Jemaat yang Tuhan Yesus Kasihi,
Keluarga Kristen adalah persekutuan anak-anak Tuhan dalam ikatan kasih Allah yang selalu mengarah kepada kehidupan yang baik. Ini berarti setiap keluarga Kristen memiliki tanggung jawab moral untuk selalu menghadirkan nilai-nilai yang kuat dan kokoh di tengah atmosfir hidup yang tidak kondusif. Dewasa ini kita melihat bagaimana setiap keluarga Kristen berjuang untuk senantiasa tampil secara baik sekalipun diperhadapkan dengan tarikan dunia yang merusak nilai-nilai kehidupan mereka.
Bacaan kita hari ini memperlihatkan betapa rapuhnya kualitas kehidupan keluarga raja Daud sehingga terjadi kenyataan yang memilukan. Hal ini memperlihatkan bahwa sekalipun sebagai umat Allah, keluarga Daud tidak terelpas dari masalah dan pergumulan. Masalah dan pergumulan dapat saja melemahkan eksistensi keluarga. Masalah dan pergumulan dapat saja menerjang pondasi kehidupan keluarga sehingga yang terjadi adalah peristiwa yang menguncang kehidupan keluarga.
Bagaiamanakah cara kita menguatkan pilar-pilar dalam keluarga, itulah yang akan kita lihat bersama saat ini :
1. Ayat 23 - sesudah dua tahun, kalimat ini menunjukkan bahwa selama 2 tahun Absalom menanti waktu yang tepat untuk membunuh Amnon yang telah memperkosa Tamar (ayat 14). Kejahatan Amnon adalah kejahatan yang merendahkan perempuan pada titik nadir. Melakukan kekerasan seksual yang merendahkan posisi sebagai anak keturunan raja yang dikasihi oleh Allah. Bahkan Daud tidak melakukan tindakan apapun kepada Amnon (ayat 21).
Salah satu prinsip penting dalam menguatkan keluarga adalah menghadapi setiap persoalan dengan terus terang dan jujur. Artinya setiap anggota keluarga yang diperhadapkan dengan pergumulan tidak mengabaikan pergumulan itu tetapi menghadapinya. Persoalan dan pergumulan tidak akan berlalu begitu saja sebab bukankah ibarat bermain bola setiap kita yang menuju kepada gawang akan di adang dan dijebak sebagai upaya menahan laju kemajuan ? begitupun dengan hiudp. Kita ingin kehidupan berjalan dengan baik tetapi adangan dan jebakan dapat saja dilakukan kepada kita maka prinsip pertama, HADAPI DENGAN BERANI.
Baik Daud maupun Absalom adalah type laki-laki yang berdiam diri. Diam karena takut atau diam karena menyususn rencana jahat. Keduanya bukanlah hal yang baik dihadapan Tuhan. Sehingga menghadapi adangan dan jebakan memerlukan kemauan kuat untuk tetap tegar dan teguh. Jangan pernah bersikap pasrah terhadap pergumulan dan tantangan tetapi hadapilah dengan kesatria. Sikap kesatria setiap laki-laki atau suami adalah menghargai istri, menghormati perempuan. Setiap laki-laki dihadirkan untuk menjaga kewibawaan istri dan bukan mempermalukan istri dengan arogansi maskulinitasnya. Mempermalukan dan merendahkan istri bisa saja tidak diketahui oleh public, tetapi ingat, Tuhan tahu apa yang anda lakukan. Maka menghormati istri berarti memberi teladan baik supaya anak laki-laki mewarisi nilai yang sama dan anak perempuan membanggakan kehadiran seorang ayah.
Yesus memperlihatkan contoh yang tepat tentang bagaimana berhadapan dengan tantangan untuk kebaikan dan keselamatan manusia di taman getsemani. Yesus meperlihatkan sikap yang jelas terhadap persoalan dengan mebangun komunikasi yang intens dengan Bapa. Doa di getsemani lalu menjadi sangat terkenal ketika berujung kepada keselamatan manusia yang berdosa.
Yesus juga menunjukkan sikap yang tegas terhadap perempuan dengan menghormati mereka. Percakapan dengan perempuan samaria memperlihatkan bagaimana Yesus mengangkat harkat perempuan samaria itu menjadi pemberita Injil.
Yesus juga memperlihatkan sikap-nya yang tegas terhadap dosa, ketika kepada orang banyak Ia membela perempuan dan mengatakan pergi dan jangan berbuat dosa lagi.
Jika kita mengaku bahwa kita pengikut Yesus dan mempercayai-Nya, maka prinsip pertama yakni menghadapi pergumulan dengan berani adalah ciri khas murid-Nya. Tidak bersikap pengecut dengan merendahkan martabat perempuan.
2. Ayat 28 : Absalom merancang kejahatan terhadap Amnon dengan tujuan untuk membunuhnya. Absalom yang menyimpan dendam selama 2 tahun adalah manusia yang hidup dengan rencana yang jahat. Ketika rencana jahat menjadi pilihan Absalom maka pada saat yang sama ia tidak berbeda dengan Amnon. Kesamaan Absalom dan amnon ialah menciptakan ruang untuk terjadinya pembunuhan. Amnon membunuh karakter Tamar dan Absalom membunuh Amnon.
Setiap rencana jahat hadirnya selalu dari iblis dan pengikut iblis akan selalu mendesain kejahatan terhadap sesame. Peristiwa amoral justru sering terjadi tidak dilakukan oleh orang asing tetapi dilakukan oleh orang yang dekat dengan keluarga. Bisa saudara, bisa tetangga, yang pasti pribadi-pribadi ini tidak sedikitpun menimbulkan kecurigaan kita. Kita pikir sahabat tetapi sebenarnya adalah iblis yang sedang mencari peluang untuk meruntuhkan kehidupan keluarga. Pesta yang dipersiapkan oleh Absalom adalah pesta kematian bagi Amnon.
Perusak kehidupan keluarga seringkali dilakukan justri oleh orang-orang di sekitar keluarga kita. Maka diperlukan kewaspadaan. WASPADA DAN WASPADA adalah pilar kedua dalam membangun keluarga yang kuat.
Waspada terhadap pergaulan yang menyesatkan dan merugikan adalah sikap yang arif.
Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, w sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya 1 masih berlaku. ( Ibr. 4:1 )
Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis , berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (1 Petrus 5:8).
Maka prinsip ke-2 adalah waspada. Kita semua perlu memakai ukuran-ukuran Alkitabiah dalam kehidupan ini sehingga kita sungguh-sungguh mewujudkan panggilan dan pengutusan kita di tengah keluarga secara baik.
Rancangan yang kita bangun terhadap sesame adalah rnacangan damai sejahtera dan ini diberlakukan pertama-tama dalam keluarga. Dengan segala kewaspadaan kita memiliki kekuatan untuk terus hadir bermakna. Dengan rencana yang baik kita terus hadir untuk memeprlihatkan bahwa kita bukan anak-anak iblis tetapi anak-anak Tuhan.
3. Ayat 31. Sikap daud dengan mengoyak jubahnya adalah ekspresi dari kesdiahan yang mendalam atas semua peristiwa yang terjadi. Di mazmur 51, ekpresi pengakuan dosa merupakan nilai tambah dari Daud. Dalam kerendahan hati ia mengakui keterbatasannya sebagai seornag raja tetapi sekaligus memperlihatkan kemauan yang kuat untuk mengalami pembaruan.
Kadangala kita berjumpa dengan manusia-manusia yang sombong dengan keberdosaannya. Menganggap bahwa dosa adalah urusan pribadi dengan Tuhan. Maka kekeliruan yang sering terjadi adalah menyatakan diri sudah bertobat tetapi perilaku setiap hari tidak pernah bertobat. Hidup dalam kesesatan seperti ini berarti hidup dengan mencobai Tuhan Allah.
Pilar ke-3 dalam penguatan peran keluarga adalah keberanian untuk memohon ampun kepada Tuhan dalam kerendahan hati. Ketika anggota keluarga sudah meminta maaf, ini bukan alasan untuk semakin menekan. Salah satu persoalan keluarga modern saat ini adalah enggan untuk meminta maaf. Suami-istri yang tidak pernah berlajar untuk minta maaf dan memaafkan adalah suami-istri yang sedang merusak pondasi rumah tangga. Anak-anak yang tidak pernah minta maaf kepada orangtua atau memaafkan orangtua adalah anak-anak yang akan mengalami kehampaan dalam hidup. Hidup tidak berarti dan mati dalam kehampaan.
Berani MINTA MAAF inilah pilar ke-3 yang harus tetap terpelihara dalam kehidupan setiap orang percaya. Yesus sendiri dengan pengampunan yang dilepaskan oleh-Nya membawa kehidupan yang sungguh-sungguh berarti. Melalui pengampunan-Nya maka terbentang peluang baru untuk hidup lebih baik lagi dimasa depan.
Jemaat yang terkasih,
Maka prinsip-prinsip Alkitabiah dalam penguatan keluarga adalah dengan memperhatikan 3 hal penting yakni: hadapi dengan berani, waspada dan minta maaf. Melaui prinsip-prinsip inilah maka penghargaan terhadap setiap anggota keluarga selalu terwujud. Amin