Dibaca : 19818 x
KhotbahMinggu, 20 September 2020 Mazmur 127: 1-7 KETIKA `MEMBACA` JADI PENGALAMAN BATIN
 Sahabat-sahabat terkasih
Aktifitas membaca adalah kegiatan setiap hari dan rasanya mustahil hidup dijalani tanpa membaca. Dari membaca maka pengetahuan kita semakin bertambah dan pengetahuan memungkinkan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal diputuskan. Membaca tidak saja mengolah daya nalar tetapi sekaligus memberi ruang bagi kebijaksanaan. Apapun yang diserap sebagai bahan bacaan akan memberi warna bagi perilaku karena sejatinya membaca adalah jendela bagi pandangan menemukan arti dalam kehidupan. Itulah sebabnya Paulus menasihati Timotius bahwa jangan abaikan hikmat yang menuntun kepada keselamatan yang didapatkan melalui membaca kitab suci (2 Tim. 3: 15).
Pemazmur dalam hal ini hendak menunjukkan sisi lain dari perjalanan hidup yang menggumpal sebagai pengalaman iman. Pemazmur menunjukkan bahwa perjalan ziarah bukanlah sekedar perjalanan menunju Yerusalem. Perjalanan ziarah adalah perjalanan "membaca` seluruh karya Allah yang memberi pengakuan tentang besarnya pertolongan Tuhan. Dalam pengalaman iniah diperlihatkan bahwa berkat Tuhan bukan sedang dialami tetapi sudah dialami. Perjalanan ziarah lalu menjadi perjalanan yang diwarnai oleh beragam aktifitas seperti percakapan, nyanyian pujian, tawa dalam kegembiraan. Semua pengalaman iman yang dihayati selama ini dicurahkan sebagai narasi koletif tentang kebaikan Tuhan.
Sahabat-sahabat terkasih
Di sinilah puncak kesaksian tentang kebaikan Allah mendapat bentuknya yang istimewa sebab yang diutamakan bukan saja akal tetapi juga nurani. Mengakui karya Allah dengan nurani yang tajam membawa dampak pada cara memahami karya-Nya. Allah bertindak dan tindakan-Nya tak terselami oleh nalar saja tetapi juga dengan cara lain yakni mengendapkan seluruh pengamatan indra dalam diri. Di sinilah "membaca` semua peristiwa dimana kedaulatan Allah dinyatakan menjadi sebuah tradisi perenungan yang mendalam.
Dalam kehidupan modern yang sangat dipengaruhi oleh aliran positivistik dimana akal memainkan peran utama, maka memabca dengan nurani bisa disejajarkan dengan pemikiran Henry Bergson. Bahwa memahami selurh rangkaian peristiwa dalam hidup akan semakin bernilai ketika sisi lain dari penciptaan ditempatkan juga sebagai hal penting. Jadi bagaimana kita membaca Mazmur 127 ini? Bagaimana kita "membaca` dengan pendekatan sisi yang lain?
1. Pengalaman tentang rumah dan kota yang ditemoatkan dalam perspektif iman menjadi sesuatu yang bernilai ketika rumah dan kota dibaca dengan nurani. Kota dan rumah tidak saja merepresentasikan aspek fisik tetapi sekaligus meberi kedalaman makna bahwa tangan Tuhalah yang memungkinkannya terjaga aman. Kota dan rumah adalah rumah dimana seluruh gagasan tentang karya Allah melampau daya pikir manusia. Akal harus disejajarkan dengan nurani sehingga relasi tidak hanya berdasarkan relasi akal yang matematis dan dingin. Pengahayatan tentang karya Allah tidaklah berhenti dimulut saja tetapi menempati posisi penting diwujudkan. jika akal hanya berkutat dengan yang sifatnya empiris dan rasional maka nurani mengisi pengetahuan akal dengan yang sifatnya non empiris dan tidak rasional. Dalam hitung-hitungan akal sebuah "mata ganti mata` tetapi dalam nurani yang hakiki mengasihi adalah penting dan ini tidak masuk akal.
Jadi rumah kota bukanlah pengalaman indera semata namun menukik dalam batin yang mengembang indah pada kekaguman yang tak terkatakan tentang betapa baiknya Tuhan.
2. Anak-anak adalah generasi masa depan dan bukan itu saja tetapi sekaligus menunjukkan bahwa ruang dan waktu ada dalam kendali Allah. Kebahagiaan umat adalah kebahagiaan yang melampaui aspek fisik sebab pada generasi mendatang dapat pula "terbaca` bahwa keterlibatan Allah tidak berkurang. Maka seluruh ruang kehidupan menjadi "papan iman` yang menunjukkan bahwa dengan`membaca` maka nilai kehidupan yang berguna dalam peradaban adalah nilai yang berpijak pada setiap karya Allah.
Kehidupan kita selaku generasi yang lebih baik dari generasi lalu adalah generasi yang siap berhadapan dengan generasi yang lebih baik di masa depan. Bukankah ini sebuah kemampuan "membaca` yang hanya tertanam dalam penghayatan betapa baiknya Allah.
Sahabat-sahabat terkasih
Marilah kita mengasah kemampuan "membaca` kita sehingga setiap peristiwa tidak menjadi peritiwa menghakimi tetapi peristiwa tentang karya-Nya. Marilah kita mengolah kemampuan naluri, nurani dan imajinasi kita untuk semkain tajam menghati kesetiaan-Nya yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Perziarahan kehidupan kita adalah ruang dimana kita semua bisa "membaca` bahwa tindakan Allah tidak pernah berubah dan berlangsung lintas generasi.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita "membaca` karya kasih tidak sia-sia . Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|