Dibaca : 23930 x
KhotbahSelasa, 14 Mei 2013 1 Tesalonika 5: 6-11 BERJAGA-JAGA TERHADAP NIHILISME
 Jemaat yang Tuhan Yesus kasihi,
Waspada terhadap ajara nihilisme merupakan hal penting yang harus kita lakukan. Ajaran filsafat ini sangat militant dengan slogan yang terkenal `gott ist tot- Allah sudah mati. Sebuah pemikiran yang jika diabaikan dapat menimbulkan gangguan dalam kehidupan selaku anak-anak Tuhan.
Fredrich Nizstche dengan terang dan jelas mengemukakan bahwa manusia memerlukan dirinya sendiri sebab ketika Allah yang diposisikan sebagai penentu hidup manusia maka buramnya kehidupan adalah kekeliruan yang telah dibuat allah. Manusia hanya memiliki `will to power yang sarat dengan kegundahan untuk mereduksi segala kekacauan dengan memberi keyakinan pada diri sendiri secara radikal. Artinya manusia hanya dapat mengandalkan dirinya sendiri untuk mengatasi segala keputusasaan yang berujung pada hilangnya eksistensi. Maka dalam nihilisme hendak dikatakan bahwa agama dengan absolusitas pada allah hanyalah untuk mereka yang sudah putus asa.
Mengapa hal ini penting diperhatikan? Sebabnya ialah ketika manusia dikuasai oleh aliran nihilism ini baik sadar maupun tidak sadar, maka manusia menjadi manusia yang tidak memliki kepastian kedatangan Tuhan Yesus. Dampak dari pemahaman yang demikian maka hidup hanyalah hidup yang mengalir dan tidak perlu diperjuangkan dalam perspektif iman. Hidp tidak lagi bermakna sebab segala bentuk aktifitasnya bergulir secara normative.
Kondisi inilah yang nampak dalam kehidupan umat di Tesalonika. Hari Tuhan jika tidak segera terwujud untuk apa dinantikan? Jika hari Tuhan hanya menimbulkan ketidakpastian untuk apa diharapkan? Tanggapan Paulus sungguh berbeda ketika ia menyatakan bahwa hari Tuhan adalah sebuah kepastian masa depan dan menjadi tanda batas yang diawali dengan kenaikan-Nya. Antara kenaikan dan kedatangan Yesus kedua terbentang sebuah masa yang disebut masa kasih karunia. Masa kasih karunia adalah masa dimana umat mendemonstrasikan iman mereka kepada Yesus dalam perjumpaan dengan sesama (ayat 11).
Alasan yang dikemukakan oleh Paulus adalah demikian:
1. ayat 6-7, memperlihatkan bagaimana Paulus menyikapi hari Tuhan. Ia mengatakan jangan tidur tetapi berjaga-jaga dan sadar. Berjaga-jaa memperlihatkan ada usaha memberi perhatian (pay attention) serta sadar yakni calm in spirit. Dengan sikap berjaga-jaga dan sadar Paulus hendak menggarisbawahi betapa pentingnya hidup yang sudah Tuhan anugerahkan. Berjaga-jaga dan sadar lalu menjadi titik awal untuk terus berkarya dengan kepastian. Maka nihilisme akan tergantikan dengan optimisme dalam Tuhan. Nasihat Paulus ini hendak menegaskan bahwa hidup harus diperhatikan dengan serius, dipergunakan dengan sadar membawa kebajikan dan memaknai kasih karunia sebagai berkat yang terindah.
Bagi kita saat ini nampak penting nasihat paulus kepada jemaat di Tesalonika sebab kita diingatkan untuk memakai hari anugerah Tuhan secara bertanggung jawab dan penuh perhatian.
Dosa memang menghadirkan kekacauan dan keputusasaan tetapi Allah hadir dalam Yesus kristus yang memberi realitas baru yakni pengharapan yang kongkrit.
Kita berkarya dalam pengharapan yang demikian sehingga ketika berjumpa dengan riak bahkan gelombang pergumulan kita tetap tenang. Hal ini penting sebab ketika pelayanan kita dijangkiti oleh virus nihilisme, maka pelayanan itu tidak lagi berlandaskan kuasa Allah. Pengakuan bahwa kita adalah anak-anak siang menunjukkan betapa pentingnya amanat yang dipercayakan kepada kita saat ini.
2. Ayat 8, Paulus menyatakan kepada umat bahwa memasuki kepastian masa depan juga diwarnai dengan hadirnya kasih, iman dan pengharapan. Di dalam iman, kasih dan pengharapan maka seseorang tetap hadir secara istimewa bagi Tuhan. Dengan pemahaman demikian maka setiap orang percaya meyakini bahwa hidup yang Tuhan anugerahkan adalah hidup yang penuh dengan karya nyata sebagai tanda menyongsong kepastian hari esok.
Inilah yang membuat kita semua memiliki keteguhan dalam menjalani kehadiran kita selaku umat Allah. Kita tetap meyakini karya-Nya yang membuta kita berbeda dari dunia sekalipun kita ada dan hadir dalam dunia. Kita tidak menyalahgunakan hidup anugerah Tuhan dengan mengadopsi nihilism, sebaiknya kita mengubah ketidakpastian menjadi kepastian yang utuh dan kokoh dalam Kristus.
3. Ayat 9-11, menegaskan bahwa Allah menetapkan agar kita tidak ditimpa murka tetapi anugerah. Inilah kabar baik yang kemudian diteruskan kepada sesama (ayat 11) sehingga keberadaan kita senantiasa diwarnai dengan `memberanikan sesame untuk menghadapi masa depan.
Karena itulah kita saling membangun sehingga merupakan jawaban atas parousia. Jangan disesatkan oleh ajaran nihilisme tetapi milkilah ajaran yang sehat di dalam Yesus kristus.
Keluarga kita adalah keluarga dengan kepastian masa depan maka `stay calm in spirit merupakan sebuh kebenaran yang akan memberi kekuatan bagi kita menjalani kehidupan ini. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|