Dibaca : 23591 x
Catatan RefleksiJumat, 28 Juni 2013 Luk.23:46 WASPADA TERHADAP NIHILISME (sebuah renungan bagi setiap Bapak berdasarkan Luk. 23:46)
PENDAHULUAN
Nihilisme adalah sebuah paham yang bersumber dari kata kerja Annihilate yang artinya meniadakan, membasmi, memusnahkan, menghapuskan segenap eksistensi. Pernyataan Nihilisme dapat dirumuskan dengan mengatakan bahwa keberadaan manusia dalam dunia ini tidak memiliki tujuan. Penganut aliran filsafat ini memahami bahwa dunia dan manusia dengan segala sesuatu yang ada padanya tidak lebih dari keburukan-keburukan. Bahkan Tuhan hanya dipahami sebagai sumber kekeliruan yang berkontribusi terhadap hadirnya fenomena yang bersifat individual.
Tokoh dibalik aliran filsafat ini adalah Friedrich Nitzsche yang terkenal dengan pernyataan "TUHAN SUDAH MATI` (GOTT IST TOT). Pemahaman yang demikian menempatkan manusia memiliki dorongan untuk memiliki kehendak berkuasa (will to power) dan agama mengkhotbahkan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak berkuasa (Cepi Riyana, 2007).
Bertolak dari pemahaman di atas maka corak pemikiran nihilisme yang beroerientasi pada individu secara radikal memunculkan gagasan peri kehidupan yang militan. Artinya individu yang militant untuk memiliki kuasa sehinga dapat menjadi individu yang mengubah berbagai keburukan sebagai realitas. Semua realitas yang buruk ini harus dimusnahkan, ditiadakan sehingga hidup hanya hidup dengan kehendak berkuasa. Maka dalam nihilisme hendak dikatakan bahwa agama dengan absolutism pada Allah hanyalah bagi mereka yang putus asa. Kedaulatan Allah menjadi absurb dalam kedaulatan setiap pribadi yang bebas dalam menentukan dan menemukan jalan hidupnya.
Bahaya nihilism inilah yang perlu diwaspadai oleh setiap ayah yang dewasa ini semakin berkualitas secara intelektual. Kualitas intelektual yang tidak dikemas oleh absolutisme Allah akan menghadirkan para ayah yang terhisab kedalam nihilisme spiritual yang berdampak pada pola peribadahan yang tidak menjelma dalam kepastian hidup. Bagi setiap ayah yang bergumul dengan peran di semua strata kehidupan diperlukan sebuah pemahaman yang mendasar yakni kepastian masa kini dan kepastian masa depan didalam Allah yang absolut. Artinya semua aktifitas sebagai seorang ayah mendapat bentuk istimewa ketika di posisikan dalam ruang karya Allah.
Setiap ayah dengan keyakinan bahwa Allah adalah Allah yang absolut kekuasaan-Nya tidak mereduksi makna kreatifitas dan kerja keras sebaliknya semakin bermakna dan semakin berarti. Kita perlu mewaspadai nihilisme spiritual ini sehingga semua anugerah Tuhan membuat kita mengalami NEPHO-CALM IN SPIRIT. Meyakini bahwa setiap kerja keras dan air mata kita sebagai seorang ayah selalu mengkristal dalam balutan kilauan cahaya memuliakan Tuhan. Jika dalam Alkitab terdapat 365 kata "jangan takut`, hal itu mengidikasikan pesan Tuhan yang kuat bagi setiap ayah setiap hari selama setahun berjalan dan tahun-tahun berikutnya, jangan takut. Pada titik inilah peran setiap ayah menjadi peran dengan makna ganda, yakni bermakna bagi keluarga dan bermakna bagi kemuliaan Tuhan Yesus.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab didalam kuasa-Nya yang absolut, jerih lelah kita sebagai ayah masa kini tidak pernah sia-sia.
( bersambung)

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |