aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 24120 x

Khotbah
Senin, 14 Januari 2013
Kidung Agung 5:9-6:3
MEMUJI SEBAGAI TANDA KESEHATAN SPIRITUAL

MEMUJI SEBAGAI TANDA KESEHATAN SPIRITUAL
Pendahuluan.

Relasi atau hubungan antara Allah dengan umat sering digambarkan kedekatannya melalui peristiwa yang sehari-hari dijumpai. Misalnya Allah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa dan setiap orang percaya sebagai anak ( Luk. 15;21 ). Disamping itu gambaran hubungan yang dekat juga diperlihatkan dalam perumpamaan sebagai Gembala ( Yoh.10:11 ). Namun dari semua gagasan tentang hubungan Allah dan manusia yang paling mesra adalah gambaran sebagai mempelai ( Yes.62:5). Kedekatan sebagai mempelai memberi ruang yang sangat khusus dan intim serta memiliki makna eksklusif. Allah dan orang percaya digambarkan dalam hubungan yang khusus dan selalu terikat serta terkait. Kegirangan menyaksikan pasangan yang gembira sebab bukankah keduanya telah menjadi satu (band. Kej. 1:28 ) sehingga diantara keduanya telah terbentuk sebuah relasi yang satu dan menyatu dalam kasih.

Dalam konteks inilah Kidung Agung mengetengahkan hubungan yang mesra dan selalu berada dalam kesehatian yang diawali dengan kesadaran bahwa pasangannya tidak tergantikan ( Kid. 6:3 ). Melalui kesadaran bahwa pasangan yang ada tidak tergantikan menunjukkan betap eratnya hubungan yang terbangun diantara mereka. Bacaan kita saat ini bahkan mempersonifikasikan pasangannya sebagai pribadi yang dikenal secara utuh dan lengkap. Baik secara fisik ( ayat 15 ), maupun secara verbal ( ayat 16 ) menunjukkan bahwa hubungan tersebut merupakan hubungan yang terjalin secara sehat. Dalam konteks inilah kesehatan spiritual itu muncul ke permukaan sebagai bagian dari tanggapan iman.

Isi.

Dari penjelasan ini apakah yang dapt diperhatikan tidak lain adalah:

1. Kepribadian yang sehat adalah kepribadian yang berani memberikan pujian kepada pasangan. Pujian yang diberikan bukan karena penampilan secara fisik saja ( 5 :10-15) tetapi lebih dari itu pujian karena kehadiran yang membawa kesegaran dan harapan sehingga layak untuk dibanggakan ( ayat 16 ). Hubungan yang dekat inilah yang terus bergema dalam hubungan yang baik dan konstruktif diantara pasangan. Memuji tidak lagi hadir sebagai basa-basi roman picisan tetapi sebagai sebuah ungkapan bahwa pasangan yang ada di sisinya adalah pasangan yang unggul dan tidak tergantikan. Pujian inilah yang dikemukakan oleh mempelai perempuan kepada kekasihnya yakni mempelai pria. Melalui pujian inilah sang mempelai perempuan hendak mengaskan betapa beruntungnya ia memiliki pasangan yang dapat memenuhi dahaga pemeliharaan dan harapan yang terus hadir sebagai sebuah bentuk kasih sayang.

Maka sebagai warga gereja saat ini yang diposisikan sebagai mempelai perempuan, kita semua bersyukur bahwa hubungan kita dengan Allah demikian dekat. Kedekatan hubungan inilah yang akan memabwa pembaruan dalam kehidupan spritualitas kita selaku orang percaya. Sebuah pembaruan yang akan meningkatkan hubungan kita dengan-Nya. Dalam kehidupan setiap hari bukankah ini yang kita harapkan dalam rumah tangga kita semua. Kita mengharapkan bahwa hubungan kita dengan pasangan kita akan semakin mengalami peningkatan yang secara berkualitas memungkinkan kita melewati masa prahara tetapi sekaligus tetap waspada pada masa sukacita. Hubungan yang terwujud dalam pemeliharaan Allah memungkinkan kita memuji Dia dalam karya dan bukan basa basi. Pujian yang dilontarkan kepada pasangan dalam semangat basa-basi dan penuh muslihat akan nampak dari perilaku hidup yang basasi-basi dan penuh muslihat. Jika kepada pasangan saja kita bisa berlaku demikian maka bagaimanakah dengan Allah yang secara fisik tidak nampak ? maka yang perlu dibangun adalah pujian yang tulus kepada pasangan kita sebagai perilaku yang bertolak dari sikap memuji Allah secara tulus.

2. Sebuah keterpisahan memang menyakitkan dan tidak pernah dapat diabaikan begitu saja seolah-olah uap yang menghilang diudara. Keterpisahan adalah sebuah pengalaman batin yang semakin mendewasakan sehingga pada sebuah titik keterpisahan tidak lagi merupakan masalah tetapi masa dimana Allah sedang mendewasakan kita. Keterpisahan disini adalah keterpisahan yang bersifat temporer antara suami-istri. Bukankah karir dapat membuat suami-istri erpisah untuk sementara karena tugas yang harus diemban ? keterpisahan juga terjadi ketika suami berangkat ke medan perang untuk menunaikan tugas Negara ? keterpisahan yang temporer ini memang membawa kerinduan yang dalam namun sekaligus didalmnya terbentuk kedewasaan selaku pasangan yang semakin dewasa. Melalui pemahaman inilah ruang spiritualitas kita tetap terisi dan tidak mengalami kekosongan, sebab fisik memang terpisah namun dalam doa relasi suami-istri tetap terjaga.

Maka ketika mengalami hambatan, tantangan dan pergumulan kita seoalh merasa terpisah dari Allah. Kita mengeluh, marah bahkan `mengancam Tuhan. Inilah saat yang tepat untuk selalu mengalami persekutuan dengan Allah secara baik. Hubungan yang baik memang menjadi jembatan emas untuk menanggulangi keresahan akibat suasana terpisah. Lalu kita dapat belajar melihat bahwa keterpisahan dengan Allah menimbulkan pencarian yang berlangsung dengan sungguh-sungguh ( Kidung Agung 6:1-3 ). Terpisah dapat menimbulkan rasa sakit yang berujung pada pengakuan iman bahwa memang menjadi SATU BUKANLAH TENTANG KESATUAN PIKIRAN TETAPI KESATUAN FISIK. Inilah yang tidak terbantahkan dalam relasi antara suami-istri, maka memuji pasangan tetap merupakan hal penting sambil berjaga-jaga supaya di setiap prahara keterpisahan bukan pilihan sebab keterpisahan dapat menimbulkan kekosongan ruang batin yang berujung pada kegelisahan dan dahaga damai sejahtera.

Kesimpulan. Hendaknya kita semua berada dalam relasi yang saling memuji dengan pasangan sambil tetap berjaga agar setiap prahara tidak memisahkan kita dari Tuhan. Amin.


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518