Dibaca : 22626 x
Catatan RefleksiSelasa, 02 April 2013 Yoh. 3 : 16 7 PERKATAAN YESUS DI SALIB MAKNANYA BAGI RELASI SUAMI-ISTRI (sebuah refleksi).
Salib sebagai bentuk penghukuman yang berlaku saat itu memiliki pesan yang kuat kepada orang banyak. Pesan itu adalah pesan tentang takut dan malu karena melalui peristiwa salib setiap orang didesak untuk berpikir ulang jika berlawanan dengan penguasa dan mewariskan rasa malu bagi keluarga. Mereka yang di salib dianggap hina sehingga Cicero mengemukakan pendapatnya bahwa kata salib itu sendiri harus dihilangkan dari pikiran setiap orang Romawi. Hal ini menjelaskan kenapa salib telah menjadi alat untuk menebar terror kepada banyak orang.
Dalam konteks Yesus, salib menjadi alat penakluk untuk kepentingan Yahudi. Dengan meminjam kekuasaan Romawi maka salib telah menjadi alat kekuasaan kaum religious waktu itu. Ketika kuasa yang ditimbulkan dapat menjaga kemapaman status dan posisi dalam ruang public maka salib telah memenuhi nafsu manusia yang paling destruktif. Salib tidak hanya menjadi alat menjaga kekuasaan politik tetapi sekaligus kekuasaan lembaga agama waktu itu. Melalui salib telah dihadirkan rasa takut untuk memahami ulang ruang religiositas yang selama ini dibangun dengan semangat yang hipokrit.
Semua keadaan salib berhasil dijungkirbalikkan oleh Yesus yang dalam penderitaan-Nya mampu memperlihatkan konsistensi-Nya. Konsistensi gagasan besar Allah kepada manusia yang selama masa pelayanan diberlakukan dalam perjumpaan dengan setiap pribadi. Rasa takut dan malu akibat dosa telah diganti dengan kekuatan untuk menatap setiap masalah dengan kepala tegak oleh karena kasih karunia-Nya. Perjumpaan dengan Allah yang bersifat hipokrit kini terdesak oleh kesadaran yang tulus tentang keterbatasan diri. Pada titik inilah peristiwa salib mengalami perubahan makna pesan sebab kini pesannya adalah " jangan takut " dan "jangan malu`.
Pesan ini bergema di semua lini kehidupan kita sebagai orang percaya. Pesan Yesus itu terbaca juga dari setiap kata yang diucapkan-Nya ketika berada di salib. Itulah kata-kata yang mengubah penampilan dan makna salib menjadi symbol dari pesan Allah kepada dunia " Aku mengasihimu " ( bdk. Yoh.3:16 ).
Maka suami - istri yang membawa salib dalam kehidupan rumah tangga bukanlah tanpa arti. Suami-istri yang memikul salib kini mendapat makna baru sebagai pasangan yang menerima pesan kuat dari Tuhan bahwa Ia sudah mengubah makna salib. Makna perubahan itu nampak dari kata-kata-Nya di salib.
1) "Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34).
Mengampuni adalah kata yang langka sebab dalam mengampuni ada luka yang harus ditutup, ada dendam yang harus dikubur, ada marah yang harus disingkir. Akumulasi dari ketiganya dapat menghasilkan energy demonic yang berujung pada kejahatan. Luka, dendam dan amarah ketika beraliansi memang menghadirkan rasa takut dan malu. Yesus menterjemahkan ulang gaya hidup dalam dosa dengan kalimat baru sebagai anugerah yakni mengampuni.
Dosa memang menghadirkan kegelapan sehingga seseorang tidak tahu apa yang diperbuatnya. Kehadiran Yesus sebagai Terang tentu dalam kerangka menyatakan diri-Nya yang adalah Terang di tengah kegelapan. Salib yang mempertontonkan kuasa dosa kini mendapat arti baru bahwa pengampunan dosa sudah diberlakukan. Semua tindakan yang merusak dan menghadirkan ketidakpastian kini diubah. Yesus menyatakan pengampunan Allah dalam kebeningan hati yang bertolak dari Kasih-Nya. Ia mendemonstrasikan kasih di suasana yang mencekam tetapi tidak ditaklukan oleh suasana yang mencekam itu.
Dalam konteks suami-istri, mengampuni merupakan kesediaan untuk memberi ruang yang luas bagi salib. Sebab dengan mengampuni maka diperlihatkan adanya perubahan dalam kehidupan. Suami-istri yang saling mengampuni adalah suami-istri yang mewujudkan penyampaian pesan yang kuat tentang kualitas relasi vertical dan horizontal. Hanya dalam hubungan yang dekat dengan Allah maka mengampuni menjadi mungkin. Suami-istri yang saling mengampuni hanya terwujud ketika keduanya memiliki kedekatan hubungan dengan Tuhan. Melalui sikap itulah kualitas hubungan suami-istri tetap terjaga dan mengalami pertumbuhan.
Relasi yang bertumbuh dengan kuasa pengampunan adalah relasi yang memberi ruang bagi hadirnya pesan yang kuat dari salib yakni "jangan takut` dan "jangan malu`.
Ketika setiap upaya dan kerja, gagasan dan karya bermuara pada hal yang baik maka salib bukan lagi beban tetapi pesan bahwa Tuhan selalu menyertai. Suami-istri dalam konteks demikian meupakan pasangan yang mewujudkan pesan bagi pasangan. Kalkulasi yang dipergunakan dalam hal ini bukan lagi kalkulasi untung-rugi tetapi bagaimana menjadi berkat.
Dengan demikian maka tradisi balas membalas dipatahkan, sebaliknya tradisi yang inklusif diterapkan. Inilah makna berkat bagi setiap orang berdosa sebagaimana diperlihatkan Yesus (Mat. 22 : 37-40). (bersambung)

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Catatan Refleksi:Selasa 7 April 2026 RUANG RINDU (Letto)Jumat, 16 Agustus 2024 MERDEKA HARUSNYA BERUJUNG MEREKASelasa, 21 Februari 2023 SUAMI-ISTRI ANTARA BUKIT ZAITUN HINGGA MARANATHASabtu, 24 Desember 2022 DAMAI YANG DIRAYAKAN SEMESTASabtu, 04 Juni 2022 GARAM DAN TERANG DALAM PERSPEKTIF BULAN PELKESJumat, 31 Desember 2021 PIKIRAN ARIF DIAKHIR TAHUNRabu, 07 Juli 2021 KELUARGA, HARGANAS DAN PIALA EROPA Rabu, 22 April 2020 NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPANRabu, 13 Nopember 2019 HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIANSelasa, 29 Oktober 2019 TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)Arsip Catatan Refleksi..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |