Dibaca : 23999 x
KhotbahMinggu, 21 Juli 2013 Efesus 5: 22-30 BERBEDA TETAPI SATU
 Sahabat-sahabat yang terkasih dalam Tuhan Yesus,
Siapakah suami atau istri yang baik dan apakah persyaratan untuk menjadi suami-istri yang baik? Bagaimanakah cara mewujudkan peran sebagai suami atau istri yang baik? inilah serangkaian pertanyaan yang dapat saja muncul dalam percakapan. Ketika kita berbicara tentang istri yang baik dan suami yang baik maka yang kita bicarakan ialah ukuran - ukuran yang baik secara Kristiani. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa untuk tiba pada keadaan sebagai suami yang baik atau istri yang baik maka ukurannya ialah ` Takut akan Tuhan ( Amsal 31: 12 dan 30 dan Maz. 128:4). Dengan demikian untuk menjadi suami yang baik dan istri yang baik diperlukan kemauan yang kuat untuk hidup takut akan Tuhan.dengan hidup takut akan Tuhan maka suami - istri senantiasa menjaga penampilan , keanggunan, kebersihan yang semuanya berujung pada menghargai dan menghormati pasangan. Dengan pemahaman yang demikian maka kehadiran suami yang baik dan istri yang baik selalu diliputi oleh interaksi antar keduanya yang dihayati sebagai relasi yang membangun.
Sahabat-sahabat yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Dengan memberi gambaran yang demikian maka R. Paulus hendak mengemukakan pandangannya tentang relasi antara Allah dan manusia. Relasi antara Allah dan manusia juga digambarkan dalam bentuk relasi antara suami-istri. Keberadaan Yesus sebagai mempelai Pria yang menjaga kewibawaan istri adalah mempelai Pria yang dengan tekun menjaga kelakuannnya menjadi bersih dan berwibawa. Sesuatu yang secara natural muncul ketika hidup suami selalu diwarnai dengan pengakuan yang kuat tentang keberadaan Allah. Paulus menyatakan bagian perikop bacaan ini dalam terang ` HIDUP SEBAGAI ANAK-ANAK TERANG (5:1-21). Maka relasi suami-istri yang dikemukakan oleh Paulus sebagai sebuah perintah yang dilaksanakan sekarang dan bukan nati merupakan nasihat kepada mereka para suami-istri untuk senantisa hidup dalam tuntunan Roh Kudus (ayat 18). Maka rasul Paulus hendak mengemukakan kehendak Tuhan sebab dengan mengerti kehendak Tuhan (ayat 17) umat selalu dimampukan menerapkan kebenaran. Penerapan kebenaran dalam relasi suami-istri merupakan hal mendasar karena merupakan bukti dari hidup sebagai anak-anak terang. Suami-istri yang hidup dalam terang adalah suami-istri yang selalu hidup dalam relasi yang saling menghormati sebab menyatu dan dipersatukan dalam rencana Allah yang agung dan mulia (ayat 33). Maka istri yang tunduk kepada suami adalah istri yang melakukan hal itu sebagai sebuah perilaku memberi secara sukarela (it was "a voluntary attitude of giving in).
Sejalan dengan hal itu amak suami juga diposiskan sebagai pribadi yang mengasihi istri dengan kasih agape - yakni kasih yang tanpa syarat serta memerlukan keberanian untuk berkurban ( it is different between victim and sacrifice). Maka suami yang mengaishi istri adalah suami yang selalu memberi diri dituntun roh Kudus dan hidup sebagai anak-anak Terang (Ef. 5: 8-9). Maka kebajikan yang dinyatakan oleh suami bukanlah dalam pengertian hukum dagang atau bisnis yang beroerientasi profit. Maka melalu firman Tuhan ini hendak dikemukakan hal sebagai berikut:
1. Ayat 22-27 : firman Tuhan ini hendak menyatakan bahwa saling mengasihi antara suami-istri harus selalu didudukan dalam pengertian sebagai anak-anak terang. Maka kehadiran suami-istri yang saling mengasihi adalah hasil dari pembenaran dan penebusan Yesus Kristus sehinggasaling mengasihi tersebut dapat terpancar dalam kehidupan setiap hari. Ini berarti bahwa `inner beauti seorang perempuan bertolak dari hati yang mengakui Yesus Kristus sebagai juruselamat. Pengakuan ini penting sebab sekaligus berkaitan dengan pengakuan warga gereja kepada Tuhan.
Sebuah pengakuan yang diberlakukan dalam bentuk yang sopan dan selalu menghormati Tuhan. Kenapa ? sebab melalui salib di Golgotha Yesus hendak menyatakan kedaulatan-Nya atas semua permasalahan hidup termasuk dalam relasi suami-istri. Firman Tuhan ini dengan terang benderang menyatakan bahwa noda atau kerut (spilon-yun) artinya noda atau kerut itu seperti tebing atau batu karang. Ini menunjukkan bahwa noda itu sudah membatu dan hanya bisa disingkirkan oleh kuasa Yesus yang sanggup mempercayakan harta rohani tersebut dalam kehidupan kita.
Dengan demikian maka suami-istri yang saling mengasighi adalah suami-istri yang mampu untuk terus hadir dalam persekutuan yang hidup. Suami-istri yang saling mengasihi dalam terang Firman Tuhan tidak berarti kebal terhadap tantang dan persoalan tetapi setiap itikad yang baik harus selalu disyukuri.
Suami-istri yang saling mengasihi dapat mengambil contoh dari bagaiaman Yesus kristus mencintai dan bertindak dalam cinta untuk keselamatam kita semua. Maka kehadiran sebagai suami - istri yang saling mengisihi selalu diwujudkan dalam cinta kepada gereja. Gereja bukan soal gedung tetapi soal manusia yang ada dalam gereja. Jika Yesus Kristus demikian mengasiihi manusia, maka kehadiran gereja yang bersaksi dan melayani selalu diperhadapan dengan atmosfir yang baik,
2. Ayat 28-30. Perbedaan yang ada pada gereja tidak menghalang Yesus untuk selalu dapat menjumpai anak-anakNya, hari-hari ini adalah jahat ( ayat 15, 16) Perjumpaan yang memberi kesempatan untuk peka dan mewaspadai perubahan jaman. Hari - hari ini adalah jahat sebab orang tidak lagi menghormati pasangan-Nya, orang tidak lagi berjarak dengan sesama. Melalui kesadaran inilah maka setiap anak-anak Tuhan selalu dimampukan untuk hadir dan bermakna.
Suami-istri saja memiliki perbedaan, apalagi jika dibadingkan dengan keberadaan gereja yang sangat beragam. Keberagaman ini bukan alasan untuk tidak bersatu, ingat hari-hari ini adalah jahat. Hanya dalam kebersamaan itulah maka kehadiran gereja selalu muncul dengan kombinasi yang baik.
Maka warga jemaat perlu tahu bahwa kehidupan bergereja yang solid dan bertumbuh adalah symbol dari persekutuan suami-istri. Jika istri tunduk kepada suami maka itu berarti suami yang tidak baik akan menjadi baik. Dunia dengan segala problemnya dapat menghadirkan persekutuan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Maka suami-istri yang selalu memberi diri di tuntun oleh Roh Kudus akan berperan penting. Suami-istri perlu di bina dan dibimbing.agar selalu diingatkan bahwa keadaan mereka selalu terpantau oleh kuadsa roh Kusu. Maka hidup yang demikian adalah hidup yang berkemenangan).
Maju terus bersama Yesusu, maka jerih lelahmu itulah bukti penyertaan dan kasih Allah. Amin.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|