebanyakan dilakukan pada saat ini. Ketika seseorang melakukan pelanggaran maka hal itu dilihat sebagai kesempatan untuk memeras yang salah sehingga hukuman dapat semakin ringan. Suami-istri yang dipimpin oleh Roh Kudus akan selalu berusaha menampilkan perilaku yang saling mendukung dan menopang sehingga pelanggaran dapat diatasi bersama dalam rasa syukur bahwa pasangan hadir memberi nasihat. Dan yang paling utama ialah diri kita sendiri yang tetap hadir sebagai pembawa damai sejahtera. Christians relationship between husband and wife is the most influent spirit among the congregation. Christian relationship then become a mutual relationship as a new life in the law of God.
2. Ayat ke-3, dalam terjemahan Autorized Version dikemukakan `to be something when he is nothing� inilah argumentasi Paulus untuk menunjukkan bahwa hukum taurat yang legalis dan tidak memberi nilai pada kemanusiaan akan menghasilkan manusia-manusia yang merasa diri berarti padahal tidak berarti. Istilah yang dipergunakan Paulus adalah phrenaphates - pikiran yang menipu, seorang penggoda, pembujuk. Dalam hal ini kalau seseorang merasa dirinya berarti padahal ia tidak berarti maka ia dikategorikan sebagai seorang penggoda, perayu, pembujuk. Muara dari perilaku yang demikian adalah kejahatan yang merendahkan pemerintahan Kristus. Karena itu dapat dikatakan bahwa setiap hal yang muncul dari kesombongan rohani adalah penggoda dan pembujuk luar biasa. Arogansi spiritual dapat terjadi pada siapa saja bahkan dapat terjadi dalam relasi suami-istri.
Husband and wife within the confines of spiritual pride will always feel themselves most meaningful when he himself knows that he does not mean.Suami-istri dalam kungkungan kesombongan rohani akan selalu merasa diri paling berarti padahal ia sendiri tahu bahwa dirinya tidak berarti.
Dalam pemahaman yang demikian maka diperlihatkan kepada kita semua sebagai orang percaya betapa pentingnya hidup dalam persekutuan yang saling membangun dan memulainya dari keluarga. Betapa pentingnya untuk memiliki kerendahan hati di tengah arogansi yang diperlihatkan dunia sebagai penggoda dan pembujuk yang akan menjerumuskan kita pada hidup yang tidak berarti.
Maka hiduplah baik-baik dengan pasangan dan janganlah menjadi hakim tetapi di setiap pelanggaran yang terjadi kita hadir untuk bangkit bersama. Dunia memang dapat menjatuhkan kita tetapi pada kita adalah pilihan mau tetap jatuh atau bangkit dan berjalan lagi sebagai pemenang. Pilihannya tentu kita akan bangkit sebab setiap pelanggaran bukan alat untuk menekan dan bukan alasan untuk tetap kalah. MAJU TERUS BERSAMA TUHAN YESUS SEBAB DALM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA KEHIDUPAN KITA AKAN BERMAKNA DAN TIDAK SIA-SIA. AMIN.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|