aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 22081 x

Catatan Refleksi
Senin, 15 April 2013
Yoh. 19:26-27
PERKATAAN YESUS DI SALIB KE-3

PERKATAAN YESUS KE -3 " PEREMPUAN INILAH ANAKMU " (Yoh. 19:26-27)



Kehadiran Yesus adalah untuk menggenapi rencana keselamatan Allah bagi manusia. Yesus memasuki lorong gelap penderitaan sebagai kurban yang memungkinkan manusia mengalami damai sejahtera. Sebuah keadaan yang telah didengar Maria 30 tahun sebelumnya ketika Simeon di Bait Allah menyambut dan menatang Yesus (Luk. 2:34-35). Apa yang didengar oleh Maria kini terlihat jelas dalam realita yang meremukkan hati. Anak-nya sedang tergantung di salib dengan penderitaan yang luar biasa dalam keadaan yang sekarat. Darah dan keringat Yesus terus mengucur dan menjadi bagian yang tidak terelakkan. Keberadaan Maria sebagai seorang ibu tentu teriris hatinya tatkal memandang Yesus. Ia yang selama ini berada dalam belaian kasih dan senantiasa dikagumi oleh Maria kini sedang bergumul dengan maut.


Yesus yang mengalami penderitaan tetap memperlihatkan perhatian yang besar kepada Maria namun kini dengan beberapa hal penting yakni :



1. Yesus tidak menyapa Maria dengan sebutan ibu tetapi perempuan, hal ini bukan karena Ia merendahkan posisi Maria tetapi karena keberadaan-Nya kini sangat berbeda. Ia adalah anak Maria tetapi Ia adalah Anak Allah dan posisi ini memberi perspektif yang berbeda sebagaimana Nampak dalam ucapan-Nya. Ia mempercayakan Maria kepada Yohanes, murid yang dikasihi-Nya dan bukan kepada saudara-saudara-Nya sendiri. Hal ini memperlihatkan bahwa Yesus melihat relasi yang dekat melampaui relasi darah, sehingga seluruh keberadaan sang Ibu tetap terjaga dan terjamin.



2. Kepeduliaan Yesus kepada Maria memperlihatkan bahwa sekalipun Maria berada dalam derita yang luar biasa namun perhatian Yesus tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Perhatian ini bertolak dari kekuatan kasih yang ada pada Yesus sehingga penderitaan Maria maupun penderitaan Yesus tidak pernah mampu menggagalkan perhatian Allah.



Bertolak dari pandangan inilah maka dapat dikemukakan bahwa perhatian Yesus bagi manusia adalah perhatian untuk memberi perspektif yang baru tentang makna hidup. Setiap suami-istri merupakan pribadi dengan perhatian yang besar dari Tuhan. Perhatian inilah yang memberi ruang suami-istri untuk hidup dalam makna yang baru sebagai suami-istri yang berkualitas. Artinya setiap persoalan dan pergumulan dalam perhatian Tuhan justru meningkatkan kualitas iman suami-istri.



Pasangan yang selalu mengandalkan perhatian Tuhan adalah suami-istri yang tetap tegar dalam pergumulan dan persoalan. Melalui semua gagasan ini hendak dikemukakan bahwa perhatian Tuhan adalah modal utama dalam menghadapi tantangan dan pergumulan. Disisi lain setiap derita tidak dapat menjadi penghalang bagi perhatian Tuhan. Maka ketika kita diperhadapkan dengan penderitaan jangan berharap kepada siapapun apalagi kuasa gelap tetapi senantiasa mengarahkan pandangan dan ketergantungan kita kepada Yesus Kristus.



Sekaligus inilah pesan tentang dedikasi dan teladan dari setiap ibu kepada anak yang patut mendapat tempat istimewa. perhatian demikian merupakan tanggapan yang pararel dengan kesetiaan Tuhan.



Maju terus bersama Yesus maka dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia.


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Catatan Refleksi:

Selasa 7 April 2026
RUANG RINDU (Letto)

Jumat, 16 Agustus 2024
MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKA

Selasa, 21 Februari 2023
SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHA

Sabtu, 24 Desember 2022
DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTA

Sabtu, 04 Juni 2022
GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKES

Jumat, 31 Desember 2021
PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUN

Rabu, 07 Juli 2021
KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA

Rabu, 22 April 2020
NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPAN

Rabu, 13 Nopember 2019
HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIAN

Selasa, 29 Oktober 2019
TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)

Arsip Catatan Refleksi..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2)