aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 22772 x

Catatan Refleksi
Kamis, 04 April 2013
LUKAS 24: 13 � 16
APAKAH KITA CUKUP PEKA MERASAKAN KEHADIRAN-NYA?

APAKAH KITA CUKUP PEKA MERASAKAN KEHADIRAN-NYA?
Sahabat-sahabat terkasih dalam Yesus Kristus,



Perjalanan ke Emaus yang berjarak 7 mil at 11,2 km merupakan perjalanan yang sarat dengan makna. Hanya 11,2 km tetapi Kleopas dan salah seorang murid mengalami hati yang berkobar (ayat 32), ketika Yesus menjelaskan dan mengeaskan bahwa betapa lambannya mereka memahami semua persitiwa yang terjadi. Bahwa Yesus menjelaskan dengan gamblang dan tidak dimengerti oleh ke-2 muruid menjelaskan bahwa mereka dikuasai oleh sesuatu yang membuat mereka lamban merasakan kehadiran Tuhan Yesus. Seluruh kenyataan ini memperlihatkan bahwa peristiwa paskah merupakan peristiwa mendasar dalam hidup para murid. Kenapa demikian ? sebab setelah "sesuatu` yang menghalang tiada mereka tahu bahwa Yesus yang berbiacara dengan mereka sehingga 11, 2 km sekarang ditempuh dengan hati yang berkobar dan terus kembali ke Yerusalem.



Mengalami kehadiran Yesus memerlukan kepekaan sebab tanpa kepekaan itu "sesuatu` menjadi penghalang bagi mereka. Dalam peristiwa perjalanan ke Emaus, "sesuatu` yang menjadi penghalang. NKJV menyatakan ayat 16 , sesuatu sebagai restrained, hal ini berarti mereka terkendali sesuatu sehingga tidak dapat mengenal Yesus. Para murid dikendalikan oleh pikiran mereka sendiri. Ketika pikiran mereka mengendalikan mereka maka mereka tidak mengenal Yesus. Cara inilah yang menjadi pembatas pengenalan tersebut sehingga ruang untuk bersua tergantikan oleh ruang untuk berpikir. Disamping itu yang mengendalikan mereka adalah kesedihan ( ayat 17 ; sad and gloomy countenance, sedih dan berwajah muram sebagai ekspresi kesedihan). Pembatas antar murid-murid dengan Yesus adalah mereka dikendalikan oleh pikiran mereka sendiri dan mereka dikendalikan oleh kesedihan mereka. Kendali yang kuat atas diri mereka sendiri bersumber dari tidak mampunya para murid mengendalikan pikiran dan kesedihan mereka. Hal ini jelas dari pernyataan Yesus kepada mereka di ayat 25 dan 26 "betapa lamban, tidak percaya dan bukankah Mesias harus menderita ?`. semua pernyataan ini hendak mengingatkan mereka kembali pada seluruh kebersamaan yang telah dijalani bersama Yesus sebelum Golgota. Melalui pernyataan ini Yesus hendak memberi garis tegas bahwa pikiran mereka harus dikendalikan oleh pengenalan mereka terhadap Yesus. kesdihan mereka harus dikendalikan dalam pengemalan akan Yesus. melalui pengendalian inilah maka mereka akan terhindar dari ketidakmampuan mengenal Yesus.



Saudar-saudara seiman dalam Yesus Kristus,



Dewasa ini kita hidup dalam ketegangan pendalian diri yang luar biasa. Hal ini terjadi justru ketika kita mau hidup didalam kehendak-Nya. Usaha dunia mengendalikan kita secara luar biasa membuat kita menjadi gamang terhadap pengendalian Yesus. Ketika pengenalan akan Yesus hanya bersifat normative dan tidak menukik dalam kesadaran yang utuh tentang kehadiran-Nya maka kita dipastikan akan terkendali oleh cara berpikir yang jahat dan kesedihan tanpa pengharapan.



Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kepekaan merasakan kehadiran Tuhan adalah hal penting sehingga kita dapat mengendalikan pikiran yang akan menghambat pengenalan kita akan kehadiran-Nya. Firman Tuhan saat ini juga memberi pengertian bahwa ketika kita mengenal-Nya maka antusiasme untuk memberitakan kabar sukacita menjadi menggelora sehingga jarak 11, 2 Km dari Emaus ke Jerusalem tidak lagi ditempuh dengan kelesuan jiwa tetapi dengan semangat Kebangkitan.

Hari ini kita diundang memasuki ruang pemikiran yang tetap berada dalam penguasaan Tuhan supaya pengendalian diri atas seluruh peristiwa mampu membuat kita tetap tajam menghayati kehadiran-Nya.



11,2 Km adalah perjalan teologis bagi kita bahwa pengendalian atas hidup kita sangat ditentukan oleh sejauh mana kita mengendalikan pikiran dan kesedihan. Amin.


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Catatan Refleksi:

Selasa 7 April 2026
RUANG RINDU (Letto)

Jumat, 16 Agustus 2024
MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKA

Selasa, 21 Februari 2023
SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHA

Sabtu, 24 Desember 2022
DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTA

Sabtu, 04 Juni 2022
GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKES

Jumat, 31 Desember 2021
PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUN

Rabu, 07 Juli 2021
KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA

Rabu, 22 April 2020
NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPAN

Rabu, 13 Nopember 2019
HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIAN

Selasa, 29 Oktober 2019
TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)

Arsip Catatan Refleksi..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2)