Dibaca : 22255 x
Catatan RefleksiSelasa, 23 April 2013 Yoh.19:28 PERKATAAN YESUS DI SALIB KE-5
Kebutuhan manusia yang mendasar adalah air sehingga kebutuhan akan air merupakan kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Sedemikian pentingnya air sehingga dalam percakapan dengan perempuan dari Samaria, air menjadi gambaran pengajaran Yesus tentang kasih karunia (Yoh.4:13-14). Pertentangan atau permusuhan dapat terjadi tetapi ketika lawan itu haus haruslah ia diberi minum demikian nasihat bijak dan nasihat Paulus (Amsal.25:21, Roma 12:20). Bahkan dalam relasi yang buruk air tetap menjadi "basic needs` yang harus diberikan. Pengertian yang muncul dalam konteks ini adalah sebagai kebutuhan dasar maka setiap orang yang menjadi murid Yesus perlu menjadi saluran berkat bagi sesame ketika sesama mengalami ke-haus-an dan sekalipun sesama itu adalah musuh.
Pernyataan Yesus bahwa Ia haus adalah pernyataan manusia tentang kebutuhan yang paling mendasar tadi. Ia yang dalam pelayanan mampu mengubah air menjadi anggur (Yoh.2:1-11) kini mengalami apa yang menajadi kebutuhan manusia. Ia yang mengajar tentang kebahagiaan mereka yang haus akan kebenaran (Mat.5:6) kini menggumuli kebenaran dalam rasa haus yang luar biasa. Ketika Ia menyatakan bahwa Ia haus, Ia tidak sedang mengajar tetapi sungguh-sungguh Ia merasa haus. Jeritan haus adalah jeritan yang nyata dank arena itu memberi pernyataan yang kuat dalam refleksi iman bahwa inilah jeritan manusia.
Vidi Aquam (aku melihat air), merupakan sebuah kerinduan untuk mengatasi rasa haus akan kebenaran, pendampingan dan empati. Yesus yang haus adalah representasi natural manusia yang senantiasa bergumul dengan rasa haus. Manusia yang tidak lagi mengalami rasa haus dalam perspektif ini adalah manusia yang spiritualitasnya mati sehingga tidak lagi bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.
Maka dalam suasana haus, manusia mengalami kegagalan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri yakni keselamatan. Manusia yang mengalami rasa haus akan kebenaran senantiasa bertindak dalam kerendahan hati mengakui Dia sebagai satu-satunya sumber mengatasi rasa haus.
Bukankah dalam setiap relasi suami-istri pengalaman akan rasa haus menjadi pengalaman iman yang luar biasa. Suami-istri yang dalam relasi dengan Yesus selalu dipenuhi dengan kebenaran adalah suami-istri yang senantiasa hadir dan menyatakan kebenaran. Bukankah saat ini ada banyak kehausan dalam rumah tangga, ketika suami tidak hadir sebagai kepala keluarga yang baik dan dengan spritualitas yang bertumbuh. Bukankah saat ini ada banyak kehausan dari suami yang memerlukan topangan istri dalam berkarya. Bukankah ada kehausan anak-anak yang membutuhkan teladan ayah-ibu.
Maka pernyataan Yesus sekaligus menyuguhkan fragmen kehidupan manusia yang pada dasarnya mengalami dahaga akan keselamatan. Inilah pengakuan kita bahwa selaku warga jemaat kita mengalami dahaga keselamatan yang hanya terpenuhi didalam Yesus Kristus. Kita bisa belajar dari peristiwa golgota bahwa keselamatan kita adalah prioritas utama Tuhan Yesus maka hendaknya dalam kebeningan hati dan keteduhan diri kita berkata dalam diam maupun dalam karya kepada Tuhan, "ya Tuhan Yesus, aku haus` dan Ia akan memenuhi dahaga kita.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |