Dibaca : 24794 x
$gkate="Catatan Refleksi"; ?> Catatan RefleksiSelasa, 21 Agustus 2012 PERTUMBUHAN KUALITAS SUAMI-ISTRI KRISTEN. (Bag.1)
Pendahuluan.
Hidup sebagai suami - istri dalam rumah tangga Kristen adalah persekutuan yang diberkati dengan arah dan tujuan yang Tuhan sendiri rencanakan. Suami-istri yang selalu berlajar dalam suasana yang mematangkan relasi mereka merupakan harapan yang ideal. Namun dalam perjalanan rumah tangga Kristen tidak sedikit tragedi terjadi.
Tragedi dalam rumah tangga Kristen adalah ketika suami-istri mengalami kemacetan dalam masa pertumbuhan. Ada tragedi lain yang tidak begitu dipublikasikan tetapi sama menyedihkan. Ini adalah perceraian secara psikologis, yaitu pasangan yang tetap hidup bersama tetapi komunikasi di antara mereka sedikit sekali. Hubungan suami istri hancur, de yure suami istri, de facto pernikahan mereka telah mati. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Penyebab bisa bermacam-macam, mulai dari suami yang memiliki WIL alias wanita idaman lain atau istri yang menggandrungi PIL alias Pria idaman lain sampai persoalan yang seolah menjadi langganan seperti bencana alam di negeri kita yakni masalah ekonomi atau materi. Pertumbuhan bukan hanya soal bertambah banyak, pertumbuhan bukan hanya sekedar bertumbuh, tetapi bertumbuh dan berbuah (Yoh 15 : 4). Jadi setiap suami istri Kristen yang mau bertumbuh dan berbuah syarat utama harus dalam Yesus Kristus. Seperti halnya berdoa ketika akan diakhiri selalu diucapkan "didalam nama Tuhan Yesus" untuk menyatakan bahwa doa ini bukan kehendak si pendoa tetapi doa terwujud hanya karena perkenan dari Tuhan Yesus. Belajar dari apa yang dituturkan oleh penulis Ibrani, paling tidak kita dapat belajar tiga hal supaya sebagai suami-istri kita mengalami pertumbuhan.
Pertama, Hidup saling mengasihi dan menghormati. Kasih adalah dasar dari suami-istri, oleh sebab itu mengasihi bukan hanya tugas seorang suami tetapi juga seorang istri (Titus 2:4-5). Perempuan diciptakan oleh Allah dengan tujuan menjadi penolong bagi laki-laki. Jadi istri adalah "penolong" bagi suami bukan penodong atau perongrong. Demikian pula dengan para suami harus mengasihi istri dengan tulus, jujur dan sungguh-sungguh. Didalam menanggung beban suami istri harus saling tolong menolong (Gal 6:2). Hidup tolong menolong adalah bukti bahwa orang itu saling mengasihi, seperti memberi tumpangan kepada yang membutuhkan dan memperhatikan orang hukuman dan orang yang diperlakukan sewenang-wenang ialah bukti dari kasih persaudaraan (Ibrani 13: 1-3) "brotherly love" is literally the Greek word (Philadelphia) it is composed of two root words phileo (tender affection) and adelphos (brother).
Mengasihi sesama bisa lebih mudah kalau tidak kenal tetapi kalau sudah kenal bagaimana bisa. Jeleknya ketahuan, kalau tidur ngorok ya ketahuan. Jadi sebenarnya untuk hidup dalam mengasihi sesama kelihatan sepele padahal susah, karena ya itu tadi ketahuan belangnya. Justru disini kekristenan menjadi berkualitas sebab yang dikasihi bukan orang sempurna. Suami istri tidak sempurna, mau yang sempurna ya boneka Barbie...sempurna bentuknya tapi mati. Jadi arti philadelphia adalah mengasihi dalam keadaan apa adanya.
Love Strangers (Exercise Hospitality) (v. 2) "Do not forget to entertain strangers, for by so doing some have unwittingly entertained angels." Our first responsibility is to our brothers and sisters in Christ, but our responsibility does not end there. The word translated "entertain" in the NKJV is (philoxenias) or "love of strangers." A stranger by definition is someone we do not know personally. Romans (12:13) Paul exhorts the believers to be "given to hospitality" or literally to "pursue hospitality." But I want to share again because I believe it has some powerful points to make about hospitality.
"Hospitality means being friendly to strangers, not just having friends over. Christian hospitality differs from social entertaining. Entertaining focuses on the host - the house has to be spotless; the food must be well prepared and abundant; the host must appear relaxed and good-natured.. Hospitality, in contrast, focuses on the guest. Their needs - whether for a place to stay, nourishing food, a listening ear, or acceptance - are the primary concern. Hospitality can happen in a messy home. It can happen around a dinner table where the main dish is canned soup. It can even happen when the host and the guest are doing chores together. Believers should not hesitate to offer hospitality just because they are too tired, too busy or not wealth enough to entertain."
Dengan melayani secara baik maka suami istri dimungkinkan untuk memberi yang terbaik. Hospitality adalah keramahan yang mucul dalam relasi suami istri. Melalui pelayanan dengan semangat HOSPITALITY, maka yang menjadi focus adalah pasangan. Keramahan seperti ini adalah keramahan yang dibangun dengan tulus dan tidak bersifat transaksional. Keramahan yang focus kepada pasangan adalah keramahan yang diwujudkan dengan pengosongan diri. Maka hospitality menjadi entertain - keramahan menjadi menghibur.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip :Arsip ..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |