Dibaca : 22552 x
$gkate="Catatan Refleksi"; ?> Catatan Refleksi08 September 2011 PROGRAM KERJA SEBUAH REALITAS HUBUNGAN DINAMIS ALLAH DAN GEREJA [1]
Pendahuluan.
Gereja sebagaisebuah lembaga dan komunitas orang percaya senantiasa berkomunikasi secaradinamis dengan realitas yang terus berubah. Perubahan yang dijumpai oleh Gerejamenjadi ruang untuk menyatakan keberadaan Gereja sebagai paguyuban yang hidupberdasarkan panggilan dan pengutusannya untuk mewartakan kabar sukacita secarakonsisten. Hal ini perlu menjadi dasar perhatian kita bersama ketika selakuanggota majelis jemaat kita hendak menyusun sebuah program kerja. Dewasa ini keberadaan gereja sebagaipersekutuan orang percaya diperhadapkan dengan tantangan yang semakin beragamkuantitas dan kualitasnya. Kenyataan ini menempatkan Gereja sebagai persekutuan yang harus memberijawaban kongkrit terhadap berbagai tantangan tersebut. Warga jemaat yangbertemu langsung dengan kenyataan adalah subyek yang harus bergumul. Pergumulanwarga jemaat ini memerlukan kelengkapan-kelengkapan teologis yang dapatdipertanggung-jawabkan. Maksudnya tanpa teologi yang benar maka yang terjadiadalah mengatasi persoalan dengan instan dan bertemu dengan persoalan baru.Dalam konteks inilah diperlukan kehadiran program kerja yangmelengkapi warga jemaat untuk dapat berkomunikasi dengan realitas tanpamenafikan identitas mereka sebagai orang percaya.
Bertolak daripemahaman di atas maka sebuah program kerja tidak hanya terdiri dari kegiatandan angka-angka tetapi memiliki dimensi lain yakni relasi vertikal yang menjadi"roh" dari program kerja tersebut. Artinya perhatian sebuah program kerja bukanhanya pada di hilir tetapi di hulu juga memberi pengaruh yang signifikan.Sebuah program kerja menjadi desain utama dari pemahaman kita tentang karya danketerlibatan Allah melalui Yesus Kristus sebagai Primal Dimension . Melalui pemikiran yang demikian maka paper initidak hanya berkisar di masalah praktis tetapi merupakan upaya praksis bagikita dalam memahami dan menghayati sebuah program kerja.
Untuk hal tersebut kita akan memperhatikan beberapa faktor penting untuk mengemassebuah program kerja yang aktual, moderat dan visioner sehingga program kerjasenantiasa memberi ruang bagi terjadinya transformasi pembangunan jemaat. Dari paparan diatas maka perludilaksanakan suatu pengembangan penyusunanprogram kerja yang berbasis padakonteks dalam mengantisipasi berbagai perubahan. Model yang memiliki determinasi teologi dan membukapeluang seperti dikemukakan Robert Schuller:
Every achievement is a process not aninstamatic happening
Apa yang dikemukan oleh Schuller adalah titik awalsuatu proses aktualisasi program yang sistematis dan terarah kepada pengembangan kemampuan setiap individu( baik presbiter maupun warga jemaat ).
I. PROGRAM KERJA BERBASIS VISI - MISI.
Program kerjamerupakan upaya serius dari para presbiter yang hendak mensistematisir kegiatandalam jemaat agar idealisme yang berpijak pada kenyataan dapat diwujudkansecara baik. Ketika visi - misi ditetapkan, hal tersebut memerlukan pendalamanyang serius sebab ketika visi - misi hanya pada tataran wacana maka seluruhupaya perwujudannya mengalami deviasi yang serius. Visi jauh melangkauikeinginan maupun mimpi, sebab jika visi memengaruhi eksistensi seseorang makaselalu ada harga yang harus dibayar dan militansi hingga akhir [2].Jika kita mengatakan bahwa visi - misi GPIB yang selaras dengan PKUPPG adalahMENJADI GEREJA YANG MEWUJUDKAN DAMAI SEJAHTERA ALLAH BAGI SELURUH CIPTAAN-NYA (bnd. Yoh. 14 : 27 ) maka kehadiran sebuah program kerja perlu mempertimbangkanteks di atas dalam konteks ke-kini-an. Sebuah telaah teologis perlu bergemadalam seluruh rangkaian program kerja supaya "harga yang harus dibayar" dan"militansi hingga akhir" dapat menjadi pemenuhan terhadap idealism yangberbasis realitas.
