Dibaca : 22412 x
Catatan RefleksiJumat, 10 Mei 2013 Amsal 8:1-7 SERUAN SANG BIJAK
Amsal Salomo ini adalah ajaran yang ditujukan kepada setiap manusia sebab dengan mendengarkan Amsal seseorang dilengkapi untuk menikmati hidup sebab melangkah dalam kebenaran dan keadilan (ayat 20). Melangkah dalam kebenaran dan keadilan, bukankah itu yang menjadi harapan setiap orang yang menghendaki dirinya dijumpai oleh Allah (ayat 35). Melangkah dalam kebenaran dan keadilan memungkinkan seseorang memiliki hidup yang bermutu sebab Allah menyertai ia.
Apa yang dikemukakan dalam Amsal ini adalah dapat kita perhatikan demikian:
1. Ayat 1- 3, inilah Amsal yang menasihati setiap orang di ruang public/umum. Artinya seseorang yang hadir dalam perjumpaan dengan sesama patut menjaga relasi itu dalam kepandaian (ayat1). Kepandaian yang mengarah kepada pengetahuan bersumber dari takut akan Tuhan (9:10). Dengan pemahaman demikian maka seseorang yang bergaul dengan orang lain perlu menjaga pergaulan itu dalam kepandaian. Kata ini memperlihatkan adanya tindakan yang hati-hati sehingga martabat seseorang dapat terus terjaga dalam koridor yang menyenangkan hati Tuhan. Pergaulan di ruang public sangat besar pengaruhnya sehingga tanpa kepandaian maka seseorang akan merosot nilai kehidupannya.
Maka nasihat Amsal ini penting bagi kita semua agar supaya memiliki kepandaian dalam pergaualan dengan sesama. Dunia dimana kita hadir memerlukan kehadiran kita yang terus menyatakan kepandaian dalam menjaga kualitas hidup. Kita tidak harus menjadi pengkhotbah yang handal tetapi perilaku hidup kita yang pandai karena bijak menentukan sikap merupakan khotbah yang dapat menyegarkan setiap orang.
Ketika kita hadir dalam kebersamaan dengan orang lain yang mungkin tidak seiman dengan kita, kita perlu menjaga kehadiran kita secara baik dan berlaku pintar sehingga banyak orang dapat mengalami damai sejahtera. Bukankah hal ini adalah panggilan bagi kita semua untuk menyatakan syalom.
2. Ayat 4-5, inilah Amsal yang berseru kepada pria dan anak manusia untuk memeprlihatkan bahwa kepandaian hidup tidak hanya di ruang public / umum tetapi juga di ruang privat/pribadi. Kepandaian dalam pemahaman yang demikian menunjukkan bahwa seperti seorang perempuan yang memberi nasihat demikianlah Amsal berseru kepada setiap pria dan anak manusia (termasuk perempuan). Apa yang dikemukakan adalah soal kecerdasan hati. Kecerdasan hati merupakan sumber segala yang baik agar setiap hati yang menerima ajaran menjadi hati yang penuh dengan kasih. Hati disini juga memperlihatkan makna "penuh pertimbangan`. Maka hati yang cerdas adalah hati yang dapat membuat pertimbangan dalam membuat keputusan atau melakukan sesuatu. Hati yang penuh pertimbangan adalah hati yang senantiasa terbuka untuk mengalami pembaruan. Dari hati yang mengalami pembaruan maka hadirlah hati yang cerdas dan kemudian menjadi hati yang penuh pertimbangan untuk melangkah.
Tuhan juga mengajar kita untuk selalu mempertimbangkan segala sesuatu dengan hati yang cerdas. Misalnya dua orang yang dari Yerusalem ke Emaus, hati mereka berkobar-kobar ketika Yesus mengajar mereka (Luk. 24:32). Dari sini dapat kita pahami bahwa di ruang kehidupan keluarga kita, kita memerlukan hati yang cerdas agar supaya keluarga kita selalu berada dalam damai sejahtera.
Hati yang cerdas dan penuh pertimbangan memberi kita kemampuan untuk berbicara yang baik kepada pasangan kita dan anak-anak. Hati yang cerdas akan menolong kita untuk memperlakukan pasangan kita dengan baik sehingga selalu hadir damai sejahtera.
Dengan dasar pemahaman inilah maka kehadiran kita di umum maupun dikeluarga selalu dilandasi dengan kecerdasan hati. Maka hidup lalu memiliki tujuan yang kuat sebab kita berbiacara tentang kebenaran (ayat7) dan dengan kebenaran (ayat 6- makna dari kata TEPAT).
Di luar ada banyak orang yang teraniaya oleh kejahatan, ada keluarga yang bermasalah dengan banyak pergumulan. Kesanalah kita hadir membawa identitas kita sebagai anak-anak Tuhan yang selalu memberi kesejukan, kedamaian sebab langkah kita adalah langkah kebenaran dan hati kita adalaah hati yang cerdas, maka tindakan kita adalah tindakan damai sejahtera. Amin.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |