Dibaca : 22111 x
Catatan RefleksiJumat, 19 April 2013 Matius 27:45-46 PERKATAAN YESUS DI SALIB KE-4
 Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Ucapan Yesus di salib adalah bagian awal dari Mamur 22 dan Yesus tidak mengucapkan seluruh Mazmur 22 tetapi hanya pada bagian awal. Mazmur 22 merupakan mazmur ratapan pribadi yang sedang mengalami kesesakan. Raja Daud percaya bahwa Tuhan (YHWH) sebagai Allah pengasih, Allah yang mendengar dan memperhatikan serta terlibat dalam kehidupan umat-Nya. Bernhard Anderson dan Steven Bishop mengatakan:
"Pergerakan ratapan ini dari duka ke suka, dari penghinaan ke pengangkatan, dan terus maju kepada nyanyian ucapan syukur di pasal berikutnya ". Hal ini memperlihatkan adanya sebuah ketergantungan yang kuat kepada Allah sekalipun dalam keadaan menderita yang luar biasa. Melalui seruan penderitaan Yesus hendak diperlihatkan betapa luar biasa akibat dosa. Dosa adalah sikap menentang Allah dengan menganggap dosa sebagai hal biasa. Inilah sikap kebanyakan manusia yang merasa tidak bermasalah dengan dosa padahal Allah adalah Allah yang suci yang tidak dapat kompromi dengan dosa. Seruan Yesus sekaligus menunjukkan bahwa dalam kesadaran mengakui dosa seseorang akan mengalami kekuatan pertolongan dari Tuhan. Maka diperlukan kerendahan hati untuk menyatakan pengakuan sebagai manusia yang perlu mengalami pembaruan Allah, yang dalam bahasa Yesus disebut sebagai "lahir baru` (ingat percakapan dengan Nikodemus). Mazmur 22 mencerminkan refleksi umat atas penyataan Allah di tengah-tengah kehidupan secara pribadi. Mazmur ratapan berfungsi mengatasi konflik iman secara terkontrol agar tidak terjadi penyimpangan. Iamn yang seperti inilah menjadi dasar yang kuat bagi seseorang mengalami pertumbuhan.
John Davies (2010: 47), seorang teolog Inggris menyatakan bahwa "musuh iman bukanlah keraguan tetapi pemberangusan keraguan`. Alat untuk memberangus keraguan adalah kalkulasi rasional yang dilihat sebagai satu-satunya jalan mengatasi masalah. Disnilah persoalan mendasar dihadapi oleh manusia yang berdosa karena memberangus keraguan dan menganggap pendekatan rasional sebagai satu-satunya jalan keluar. Persitiwa salib memberi contoh yang paling kuat tentang sikap terhadap penderitaan dan jawaban atas penderitaan. Dalam konteks Mazmur 22 maka penderitaan itu berujung kepada sorak-sorai mempermuliakan Tuhan yang berkenan menyertai dan mendampingi setiap manusia yang berani mengakui dosa dan kelemahannya dihadapan Allah. Eli, eli lama sabakhtani adalah bentuk pengakuan dan bukan suara putus asa.
Suami-istri dalam perjalan hidup bersma juga diwarnai dengan tarikan pengaruh dosa yang memerlukan kekuatan iman untuk mengatasinya. Ketika dosa merasuk dengan kuasanya yang merusak dan membinasakan maka suami-istri perlu memiliki keyakinan bahwa diperlukan pengakuan diantara mereka tentang betapa lemahnya mereka. Janji perkawinan adalah janji untuk terus mempertahankan iman kepada Allah yang berdaulat dan berkarya dalam hidup suami-istri. Bertolak dari sanalah maka Paulus menyatakan dengan lugas bahwa :
"3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Rom 5:3-5)
Maka setiap suami-istri di tengah pergumulan yang paling pahit sekalipun perlu setia pada pengharapan didalam Yesus, sehingga iman yang berkelas adalah iman yang terbentuk dari berbagai peristiwa. Juan Alfaro teolog spanyol dengan indah mengemukakan bahwa iman dalam pikiran dan pikiran dalam iman merupakan gagasan penting bagi setiap orang percaya. Hal itu berarti suami-istri yang beriman adalah suami-istri yang berharap dan tetap hadir dengan pengakuan bahwa iman mereka tidak dapat diberangus oleh apapun juga bahkan oleh penderitaan.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |