aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 22181 x

Catatan Refleksi
Selasa, 02 April 2013
Lukas 23:43
PERKATAAN YESUS DI SALIB KE-2

PERKATAAN YESUS DI SALIB KE-2
2. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:43).



Keselamatan merupakan puncak dari karya Allah bagi manusia sebagai kemenangan atas hukuman. Hanya oleh karya Allah yang demikian maka keselamatan terwujud melampaui keterbatasan manusia. Keselamatan bukanlah sebuah usaha manusia tetapi mendapat bentuknya dalam relasi yang dibangun melalui komunikasi yang unik dengan Allah. Mengapa unik ? sebab melalui keterbatasan waktu dan tenaga sebuah komunikasi yang jujur telah merubah keberadaan seseorang dalam perjumpaan dengan Yesus sekalipun dengan beban kejahatan. Pada titik ini dapat dikemukakan bahwa dosa sebesar apapun diampuni Tuhan ketika kejujuran hati dapat dipertanggung jawabkan. Artinya seluruh kalkulasi logika tidak lagi berperan dalam konteks salib sebab yang dibutuhkan oleh Tuhan hanyalah JUJUR. Jujur berarti mohon pengampunan diwujudkan dengan sungguh-sungguh tanpa basa-basi, jujur berarti bahwa perilaku merusak (merusak apa saja termasuk merusak benda yang bukan dimiliki) harus diikuti dengan pengakuan dan permohonan maaf.



Dalam konteks inilah diperlukan keberanian seperti diungkapkan penjahat " Yesus ingatlah akan aku ... (Luk. 23:42 ). Dengan keberanian untuk jujur seperti inilah maka terjadi perubahan besar yang membawa pesan kuat bahwa kehadiran bersama Yesus di firdaus juga menjadi pengalaman masa kini sekalipun berada dalam pergumulan yang hebat. Firdaus bukanlah gagasan ideal tanpa jejak di bumi, tetapi seperti doa yang diajarkan Yesus, "datanglah Kerajaan-Mu , jadilah kehendakMu, dibumi seperti di surga "(Luk. 11:2 band Mat. 6:10), maka realitas firdaus dapat diwujudkan oleh Allah melalui karya penyelamatan di golgota. Golgota dan firdaus kini berada dalam genggaman Allah sehingga berada di golgota memang sejauh mungkin dihindari namun jika tetap harus dialami, perlu diingat bahwa di golgotapun, firdaus dapat dirasakan bersama Yesus.



Dalam konteks suami-istri, dosa memang tampil dengan wajah arogan dan berbuat dosa seolah hal biasa karena dilakukan banyak orang. Suami-istri yang dikuasai dosa moralitas bagaimanapun juga tidak akan mengalami firdaus karena moralitas golgota adalah moralitas yang membunuh dan memalukan. Suami-istri yang rindu mengalami firdaus perlu memahami keberadaan mereka dalam relasi dengan Yesus karena dalam kesadaran demikian terwujudlah kekuatan firdaus.



Suami-istri yang mengalami pergumulan hendaknya tidak menyerah namun tetap memiliki harap dalam untaian kata " ..ingatlah akan daku`. Waktu dan kesempatan memang terbatas namun kekuatan firdaus memberi kemampuan untuk menghayati kuasa kemenangan.



Untuk itulah perlu dikembangkan relasi yang kudus antara suami-istri dan suami-istri dengan Tuhan. Relasi yang memberi ruang untuk menghayati bahwa firdaus tetap dapat dialami sekalipun pergumulan masih bergolak. Kebersamaa dengan Yesus juga terjadi dalam realitas dan bukan sekedar ilusi.

Suami-istri Kristiani tetaplah berharap pada Yesus maka sekalipun golgota dialami tetapi sabda Yesus tetap berarti karena Ia sendiri menyatakannya " hari ini engkau bersama-Ku di firdaus.



Maju terus bersama Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya, golgota pasti menyerah kepada firdaus.


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Catatan Refleksi:

Selasa 7 April 2026
RUANG RINDU (Letto)

Jumat, 16 Agustus 2024
MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKA

Selasa, 21 Februari 2023
SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHA

Sabtu, 24 Desember 2022
DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTA

Sabtu, 04 Juni 2022
GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKES

Jumat, 31 Desember 2021
PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUN

Rabu, 07 Juli 2021
KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA

Rabu, 22 April 2020
NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPAN

Rabu, 13 Nopember 2019
HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIAN

Selasa, 29 Oktober 2019
TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)

Arsip Catatan Refleksi..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2)