Dibaca : 24664 x
KhotbahSenin, 08 April 2013 Lukas 10:1-12 UTUSAN TUHAN

Jemaat yang Tuhan Yesus kasihi,
Menjadi seorang utusan bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah sebab seorang utusan tidak bertindak atas kewenangannya tetapi kewenangan yang mengutus. Seorang utusan bagaimanapun memiliki nilai lebih sebab ia dipercaya melakukan tugas yang diamanatkan kepadanya.
Menjadi seorang utusan memang memerlukan sikap mental yang kokoh dan kuat sebab yang akan dihadapi adalah kenyataan yang tidak selalu menyenangkan. Penolakan dari mereka yang membenci berita yang diusung adalah hal yang biaa ditemui oleh setipa utusan. Maka pengutusan Tuhan kepada 70 murid adalah pengutusan missioner yang hendak memasuki lading pelayanan yang demikian besar. Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit ( ayat 2 ) memperlihatkan bahwa yang menjadi masalah bukan hasil tetapi para utusan. Pekerja sedikit bisa memperlihatkan JUMLAH yang memang sedikit dan KUALITAS para utusan yang memang sedikit. Kualitas seperti Christian Schwartz yang melayani di India sebelum Willian Carey, atau seperti Hudson Taylor yang melayani sampai ke China, adalah utusan-utusan Tuhan yang mendengar suara Tuhan dengan hati. Melalui semua pelayanan inilah Injil kemudia tersebar dalam semnagat yang terus membuncah dan hati yang berkobar-kobar.
Perikop kita yang menunjukan pengutusan Yesus kepada 70 murid memiliki beberapa beberapa hal penting yang harus diperhatikan bersama:
1. Pengutusan itu terkait dengan tuaian. ( ayat 1 - 5 )
Setiap utusan memang berkepentingan dengan banyaknya tuaian. Maka kehadiran setiap utusan dalam konteks ini adalah memperkaya tuaian. Yesus memperlihatkan sikap jelas bahwa setiap pengutusan bukan memperkaya diri sendiri tetapi hadir dengan misi memperkaya sesame. Untuk itulah kesaksian dari utusan diperkuat oleh sahabat sepelayanan sehingga tugas memperkaya sesame dengan kabar baik dapt diwujudkan. Dalam konteks masa kini maka setiap utusan itu adalah kita semua. Gereja ini diutus agar kehadirannya memperkaya sesama sehingga pengutusan itu berkaiatan dengan menjadi mitra, menjadi setara dan memiliki kesetiakawanan.
Kita semua adalah utuasan yang menyatakan panggilan dan pengutusan kita secara utuh dalam memperkaya sesame dan dimulai dari rumah. Apakah kita memeprkaya pasangan kita sehingga semakin hari semakin militant. Kita memperkaya anak-anak kita dengan contoh teladan yang baik. Hal ini tidak mudah sebab dalam pengutusan itu kita berjumpa dengan srigala yang akan menghambat berita baik. ( baca ayat 3 ). Maka serigala-serigal berbulu domba yang banyak berkeliaran di lingkungan gereja adalah mereka yang menolak kebenaran dan selalu rindu dengan bangkai busuk seperti makanan serigala.
2. Pengutusan itu berkaiatan dengan rumah ( ayat 5-8)
Rumah adalah tempat perskutuan yang didalamnya kuasa Kerajaan Alah dinyatakan maka memasuki sebuah rumah hendaknya dinyatakan damai sejahtera bagi rumah ini (ayat 5). Ini berarti pengutusan yang berkaitan dengan rumah adalah pengutusan yang berorientasi pada keluarga ( baca Efesus 2 : 19 ). Keluarga yang mengalami pemerintahan Allah adalah keluarga yang menerima kabar baik sehingga kabar baik tidak bergulir secara individual tetapi dalam kolektifitas dan kebersamaan. Keluarga yang tidak beres adalah keluarga yang bapaknya mau senang sendiri sementara istri dan anak menderita. Suami yang otoriter dan memasung damai sejahtera sebagai milik sendiri dan bukan pasangan. Maka pengutusan 70 murid memiliki nilai yang relevan dengan masa kini ketika damai sejahtera itu menjadi milik keluarga.
Ada anak yang menuntut ibunya untuk dihukum karena memcuri 4 batang kayu, adalah kenyataan yang luar biasa. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa damai sejahtera dalam lingkungan keluarga kini berhadapan dengan tantangan yang tidak sedikit. Dosa hadir dengan segala upaya agar keluarga kehialangan damai sejahtera. Pada titik inilah kita hadir sebagai utusan-utusan yang menyapa setiap keluarga dengan damai sejahetra Allah.
3. Pengutusan itu disertai kuasa ( ayat 9- 12 ).
Melalui apa yang dikemukakan oleh Yesus hendak diperlihatkan bahwa setiap utusan Tuhan memiliki kuasa / otoritas yang pasti diterimanya. Kuasa ini bukan kuasa untuk meruntuhkan sebaliknya kuasa untuk memberhentikan kuasa jahat, kuasa para serigala. Kita harus menghayati bahwa kuasa yang diberikan Allah merupakan kuasa yang memebrdayakan dan memperkaya. Bukan kuasa yang dibangun atas iri hati dan cemburu melihat leberhasilan orang lain.
Sodom akan Nampak ringan hukumannya dibandingkan dengan mereka yang menolak kuasa Kerajaan Allah ( ayat 12 ). Sebagai utusan Tuhan kita semua patut menghayati bahwa kita punya kuasa. Kuasa untuk membangun yang baik dan meruntuhkan kuasa para serigala. Serigala itu hadir dalam berbagai bentuk tetapi yang pasti serigala dengan kausanya pasti dipatahkan.
Maka sebagai utusan-utusan Tuhan marilah kita semua selalu menjaga nilai pengutusan tersebut dengan baik agar kita tidak menjadi serigala yang merusak. Kita adalah utusan Tuhan yang memeprkaya sesame kita dengan hal baik untuk bisa menyaksikan kebaikan kasih Allah.
Maju terus bersama Yesus maka pengutusan yang kita emban tidak akan sia-sia amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|