Sahabat-sahabat yang terkasih didalam Yesus Kristus.
Allah yang kita percaya adalah Allah yang berkarya dengan cara dan kehendak-Nya. Ia merangkul dan menjangkau setiap orang dalam balutan kasih-Nya yang tidak terduga. Allah menyatakan karya-Nya yang bebas dan tidak dibatasi oleh apapun dan siapapun. Ketika Ia menjumpai Kornelius maka yang sebenarnya terjadi adalah kebaikan hati Allah yang di demonstrasikan kepada Kornelius.
Ia tidak menjumpai Kornelius dengan memandang status atau jabatan tetapi memandang hati yang terbuka terhadap-Nya. Allah yang menjumpai Kornelius adalah berita Injil karena ternyata Allah tidak bias dibatasi hanya oleh ke-Yahudia-an. Dibalik semua prasangka yang rasial terhadap bangsa lain maka peristiwa Allah menjumpai Kornelius memberi beberapa makna yang berarti :
1. Ayat 1- 5 : memeprlihatkan bagaimana Allah menjumpai Kornelius di rumahnya sendiri. Allah tidak memasuki rumah yang asing tetapi sebuah rumah yang didalamnya terjadi relasi yang begitu dekat dengan Allah. Dengan 2795 ayat tentang rumah dalam Alkitab maka Nampak jelas bahwa Allah adalah Allah yang mengasihi seisi rumah. Seisi rumah memiliki makna yang utuh sebagai keluarga. Ketika keluarga hadir dalam hidup takut akan Allah maka rumah keluarga tersebut bukanlah rumah yang asing bagi Allah. Dalam percakapan yang nampak hangat sehangat tiupan angin laut tengah di Kaisarea memunculkan sebuah keyakinan bahwa hidup yang dijumpai oleh Allah bermakna hidup yang mengalami kebajikan Allah.
Saat ini sebagai warga gereja kita perlu menjaga dan merawat komunitas rumah kita sebab bukankah kita juga rindu dijumpai oleh Allah seperti halnya Kornelius ? jika Allah menjumpai Kornelius pada waktu itu di rumahnya maka Allah yang sama juga akan menjumpai kita di rumah kita. Allah bisa saja menjumpai kita dimana Ia mau, tetapi rumah adalah tempat yang istimewa sebab Allah suka berada di rumah saudara dan saya.
2. Ayat 7-8 : menunjukkan bahwa Kornelius tidak menganggap kebaikan Allah dengan sikap diam tetapi ia bergerak. Kornelius tidak lagi diam tetapi melakukan sesuatu yang bertolak dari perjumpaan dengan Allah yang baik. Sungguh indah perjumpaan antara Kornelius dan Allah sebab tibalah Kornelius pada kesimpulan bahwa ia tidaklah asing dimata Allah seperti ia dianggap asing dimata yudaisme. Rekasi Kornelius adalah sebuah rekasi sukacita yang menumbuhkan harapan bahwa ia memasuki sebuah komunitas baru yakni komunitas orang percaya yang tidak dibatasi oleh suku, pangkat atau jabatan.
Dari pemahaman yang demikianlah kita dapat menghayati betapa baiknya Tuhan dalam kehidupan kita sehingga Ia mau menjumpai saudara dan saya. Jalan sengsara yang ditempuh merupakan jalan penyelamatan bagi saudara dan saya. Dan kita semua menjadi orang yang mengalami kebaikan Tuhan secara utuh. Amin.