aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 22228 x

Catatan Refleksi
Jumat, 26 April 2013
Yoh. 19:30
PERKATAAN YESUS DI SALIB KE-6

PERKATAAN YESUS DI SALIB KE-6
"Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai."Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya." - Yoh.19:30



Sahabat-sahabat yang terkasih dalam Yesus Kristus,



Kata "sudah selesai` yang diucapkan oleh Yesus adalah kata diucapkan oleh seseorang yang telah melaksanakan tugasnya. Ketika kata ini diucapkan Yesus, maka hal penting yang tersirat ialah bahwa Ia melakukan tugasnya sampai tuntas. Ketaatan kepada Allah dipenuhi oleh Yesus dengan menuntaskan semua misi yang diemban-Nya dan tiba pada pernyataan kuat "sudah selesai`. Pada titik inilah pernyataan Yesus kena-mengena dengan kehidupan seseorang yang bersedia untuk terus berada dalam "lingkar` pelayanan-Nya. Ini berarti kata "sudah selesai` tidak menunjukkan akhirnya karya Allah tetapi menjadi media bagi lengkapnya rencana Allah kepada manusia melalui kematian dan kebangkitan.



Perhatian dan kehadiran Allah yang besar bagi dunia ini terwujud dan mengerucut kepada Yesus dan karya-Nya. Seluruh rencana dan ketetapan Allah berpusat pada Yesus dan pelayanan-Nya, maka seluruh keberadaan Yesus di dunia hendak mewujudkan relasi yang baru antara Allah dan manusia yang berdosa. Sebuah relasi baru yang terwujud dalam bingkai perkawinan (Yoh.2:1-11) sehingga gema karya Yesus mengangkat manusia dari posisi yang hina menjadi mulia. Dari yang biasa menjadi istimewa karena disebut sebagai anak-anak Allah.



Sahabat yang terkasih,



Maka seluruh karya penyelamatan Yesus bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba tetapi telah terlihat jejaknya melalui nubuat para nabi. Puncak penderitaan di kayu salib seolah menjadi tanda bahwa misi penyelamatan Yesus tidak dilaksanakan begitu saja tetapi dengan kesadaran penuh memasuki lorong penderitaan dengan kepala tegak dan keluar dari lorong itu dengan ucapan` sudah selesai`



Bertolak dari pemahaman yang demikian maka sungguh merupakan sukacita besar ketika misi penyelamatan itu berlangsung dalam kekuata "sudah selesai`. Sukacita besar juga dialami oleh setiap suami-istri yang berkata "sudah selesai`. Artinya kehidupan mereka senantiasa diposisikan dalam rencana dan karya Allah. Mereka tidak hadir begitu saja sebagai suami-istri tetapi mengusung rencana Allah yang luar biasa yakni memberitakan karya Allah. Relasi suami-istri memang bisa dihadang oleh sejumlah tantangan dan persoalan namun dalam ketekunan untuk terus terkait dengan Yesus akan tiba pada ucapan` sudah selesai` yakni persoalan dan tantangan dihadapi dalam ketaatan kepada Allah dengan ide dan visi yang besar (ingat Yoh. 3:16).



Maka setiap kali kita diperhadapkan dengan realitas kehidupan ini kita tidak pernah berhenti dan menyerah tetapi terus berada dalam relasi yang kuat dan kokoh dengan Tuhan. Kita bisa saja sakit, tetapi penyakit itu tidak membuat kita hilang akal sebab kita akan tiba pada kesembuhan dan berkata "sudah selesai`, atau mungkin kita tiba pada kematian dan tetap "sudah selesai` semua ini hendak menjelaskan bahwa diujung lorong gelap yang kita lalui, kita tidak lari dari kenyataan, kita tidak mengabaikan relasi dengan-Nya, kita tidak pernah berpikir untuk tetap hidup dalam dosa, maka kitapun dapat berkata " sudah selesai`, lalu suami-istri bergandengan tangan dalam senyum sebagai pasangan pemenang.haleluya


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Catatan Refleksi:

Selasa 7 April 2026
RUANG RINDU (Letto)

Jumat, 16 Agustus 2024
MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKA

Selasa, 21 Februari 2023
SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHA

Sabtu, 24 Desember 2022
DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTA

Sabtu, 04 Juni 2022
GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKES

Jumat, 31 Desember 2021
PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUN

Rabu, 07 Juli 2021
KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA

Rabu, 22 April 2020
NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPAN

Rabu, 13 Nopember 2019
HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIAN

Selasa, 29 Oktober 2019
TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)

Arsip Catatan Refleksi..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2)