Teks Yohanes diawal pasal 14 berbicara tentang "kegelisahan" , yang dalam konteks masa kiniperlu dijawab oleh sebuah rencana pelayanan. Termaktub di dalamnya tekstersebut adalah pernyataan Yesus tentang keberadaan - Nya sebagai primaldimension. Jika hal ini menjadi perhatian dan dasar dari sebuah rencanapelayanan / program kerja maka visi yang dihadirkan selalu berkaitan denganmisi untuk merealisasikan kehendak Yesus sebagai Kepla Gereja. Maka perwujudanvisi - misi senantiasa perlu di jernihkan dari berbagai unsur yang akanmengaburkannya [3]. Gagasan demikian bertumpu pada : where are we now?, where do we want to be ?,how do we plan to get there ?, how close did we come to our destination andwhat is God calling us to be and do ? [4]. Melaluitahap - tahap yang demikian maka keberadaan warga jemaat di muara progam ataurencana pelayanan selalu mendapat ruang untuk terlibat didalam menjawabkegelisahan diri maupun persekutuan. Efektifitas sebuah program / rencanapelayanan dapat terukur dari : seberapa besar keterlibatan warga jemaat,seberapa besar sebuah perbedaan dapat diserap sebagai pemikiran yang baik danbenar , seberapa jauh warga jemaat beradaptasi dengan perubahan, seberapa dalamdapat dipercaya ( trust not believe ) dan seberapa besar program / rencanapelayanan " hidup " dalam aktifitas [5].
Berdasarkan pemikiran di atas makasebuah program / rencana pelayanan memerlukan pertemuan kebutuhan yang bersifatsinodal dan local dalam terang visi GPIB yang secara substansial memberi arahyang jelas dan dengan kritis dijalankan oleh setiap jemaat. Program / rencanapelayanan hadir dengan pemikiran yang orisinil dan menghadirkan kegiatan yangselalu aktual tanpa kehilangan identitas diri sebagai Gereja yang ada di dalamdunia tetapi bukan berasal dari dunia.
II. PROGRAM KERJA BERBASIS LINTAS BIDANG.
GPIB hadir dengan pemahaman yang menjadi kebijakan bersama dalam sebuahpersidangan yang dsebut sebagai bidang Missioner, bidang Institusional danbidang Pendukung. Melalui ke-3 pembidangan utama ini GPIB tidak menyatakanprogram / rencana pelayanan sebagai kegiatan yang parsial tetapi menyeluruh (komprehensif ). Richard E. Rushbultd mengemukakan bahwa faktor - faktor yangdapat membangun sinergi antar bidang ialah , Isu aktual apakah yang dapatmendorong atau menghambat jalannya sebuah program /rencana pelayanan, masalah utamaapakah yang mengemuka dan dapat menghambat pelaksanaan program serta apakahyang menjadi kebutuhan secara kolektif [6].Melalui pendapat yang dikemukakan oleh Rushbultd, kita dapat secara cermatmembangun desaian program / rencana pelayanan dengan pemahaman bahwa setiapBadan Pelaksana Majelis Jemaat (BPMJ ) tidak bersifat independent tetapiseluruh aktifitas BPMJ mengerucut pada kebijakan anggota Majelis Jemaat. Apayang hendak dijabarkan dalam kaitannya dengan program perlu diselaraskan denganisu - isu apakah yang sedang menjadi trend ( kecenderungan ). Setelah isu - isuaktual teridentifikasi maka perlu dicermati permasalahan apakah yang munculketika isu - isu aktual tersebut berhadapan dengan Gereja sehingga gagasan yangdituangkan dalam program kerja adalah gagasan dengan prinsip kebutuhan kolektifmaupun personal dalam terang kebutuhan secara vertikal. Ruang ini telahtersedia dalam pertemuan warga sidi jemaat yang menjadi ruang percakapantentang isu - isu aktual apakah yang ada dalam jemaat.
Melalui pendekatan demikian maka kehadiran sebuah program / rencanapelayanan kena mengena dengan realitas dan hadir dengan kekuatan yang terusdiperbarui. Sebagai contoh , kita perlu menggumuli pertanyaan berikut : adakahprogram / rencana pelayanan bidang kategorial ? atau program / rencanapelayanan yang ada ialah program / rencana pelayanan anggota majelis jemaatyang dilaksanakan oleh setiap Badan Pelaksana Majelis Jemaat ?
Program kerja yang memiliki basis pemahaman seperti diatas akan dipersiapkandengan serius untuk mencapai visi bersama baik pada tatara lokal maupunsinodal.
III. PROGRAM KERJA BERBASIS PADA REDUKSI ANTARA YANGIDEAL DAN AKTUAL.
Program /rencana pelayanan dibuat dengan asumsi seluruh kegiatan akan bermuara pada perubahan. Pada titik inilahseringkali dijumpai masalah krusial yakni ketika parameter perubahan belummenjadi perhatian. Maksudnya ialah perubahan sebagai sebuah peristiwa aktualbisa saja tidak terjadi dalam satu tahun program / rencana pelayanan dan halini tidak dapat diasumsikan sebagai sebuah kegagalan. Mengapa ? sebab padabagian tertentu dari program / rencana pelayanan , hasilnya akan nampak padasekian tahun kedepan. Hal ini berarti bahwa jarak antara yang ideal dan aktualtidak pernah berhimpit rapat.
Dalam konteksini maka faktor-faktor yang perlu diperhatikan ialah :
1. 1. senseof wonder dan sense of calling. Rasa takjub pada karya Allah yang terusberkarya akan menjadi motivasi dalam menjalankan sebuah kegiatan sehingga gaungdari rasa takjub tersebut akan berdampak pada panggilan dan pengutusanmerealisasikan sebuah kegiatan.
2. Jemaat yang bertumbuh danberbuah adalah arah dari sebuah kegiatan secara:
a.Kuantitatif = pergi, baptis, dan ajarkan(mat.28:19 -20) band. Kis. 1 : 15 dan
4:4, 6:7.
b.Kualitatif = mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar (Ef. 4 :13)
3. Pemeliharaan Allah ( Providentia Dei ),memperlihatkan bahwa melalui Gereja, Allah
berkarya menberitakan karya keselamatandi dalam Yesus dan melalui Roh Kudus, Allah
berkarya mendatangkan pengudusan danpenghiburan
lV. KESIMPULAN.
Sebuah program / rencana pelayanan senantiasa berkaitan dengan realitasyang terus berubah sebagaiman gereja bertemu dengan realitas tersebut. Relasidinamis inilah yang selalu memberi ruang bagi gereja untuk menyatakan hakekatpanggilan dan pengutusan dengan Yesus sebagai primal dimension. Dalam konteksyang demkian maka keberadaan sebuah program kerja tidak akan menafikanperubahan disekitar gereja tetapi menggunakan perubahan tersebut sebagi energyuntuk berkarya.
Menjadi kewajiban kita bersama selaku anggota presbiter untuk melihatsebuah program kerja tidak hanya pada dirinya sendiri ( an sich ) tetapi jugamempertimbangkan berbagai faktor yang ada disekitarnya sebagai suatu realitas.Maju terus bersama Yesus sebab dalam persekutuan dengan - Nya , jerih lelahkita tidak sia - sia
[1]Disampaikan dalam pembinaan PHMJ GPIB Mupel Bekasi, 5 Februari 2011.
[2]Norman Shawchuck, Revitalizing The 21th Century Church ( Moody Press, Chicago,1982 ) 15.
[3]Ibid , p. 20.
[4]Ibid, p. 19.
[5]Thomas A. Bateman, Scott A. Snell, Management, Buliding Competitive Adventage,( Irwin Inc, Boston, USA, 1996 ), 142.
[6]Richard E. Rushbultd, Key Steps in Local Church Planning, ( Judson Press, ValleyForge, PA, 1980 ) , 50.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip :Arsip ..
Last Searches:
Kategori Utama: Artikel (52), Catatan Refleksi (85), Download Materi (2), Khotbah (316), Photo Keluarga (44), xx (2) |